PPI TUNISIA

Konstruksi Kemanusiaan Dalam Perspektif Teologi Islam

Penulis: (Hendro Alfansyah Huluk, Mahasiswa S1 Universitas Zaitunah, Tunis)

Sejatinya, Islam bukanlah agama yang memberikan ajaran pada aspek teosentris saja. Objek ajaran Islam itu sendiri, yaitu seluruh umat manusia. Maka, Syekh Thohir Ibnu ‘Asyur dalam  karyanya yang berjudul “Pranata Tatanan Sosial” berkata, bahwa turunnya agama di muka bumi ini sebagai penjaga tatanan sosial. Sepak terjang yang dialami oleh Islam untuk menyentuh objeknya tersebut, menghasilkan sebuah konsekuensi berupa dialektika dengan berbagai persoalan kemanusiaan.

Fenomena historis mencuat mengenai perdebatan teologis yang cukup sengit dalam diskursus agama Islam. Dalam perdebatan ini, para Mutakallimin mendapat tuaian tajam dari kalangan cendekiawan Muslim kontemporer, karena dipandang tidak mampu lagi menampung jawaban permasalahan yang bersifat antroposentris. Maka dari itu, dalam hal ini, para Mutakallimin yang notabenenya sebagai pelopor wacana ketuhanan yang menjadi salah satu tema pokok dalam diskusi keagamaan Islam, juga ikut membumi dalam pembahasan wacana-wacana antroposentris di dalam kacamata teologi.

Alasan yang konkrit mengenai hal tersebut, teologi yang selama ini dipelajari hanya berbicara mengenai persoalan ketuhanan dan hal-hal gaib (teosentris dan mistisme) dan hampir tidak pernah berbicara akan persoalan kemanusiaan (antroposentris). Melalui keresahan ini, muncullah wacana baru yang menggagas pembahasannya ke dalam ranah kemanusiaan, yaitu Teologi Sosial. Harapannya, ia mampu menjadi solusi atas problem kemanusiaan yang marak saat ini, semisal ketidakadilan, kekerasan, terorisme, dan sebagainya, khususnya yang termasuk dalam pelanggaran hak-hak asasi kemanusiaan.

Sejak masa Rasulullah SAW hingga setelahnya, berbagai permasalahan muncul mengenai ketuhanan (teologi). Puncak permasalahan pada hal ini, yaitu ketika masa Kekhalifahan Utsman bin ‘Affan, hingga dikenal dengan “Masa Fitnah”. Ketika masa tersebut, para sahabat saling beradu argumen mengenai hakikat, sifat, atau dzat Tuhan dan sebagainya, hingga muncul justifikasi antara salah dan benar yang mengakibatkan pecahnya persatuan yang dinaungi dalam pembahasan teologi. Perdebatan ini kemudian menggema dan menjadi persoalan pelik dalam sejarah pemikiran Islam. Sehingga memunculkan berbagai macam sekte-sekte Teologis yang saling beradu argumen membela kayakinannya.

Mengenai Agama, terdapat hal yang tidak dapat disangkal. Perlu diketahui bahwa agama merupakan bagian dari kehidupan yang dinikmati tidak hanya oleh pribadi melainkan juga kelompok atau sosial. Perannya sebagai petunjuk (hudan) bagi setiap pemeluknya menjadi satu modal utama atas eksistensinya yang dibutuhkan hingga saat ini. Islam menurut Pemeluknya, merupakan syari’at yang sudah sempurna semenjak turunya wahyu terakhir kepada Rasulullah SAW. Juga, sebagai pedoman hidup yang mengatur berbagai macam dimensi, baik secara umum maupun detail, supaya manusia tidak salah tempat dan tidak tersesat untuk menuju jalan yang benar.

Meski Islam telah sempurna, namun bukan berarti perkembangan pemikiran keislaman berhenti pada saat setelah wahyu itu turun. Ia berkembang seiring perkembangan zaman melalui hasil dialektika fitrahnya yaitu akal. Maka dari itu, menurut Murtadha Muthahhari, seorang filsuf dan teolog Islam yang sangat berpengaruh di Iran, ia mengungkapkan bahwasannya konstruksi kemanusiaan harus dijadikan perspektif yang unik dan mendalam untuk menggabungkan antara ajaran Islam dengan Filsafat. Terkait manusia, menurutnya, merupakan makhluk yang kompleks dan multidimensional. Maka, ia pun mengemukakan sebuah aspek penting dalam konstruksi kemanusiaan.

Pertama, manusia merupakan makhluk spiritual. Dengan hal ini, Muthahhari berpendapat bahwa manusia memiliki hubungan langsung dengan Tuhan, serta jiwanya merupakan bagian dari dunia rohani yang memiliki potensi untuk mencapai kesempurnaan.

Kedua, manusia merupakan makhluk sosial. Mengenai hal ini, ia mengungkapkan bahwasannya manusia membutuhkan interaksi dengan sesamanya, karena kebahagiaan dan perkembangan manusia tidak dapat terpisahkan dari kehidupan bermasyarakat sebagaimana yang dikatakan dalam kitab suci umat Islam, yaitu al-Quran, yang berbunyi:

اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗوَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا

Artinya:”Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Masjidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai.” (QS. Al-Isra: 7)

Ketiga, manusia merupakan khalifah di muka bumi. Dengan ini, Manusia memiliki tanggung jawab untuk mengelola bumi dan segala isinya. Namun, tanggung jawab ini harus dijalankan dengan bijak dan sesuai dengan kehendak Tuhan sebagai mana yang dikatakan dalam Al-quran

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً ۖ قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۖ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.” (QS. Al Baqarah: 30).
           

Kemudian, Muthahhari membagi dimensi kemanusiaan menjadi beberapa aspek. Pertama, yaitu Biologis, dimana manusia memiliki tubuh yang membutuhkan perawatan dan pemeliharaan. Kedua, yaitu Psikologis, dimana manusia memiliki jiwa yang kompleks dengan berbagai emosi dan keinginan. Ketiga, yaitu Sosial, sejatinya manusia hidup dalam masyarakat dan berinteraksi dengan orang lain. Keempat, yaitu Spiritual, dimana manusia memiliki hubungan yang erat dengan Tuhan dan memiliki potensi untuk mencapai kesempurnaan rohani.

Selanjutnya, salah satu konsep penting yang diutarakan oleh Muthahhari adalah Insan Kamil atau manusia sempurna. Insan Kamil adalah manusia yang telah mencapai puncak kesempurnaan spiritual dan moral. Ia adalah teladan bagi manusia lainnya. Implikasinya,  menurut Muthahhari, berpengaruh terhadap aspek yang lebih luas, baik dari segi pendidikan, politik, ekonomi, dan agama.

Pendidikan harus diarahkan untuk membentuk manusia yang seimbang, yaitu cerdas, berakhlak mulia, dan beriman. Politik harus didasarkan pada nilai-nilai keadilan, persamaan, dan kebebasan. Ekonomi harus diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia dan menciptakan kesejahteraan sosial. Dan Agama harus menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk berbuat baik.

Maka dari itu, menurut Murtadha Muthahhari, konstruksi kemanusiaan adalah sebuah pandangan yang holistik dan mendalam. Pemikirannya memberikan kita pemahaman yang lebih baik tentang siapa kita sebagai manusia dan apa tujuan hidup kita. Tuntutan spiritualitas penting juga untuk dimunculkan pada hal ini, karena pengaruhnya yang sangat besar terhadap moralitas kehidupan manusia.

Maka, bisa disimpulkan bahwa sepak terjang dalam pemikiran Islam dari dulu hingga kini, memiliki transformasi. Paparan di atas telah menyertakan salah satu yang bertransformasi akan hal tersebut. Dimana awal mula persoalan Teologi, memiliki fokus pembahasan terhadap ketuhanan, hingga bergeser kepada pembahasan makhluk yang diciptakan oleh Tuhan. Tentunya ini melalui pemahaman atas kondisi dan zaman dimana bumi dipijak. Tentunya wacana ini, jika terimplementasikan, akan membawa angin segar bagi seluruh peradaban manusia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *