
Penulis: Mohammad Husnul Labieb (Mahasiswa S1 Universitas az-Zaitunah, Tunisia)
Teringat akan pemikiran René Descartes, filsuf Prancis yang mengatakan, “Cogito Ergo Sum”,”Aku
berpikir, maka aku ada.” Baginya, berpikir adalah bukti keberadaan manusia. Jika seseorang tidak
berpikir, apakah ia masih bisa dikatakan “ada”?
Gagasan ini menjadi dasar rasionalisme, di mana akal (reason) dianggap sebagai alat utama untuk
memahami dunia. Pada masa itu, pengetahuan diperoleh melalui proses berpikir logis dan
analisis mendalam.
Namun, zaman terus berkembang. Hari ini, kita hidup di era internet, di mana informasi tidak lagi
hanya diperoleh dengan berpikir panjang, tetapi juga dengan klik, sebuah akses instan ke dunia
pengetahuan. Dalam dunia digital ini, keberadaan seseorang sering kali diukur dari jejaknya di
gagasan baru: “Premo Ergo Sum”, “Aku klik, maka aku ada.”
Di era ini, berpikir tidak lagi menjadi satu-satunya cara untuk menemukan kebenaran. Algoritma,
media sosial, dan mesin pencari sering kali menggantikan proses berpikir kritis dengan hasil
instan. Pertanyaannya, apakah ini menjadikan kita lebih “ada” atau justru semakin kehilangan
identitas?
Perubahan ini mengajarkan bahwa meskipun internet memudahkan akses informasi, kita tetap
perlu menggunakan akal untuk memilah mana yang benar dan mana yang sekadar ilusi digital.
Karena tanpa berpikir, kita mungkin ada di dunia maya, tetapi apakah kita benar-benar ada
sebagai individu yang sadar?
Bertepatan dengan bulan ramadan, yang berarti juga bulannya puasa bagi umat islam. Puasa
merupakan ritual universal dan tradisi yang paling banyak diikuti oleh manusia dengan latar
agama dan kepercayaan yang beragam. Bagi muslim sendiri, Ramadan adalah bulan yang suci;
yang dimana setiap muslim diwajibkan menahan diri dari lapar dan dahaga, begitupun dari
berbagai hal yang dapat merusak ibadah, termasuk perilaku.
Seiring berkembangnya zaman, tradisi puasa kini menghadapi tantangan dan realitas baru di era
digital. Teknologi dan kemajuan komunikasi global telah mengubah cara seseorang berinteraksi,
berkomunikasi, dan bahkan memandang kehidupan spiritual. Keberadaan dunia digital yang
serba instan dan terhubung memberi dampak besar terhadap cara menjalani puasa. Sebab itu,
Perlukah kita juga “Puasa Dunia Maya” selama ramadan?
“Puasa dunia maya” bisa diartikan sebagai mengurangi atau membatasi penggunaan media
sosial, internet, dan konsumsi digital lainnya selama bulan Ramadan. Ini bukan berarti kita harus
sepenuhnya meninggalkan teknologi, tetapi lebih kepada menahan diri dari konten-konten yang
tidak bermanfaat.