
Identitas dan jati diri mahasiswa, tentulah patut dipertanggungjawabkan. Ada adagium Arab yang berbunyi: “لقد غرس من قبلنا فأكلنا ونغرس نحن ليأكل من بعدنا” yang maksudnya adalah telah ada seseorang yang menanam suatu benih kesejahteraan hingga kita sekarang menikmatinya, dan kita sekarang tentulah dituntut untuk menjaga kesejahteraan itu agar eksistensinya selalu dinikmati oleh generasi selanjutnya secara berkelanjutan.
Penting untuk mengetahui siapa yang pertama kali menanam benih kesejahteraan ini kemudian memahami kondisinya secara kontekstual yang mengantarkan kita kepada bagaimana kita bersikap dan bertindak di era sekarang. Kita beri parameter akan hal ini pada ruang lingkup kemahasiswaan Indonesia.
Mahasiswa secara inheren akan identitasnya memiliki jati diri yang mau belajar. Kita sekarang ini sedang menikmati kesejahteraan dalam proses belajar. Kesejahteraan ini bukan semata-mata instant terjadi, melainkan melalui proses panjang yang tergopoh-gopah.
Kesejahteraan belajar seorang mahasiswa Indonesia bergantung pada kesejahteraan Indonesia itu sendiri. Maka, tak heran jikalau para mahasiswa pra kemerdekaan sangat menjunjung kesejahteraan Indonesia demi seluruh rakyat Indonesia merasakan proses belajar yang sejahtera.
Tokoh yang memperjuangkan akan hal ini banyak sekali. Tiga diantara mereka adalah Dr. Tjipto Mangunkusumo, Douwes Dekker, dan Ki Hadjar Dewantara. Mereka sangat memainkan peran penting di kalangan mahasiswa supaya dalam hati dan benak mereka tergerak jiwa menuntut kebebasan dengan menyebarkan ide dan gagasan revolusioner.
Karena besarnya pengaruh mereka terhadap rakyat Indonesia, Gubernur Jenderal Idenburg tidak menyukai mereka hingga akhirnya mereka diasingkan dari rakyat Indonesia dengan dibuangnya mereka ke negeri Belanda pada tahun 1913. Bersamaan dengan kedatangan ketiga pemimpin Indische Partij itu ke Belanda, masuk pula konsep “Indie los van Nederland” (Hindia Bebas dari Belanda) dan pembentukan sebuah negara Hindia yang dikuasai oleh rakyatnya sendiri.
Sebelumnya, telah terbentuk Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PMI) di Belanda pada 1908 dengan nama Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) yang selanjutnya disebut IV. IV terbentuk bersamaan dengan organisasi nasionalis pertama yaitu Budi Utomo. Rakyat Indonesia melihat dua organisasi ini sebagai pelopor kebangkitan nasional yang digerakkan melalui dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, berdirinya dua organisasi ini yaitu tanggal 20 Mei 1908 diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Lambat laun organisasi IV semakin terasa pengaruhnya pada 1916, setelah berhasil menerbitkan jurnal IV, yaitu Hindia Poetra. Dan pada 1917, IV berkonsolidasi dengan Chung Hwa Hui, sebuah organisasi mahasiswa Indonesia-Cina, dan sebuah perhimpunan mahasiswa Indo-Eropa dan Belanda. Hingga akhirnya, gerakan bersama ini dinaungi oleh nama Indonesische Vebond van Studeerenden (Persatuan Mahasiswa Indonesia). Dari sini, kita simpulkan bahwasannya IV merupakan perkumpulan sosial tempat sebagian besar para anggotanya melontarkan ide-ide persatuan yang moderat serta menjunjung tinggi kemaslahatan bersama bukan sepihak.
Seluruh persatuan pelajar hendaknya memahami ini, agar roda organisasi berjalan stabil sesuai maksud dibentuknya yaitu untuk menjunjung pemerataan, kesejahteraan serta menjadi wasilah untuk mengangkat kaum-kaum yang tertindas. Perlu diketahui, bahwa organisasi merupakan sebuah wasilah atau jalan untuk membela kaum-kaum yang dibawah. Jangan menyalahgunakan wasilah ini, apalagi sampai tujuan terbentuknya organisasi ini tidak tercapai atau semakin banyaknya golongan yang tertindas.
Sejarah memberikan makna dan pelajaran yang tersirat bahwa dengan membaca, menulis, dan diskusi menjadi api kebangkitan bagi seluruh golongan. Tiga elemen tadilah yang sekarang diidentikkan dengan tritradisi mahasiswa. Selain itu, berhimpun dan bersatu menjadi salah satu aksi keseriusan dalam membangun kekuatan bersama-sama. Kalaulah sudah bersatu, perlu kita jaga kestabilannya. Jangan memecah kembali, bahkan memberikan seluruh golongan kehilangan jalannya untuk menuju apa yang dituju.
Rival haikal, Mahasiswa Universitas Kairouan, Tunisia.