PPI TUNISIA

KBRI Tunis Gelar Workshop Menjadi Sarjana Muslim untuk Mahasiswa Pascasarjana Se-Timur-Tengah bersama Profesor Mun’im Sirry

Oleh : Muhammad Robith Marzuban

Dalam rangkaian Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-79, KBRI Tunis bekerjasama dengan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI Tunisia), Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU Tunisia) dan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM Tunisia) menggelar workshop “Menjadi Sarjana Muslim”, yang disampaikan langsung oleh Profesor Mun’im Sirry, Guru Besar Studi al-Quran dan Hubungan Antar-Agama, Sekolah Teologi Universitas Notre Dame, Indiana, Amerika Serikat.

Kegiatan ini diikuti mahasiswa pascasarjana se-Timur-Tengah juga para mahasiswa yang berminat menimba ilmu langsung kepada Profesor Mun’im Sirry. Kegiatan ini dilaksanakan setiap hari Sabtu sebanyak lima kali pertemuan. Bapak Zuhairi Misrawi selaku Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia memandu langsung kegiatan tersebut sebagai moderator.

Kegiatan ini direncanakan berlangsung selama 5 kali pertemuan dengan tema-tema besar: Mengenal dan mempraktekkan Berfikir Kritis, Metode dan Teori dalam Kesarjanaan Islam Mutakhir, Kesadaran Epistemologis dan Kepekaan Historis, Hal-Hal yang Harus Dihindari seorang Sarjana, dan Mengembangkan Gagasan dalam Tulisan Akademik. Peserta kegiatan tersebut dari berbagai kampus se-Timur-Tengah, di antaranya: Tunisia, Mesir, Uni Emerat Arab, Suriah, dan beberapa kampus di Eropa dan Tanah Air. Dubes Zuhairi Misrawi menegaskan, bahwa mahasiswa Timur-Tengah harus menjadi sarjana Muslim yang mumpuni.

“Kami mempunyai mimpi agar para mahasiswa Timur-Tengah menjadi sarjana yang mumpuni dan dapat menyumbangkan pemikiran konstruktif dalam rangka membangun peradaban Indonesia. Sebab itu, mereka harus menguasai metodologi dan teori kesarjaan dari Guru Besar yang berkiprah di kampus Amerika Serikat, sahabat saya, Profesor Mun’im Sirry”, ujar Dubes RI lulusan Universitas al-Azhar Kairo Mesir itu.

Sementara Profesor Mun’im Sirry dalam presentasinya menegaskan, bahwa menjadi sarjana membutuhkan kerja keras dan belajar sungguh-sungguh, serta dipandu tradisi kesarjanaan yang kokoh.

“Belajar dan mengajar di Barat, memberikan inspirasi, bahwa seorang sarjana dipandu dengan tradisi dan budaya kesarjanaan yang kokoh. Sebab itu, Mahasiswa Timur-Tengah harus mempunyai wawasan kesarjanaan, sehingga nantinya dapat memperkaya khazanah keislaman kontemporer”, ujar Guru Besar Notre Dame kelahiran Sumenep Madura ini.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *