PPI TUNISIA

Babak Baru Marginalisasi Tuhan

Penulis: Alfian Danar Syaqofi (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Kairouan)

Komunitas PPI Tunisia – Jika diibaratkan sebagai gugusan sekuel, dunia hari ini tengah memasuki episode baru dalam relasinya dengan Tuhan. Pada masa lalu, manusia memandang hampir setiap peristiwa sebagai bagian dari kehendak dan pengawasan ilahi. Bencana alam, kelahiran, kematian, bahkan perubahan musim dimaknai sebagai tanda-tanda kehadiran Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, seiring berkembangnya peradaban dan ilmu pengetahuan, cara pandang tersebut perlahan berubah. Segala sesuatu kini seakan memiliki penjelasan rasional, terukur, dan dapat dirumuskan secara ilmiah. Pertanyaannya kemudian, apakah ini merupakan tanda kemajuan umat manusia, atau justru kemunduran dalam hal iman?

Ketika segala fenomena mampu dijelaskan, yang muncul bukan hanya pengetahuan, tetapi juga rasa cukup, rasa tahu, bahkan keangkuhan. Manusia mulai merasa tidak lagi memerlukan sesuatu yang lebih tinggi dari dirinya. Tuhan, yang dahulu menjadi pusat makna, perlahan digeser ke pinggir kesadaran. Padahal, pengetahuan yang menjadi kebanggaan manusia hari ini sejatinya lahir dari satu kata, yaitu ilmu. Ironisnya, dalam tradisi Islam, Al ‘Alim—Yang Maha Mengetahui—hanyalah satu dari 99 nama Tuhan. Jika manusia hanya mampu mengimplementasikan satu sifat Tuhan dari sekian banyak sifat-Nya, apakah sudah pantas bersikap pongah, apalagi enggan untuk menyembah-Nya? Mempercayai Tuhan sejatinya tidak pernah menghalangi langkah manusia untuk maju, bahkan untuk menjejakkan kaki di bulan.

Masalah mendasar hari ini bukan terletak pada konflik antara iman dan sains, melainkan pada cara manusia memposisikan Tuhan. Tuhan seharusnya tidak hanya dipahami sebagai objek keimanan personal, tetapi sebagai elemen sentral dalam struktur sosial dan tatanan makna. Namun dalam realitas modern, kehadiran-Nya kian dianggap tidak relevan secara intelektual. Agama tidak lagi dijadikan dasar pengetahuan ilmiah maupun moral secara rasional. Akibatnya, Tuhan tersingkir dari ruang publik dan diskursus akademik, meskipun masih dipertahankan secara simbolik dalam ritual dan tradisi.

Inilah yang disebut sebagai marginalisasi Tuhan, sebuah fase ketika manusia tidak lagi berpijak pada pandangan teosentris, melainkan beralih ke antroposentrisme, keyakinan bahwa manusia adalah pusat dari segala sesuatu. Marginalisasi Tuhan bukan sekadar soal berkurangnya jumlah orang beragama, tetapi menyangkut pergeseran paradigma besar tentang cara manusia memandang dunia, memahami dirinya sendiri, dan menentukan tujuan hidup. Tuhan tidak lagi berada di pusat, melainkan di pinggir, atau bahkan di luar batas perbincangan intelektual.

Pergeseran ini juga memengaruhi cara agama dipahami. Agama yang seharusnya menjadi fondasi kehidupan individu dan sosial, kini sering direduksi menjadi sekadar warisan budaya yang patut dilestarikan, bukan kebenaran yang harus dihidupi. Peter L. Berger, seorang sosiolog agama terkemuka, pernah menyatakan bahwa dunia modern sejatinya tidak sepenuhnya sekuler,  banyak masyarakat justru dipenuhi gairah keagamaan. Namun di sisi lain, tumbuh pula kelompok masyarakat yang enggan terikat pada agama atau bahkan menolak keberadaan Tuhan sama sekali. Kelompok ini sering disebut sebagai ateis atau non-religius.

Menariknya, penelitian Phil Zuckerman yang dibukukan dalam Society Without God menghadirkan fakta yang tampak paradoksal. Negara-negara Skandinavia dengan tingkat ateisme yang tinggi justru memiliki angka kriminalitas dan korupsi yang relatif rendah. Temuan ini mengguncang asumsi klasik bahwa agama adalah satu-satunya fondasi moralitas sosial. Fakta tersebut memunculkan pertanyaan kritis, jika masyarakat tanpa Tuhan mampu menjaga tatanan sosial dengan baik, di manakah letak kegagalan masyarakat yang mengklaim diri religius?

Pertanyaan ini semakin relevan ketika melihat negara-negara yang dikenal sebagai basis pemeluk agama terbesar di dunia, namun justru sarat dengan persoalan korupsi, ketidakadilan, dan rendahnya disiplin sosial. Nilai-nilai religius sering dikumandangkan, ayat-ayat suci dijadikan alat legitimasi, tetapi perilaku sehari-hari jauh dari ajaran agama itu sendiri. Di sinilah muncul ironi besar, agama tidak kehilangan citranya karena diserang dari luar, melainkan karena diabaikan oleh para penganutnya sendiri.

Banyak orang beragama hari ini memandang agama semata sebagai sarana mencari ketenangan atas ketidaktahuan akan kehidupan setelah mati. Padahal agama tidak hanya berbicara tentang surga dan neraka, tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang berakhlak mulia terhadap sesama dan seluruh makhluk. Ketidakmampuan memahami firman Tuhan secara utuh melahirkan penafsiran sempit dan persepsi liar. Agama pun tereduksi menjadi alat menghakimi, bukan sarana mengasihi.

Narasi keagamaan sering disederhanakan menjadi logika transaksional. seperti berbuat baik demi surga, berbuat buruk mendapatkan neraka. Manusia lupa bahwa hanya Tuhan yang berhak menilai. Lebih parah lagi, sebagian manusia justru mendahului kehendak-Nya. Menghakimi, memvonis, dan mengklaim kebenaran absolut tanpa nasihat dan kasih. Mereka seakan lupa bahwa dunia ini adalah tempat Adam menjalani hukuman setelah melanggar perintah Tuhan, namun di dunia yang sama, sekelompok manusia justru berlagak sebagai Tuhan, menentukan siapa ahli surga dan siapa ahli neraka.

Pada titik inilah marginalisasi Tuhan mencapai babak paling ironis. Tuhan masih disebut, tetapi nilai-Nya tidak dihidupi. Ia dipuja dalam simbol, namun disingkirkan dalam praktik. Jika kondisi ini terus dibiarkan, bukan hanya Tuhan yang termarginalkan, tetapi juga kemanusiaan itu sendiri. Pada akhirnya, marginalisasi Tuhan bukanlah tentang hilangnya nama-Nya dari lidah manusia, melainkan tentang menjauhnya nilai-Nya dari cara manusia berpikir dan bertindak. Ketika Tuhan hanya hadir dalam ritual, tetapi absen dalam kejujuran, keadilan, dan kasih, maka agama kehilangan daya transformatifnya. Refleksi ini seharusnya mengajak manusia untuk kembali menempatkan Tuhan bukan sebagai lawan kemajuan, melainkan sebagai sumber makna yang menuntun ilmu, etika, dan kemanusiaan agar tidak kehilangan arah dalam hiruk-pikuk zaman.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *