
Penulis: Aqila Rahma Nayyara (Mahasiswi S1 Universitas Manouba, Manouba)
Tunis, 5 Agustus 2025 – Isu kemanusiaan di Palestina kembali menjadi sorotan dalam acara sharing session yang menghadirkan dua organisasi kemanusiaan terkemuka, yaitu Aqsa Working Group (AWG) dan International Networking for Humanitarian (INH). Acara ini diselenggarakan oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia, bertempat di Sekretariat PPI Tunisia.
Acara ini menghadirkan sejumlah pembicara dari kedua lembaga tersebut, di antaranya: Ahmad Tasori (Aktivis INH), M. Hadyan Abshar (Program Manager INH), Farid Zanzabil Al Ayubi (Aktivis AWG), dan Rifa Berliana Arifin (Presidium AWG).
Dihadiri oleh puluhan mahasiswa Indonesia di Tunisia, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik—khususnya generasi muda—terhadap krisis kemanusiaan yang tengah berlangsung di Palestina. Selain itu, acara ini juga mendorong lahirnya aksi solidaritas nyata dari masyarakat Indonesia.
“Krisis di Gaza bukan sekadar masalah umat atau agama. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk menyuarakan keadilan dan membela hak asasi manusia. Setiap negara berhak mendapatkan kemerdekaannya,” ujar Ahmad Tasori—sebuah pernyataan yang sangat dalam maknanya.
Melalui sesi ini, para peserta kembali disadarkan akan pentingnya mensyukuri dan memahami arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya.
Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 pada 17 Agustus 2025, INH juga berencana mengadakan berbagai lomba tradisional khas Indonesia untuk masyarakat di Gaza.
Rencananya, kegiatan tersebut akan mencakup berbagai lomba rakyat seperti balap karung, tarik tambang, dan makan kerupuk, yang akan dikemas dengan nuansa budaya Indonesia dan semangat perjuangan. Ini menjadi simbol bahwa solidaritas tidak hanya berupa sumbangan atau dukungan materi, tapi juga melalui semangat dan kehadiran.
Selain membahas isu krisis kemanusiaan yang tengah terjadi di Gaza, para pembicara juga membagikan kisah nyata dan pengalaman pribadi mereka saat terjun langsung membantu masyarakat di wilayah tersebut. Dengan tekad yang kuat dan semangat kemanusiaan yang tinggi, mereka rela mempertaruhkan keselamatan demi menyalurkan bantuan kepada warga Gaza yang membutuhkan.
Tanpa gentar, mereka menghadapi situasi yang penuh risiko—berhadapan langsung dengan tentara bersenjata, bom-bom yang melayang di udara, hingga ledakan yang bisa terjadi kapan saja. Pengalaman-pengalaman tersebut mereka jalani bukan dengan rasa takut, melainkan dengan keyakinan bahwa setiap langkah kecil yang mereka ambil adalah bagian dari perjuangan untuk membela kemanusiaan.
Keempat narasumber juga memaparkan fakta-fakta lapangan dan kondisi nyata yang mereka saksikan sendiri: tentang warga sipil yang hidup di bawah tekanan, keterbatasan akses terhadap makanan, air bersih, dan layanan kesehatan.
Mereka menyampaikan bahwa krisis kemanusiaan di Gaza bukan hanya sekadar angka dan berita di layar televisi ataupun media sosial. Ini adalah kenyataan pahit yang terjadi setiap hari—yang seharusnya menggugah nurani dunia untuk bertindak.
Setelah pemaparan materi dan sharing-sharing pengalaman dari para pembicara, acara dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan diskusi terbuka yang disambut sangat antusias oleh para mahasiswa PPI Tunisia. Berbagai pertanyaan muncul, seperti:
“Mengapa genosida ini tidak pernah berhenti?”
“Bagaimana ini semua bisa terjadi?”
“Mengapa dunia seolah diam dan tidak menghentikannya?”
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi refleksi dari keresahan mendalam generasi muda yang mulai sadar bahwa konflik ini bukan hanya tentang perebutan wilayah, melainkan pelanggaran hak asasi manusia secara terang-terangan yang terus berlangsung di depan mata dunia.
Menanggapi hal tersebut, Farid Zanzabil Al Ayubi, mahasiswa asal Indonesia yang kini menempuh studi di Universitas Islam Gaza sekaligus aktivis AWG, menjawab dengan penuh empati:
“Tidak ada yang benar-benar tahu bagaimana masa depan Gaza. Tapi satu hal yang pasti, selama kita masih memiliki hati nurani, kita tidak boleh diam. Kita harus terus bersuara, terus membela, dan terus menegakkan keadilan.”
Acara sharing session ini ditutup dengan pemberian buku karya AWG berjudul “Masjidil Aqsha: Tanggung Jawab Seluruh Umat Islam”, serta seruan untuk terus bersuara demi keadilan bagi rakyat Palestina.
Melalui kegiatan seperti ini, diharapkan empati dan solidaritas masyarakat Indonesia—khususnya generasi muda—dapat terus tumbuh. Tidak hanya dalam bentuk simpati, tetapi juga dalam aksi nyata yang berkelanjutan. Sebab, di tengah konflik dan ketidakadilan yang terus berlangsung, suara-suara kecil dari berbagai penjuru dunia dapat menjadi kekuatan besar untuk menyalakan kembali harapan.