PPI TUNISIA

Adakan Seminar Milad PPI Tunisia: Menyingkap Agama dan Kemanusiaan dalam Kacamata Pemikir Tunis

Pada Festival Milad PPI Tunisia yang ke-30 ini, menyelenggarakan seminar ilmiah bertemakan agama dan kemanusiaan. Acara ini berlangsung pada hari Minggu, (25/2/2024) di aula Mudarraj Ibnu Khaldun, Fakultas Ushuluddin, Universitas Az-Zaitunah, Tunisia.

Seminar ini menjadi sorotan utama dengan mengundang tiga pemateri senior, yang merupakan mahasiswa Indonesia di Tunisia. Salah satunya adalah Muhammad Irfan Maulana, Mahasiswa Strata 2 (S2), Universitas Az-Zaitunah, yang juga merupakan mantan Ketua PPI Tunisia periode 2022-2023.

Muhammad Irfan Maulana mengambil inisiatif dengan membahas tema Menyingkap Agama dan Kemanusiaan dalam Kacamata Pemikir Tunis. Dalam paparannya, Irfan mengawali dengan menyampaikan pemahaman bahwa dalam Islam sering kali kita mendengar pernyataan, “aku bermanfaat, aku ada ,” yang merujuk pada ungkapan bahasa Arab, “Khairunnas anfa’uhum linnas.” Sebagai landasan awal pentingnya memahami makna kemanusiaan dalam Islam.

Pemaparan Irfan Maulana ini menjadi sorotan utama peserta seminar, dengan analisanya terhadap pandangan pemikir Tunis mengenai agama dan kemanusiaan. Irfan Maulana menyoroti beberapa pemikir Tunis, diantaranya Ibnu Khaldun, Muhammad Thahir bin Asyur, al-Tsa’laby, Thahir Haddad, Thalby, Oulfa Youssef, Youssef Siddieq dan Naji Jahlawy.

Dalam hal ini Ia lebih banyak menyoroti pemikiran Thahir bin Asyur yang tertulis di salah satu kitabnya, Maqhasid asy-Syari’ah al-Islamiyah bahwa “Tujuan Umum Syari’ah Islam itu adalah untuk menjaga tatanan dunia dan melestarikan kemaslahatannya dengan memperbaiki orang yang mengelolanya, yaitu manusia” ujar Irfan.

“saya melihat dari kacamata Ibnu Asyur bahwa ada empat komponen dasar agama yang menjadikannya hadir untuk kemanusiaan, yaitu fitrah, berupa prinsip-prinsip yang dibawa oleh islam sesuai fitrah manusia. Yang kedua Samahat (toleransi), yang ketiga Hurriyah wal al-al-Musawat (kebebasan dan kesetaraan) dan yang ke empat adalah Hukukul Insan (hak-hak manusia)” tambahnya.

“Pada lambang Republik Tunisia terdapat tiga komponen yang menjadi sandaran dasar masyarakat Tunisia, yaitu Nidzam(Aturan), Hurriyah(kebebasan), dan Adalah(keadilan)” ungkap Irfan.

Hal ini senada dengan ungkapan Syaikh Thahir bin Asyur di atas, membuktikan bahwa para pendiri tokoh-tokoh bangsa Tunisia telah benar memikirkan terlebih dahulu mengenai agama dan kemanusiaan walau pada realitanya belum terimplementasikan dalam amaliah masyarakat Tunis, sependek pengetahuan penulis.

Di akhir statementnya “Dari awal diciptakannya Nabi Adam sampai sekarang, kemanusiaan itu adalah tentang kita, kepedulian, ketulusan membantu orang lain. Dalam artian harus selalu dipupuk, kemudian agama itu adalah fitrah, tentang hati nurani, bahwa semua manusia pasti sepakat bahwasanya keadilan adalah sesuatu hal yang baik. Artinya kita sebagai generasi masa depan perlu membaca semua persoalan dari persfektif kemanusiaan, sehingga kita menjadi generasi pembangun bukan generasi penghancur, kita harus mengkaitkan segala ajaran yang kita punya dengan konsep yang ada sehingga ajaran-ajaran keagaman yang melamgit mampu diinterpretasikan dalam persfektif bumi, yakni mampu memberikan manfaatnya untuk sesama” pungkasnya.

Sebagai ajakan kepada mahasiswa Indonesia yang berada di Tunisia untuk tidak hanya mencukupkan bacaan perspektif kemanusiaan pada beberapa bacaan, namun harus membaca lebih banyak lagi perspektif persoalan kemananusiaan. Ia juga mengingatkan bahwa para mahasiswa harus betul-betul menyiapkan diri nantinya untuk menjadi generasi pembangun, bukan penghancur.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *