Penulis : Hendro Alfansyah Khuluk (Mahasiswa S1 Universitas Zaitunah)

Filsafat Stoikisme merupakan panduan menuju kehidupan yang lebih bermakna dengan befokus pada apa yang kita bisa kendalikan. Konsep inti dari filsafat ini adalah dikotomi kendali antara dua hal, yaitu mengacu pada pembagian antara hal-hal yang berada dalam kendali kita seperti pikiran, tindakan yang berasal dari dalam diri (internal), dan hal-hal yang di luar kendali diri seperti cuaca, opini orang lain, atau peristiwa tak terduga (eksternal).
Filsafat Stoikisme mengajarkan kita agar selalu ingat bahwa ada hal yang di bawah kontrol kita dan ada juga yang tidak. Terkadang hal yang bisa menimbulkan gelisah dan resah adalah kita berusaha untuk mengontrol segala sesuatu yang berada di luar kontrol kita. Sebab hakikatnya terdapat hal yang sejatinya tidak bisa kita kontrol, karena terdapat kehendak yang lebih berhak dari diri kita sendiri.Ketika kita mengetahui apa yang bisa dan tidak bisa dikontrol, maka kita akan fokus kepada hal yang bisa kita kontrol dan melepas hal yang tidak bisa dikontrol.
Jumat sore, 4 Oktober 2024 saya mengikuti kajian di Sekretariat Kopiah.co yang membahas tentang Filsafat Stoikisme, tentu ini menarik perhatian saya untuk mempelajari dan berdiskusi lebih dalam lagi mengenai filsafat yang dikenal dengan Filsafat Stoa.
Filsafat Stoikisme berasal dari Bahasa Yunani stoikos, yang berarti stoa (serambi, baranda, atau teras) karena pada abad ke 3 SM, Zeno sebagai pencetus madzhab stoikisme melakukan pengajaran dengan cara yang tak biasa, yaitu dengan duduk berbicara di teras pendopo yang terletak agak jauh dari keramaian pasar. Pendekatan ajaran dan cara penyebaran ajaran ini kemudian menjadi madzhab filsafat yang kita kenal, yaitu Filsafat Stoikisme.
Dengan ini saya memahami bahwa penganut filsafat ini berusaha untuk memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar dapat mereka kendalikan. Dengan kata lain, alih-alih mengkhawatirkan hal-hal yang di luar jangkauan diri, mereka justru fokus pada pengembangan diri dan peningkatan kualitas hidup mereka.
Stoikisme sebagai aliran filsafat yang membantu mengendalikan emosi negatif dan bersyukur dengan apa yang kita miliki sekarang itu merupakan nilai dari stoik itu sendiri. Kita tidak bisa memaksa semua orang memiliki penilaian yang positif terhadap kita karena itu berada di luar kendali kita, tetapi kita dapat mengontrol bagaimana reaksi kita atas penilaian dari orang lain terhadap diri kita tersebut. Apakah kita akan menetapkan standar kebahagiaan kita berdasarkan penilaian orang lain atau sesuai standar bahagia versi diri kita.
Pada dasarnya manusia dilatih untuk bereaksi secara rasional terhadap segala sesuatu, hal ini sejalan dengan tujuan dari aliran ini, yaitu pendalian diri. Perlu kita ketahui, prinsip dari filsafa ini adalah The dichotomy of control (Dikotomi Kendali), yaitu kita harus memisahkan hal-hal yang berada dalam kendali dan di luar kendali kita, yaitu bidang internal dan eksternal yang sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Oleh karena itu, sudah seharusnya kita tidak membuang waktu dan tenaga kita untuk memikirkan sesuatu di luar kuasa kita. Lebih baik apabila kita menginvestasikan dan mengoptimalkan waktu dan tenaga tersebut untuk mengubah apa yang berada dalam kendali kita. Filsafat Stoikisme ini sangat relevan untuk kehidupan masa kini, dan menjadi “obat” untuk kita yang haus validasi mencari pengakuan dan pujian dari orang lain dengan memaksa diri kita untuk melakukan hal-hal yang di luar jangkauan kita, maka tujuan dari filsafat ini adalah untuk meningkatkan kualitas hidup dan pengembangan diri. Hal ini selaras dengan apa yang dikemukakan para ulama yaitu, peningkatan diri sendiri itu adalah hal yang utama dalam hidup.
Kemudian kita harus lebih mengutamakan diri kita sebelum orang lain, dan pentingnya kebajikan dalam diri. Kebajikan juga merupakan pilar utama dalam aliran ini. Kebajikan bukan sekedar tindakan moral, tetapi juga merupakan kondisi batin yang dicapai melalui latihan dan refleksi terus menerus. Kebajikan ini terbagi menjadi empat yaitu : kebijaksanaan (prudence), yaitu kemampuan untuk berpikir jernih dan membuat keputusan yang bijaksana, kadilan (justice), memperlakukan orang lain dengan adil dan hormat, keberanian (fortitude), kemampuan untuk menghadapi kesulitan dengan tenang dan keberanian, dan moderasi (temperance), mengendalikan diri dan menghindari segala bentuk ekstrem. Dengan mengembangkan kebajikan-kebajikan ini, stoikisme berusaha untuk hidup selaras dengan alam dan mencapai ketenangan batin.
Adapun salah satu tujuan utama dari filsafat ini adalah menuju hidup yang bahagia, tenang dan tidak mengkhawatirkan tentang apa yang akan datang di esok hari. Tentu meraih kehidupan yang Bahagia dan tenang telah menjadi dambaan bagi orang banyak, akan tetapi arti dari kebahagiaan itu sendiri banyak penafsirannya begitupun ketenangan maupun kekhawatira. Lantas apa arti sebenarnya dari kebahagiaan itu?
Pada masa awal memasuki abad 21, bidang komunikasi mengalami kemajuan yang begitu pesat kemudian diikuti dengan kemajuan di bidang lain. Untuk mempertahankan eksistensinya, manusia harus meningkatan kemampuannya agar mampu beradaptasi dengan perubahan. Kemajuan di bidang komunikasi saat ini hampir semua orang dapat mengaksesnya, tapi kebebasan ini berimbas pada hancurnya batasan, terutama batasan etika dan moral dalam kehidupan manusia. Hampir setiap hari semua orang mampu mengakses kehidupan orang lain melalui sosial media. Dampak positifnya adalah manusia dapat mengakses berbagai pengetahuan dan informasi, namun dampak negatifnya adalah manusia kehilangan suatu hal yang paling krusial dalam hidup namun dianggap sepele, yaitu kebahagiaan.
Maka dari itu Filsafat Stoikisme merupakan salah satu filsafat yang menekankan pada ajaran tentang sisi dalam diri manusia yaitu kebahagiaan dapat diperoleh dengan kemampuan membedakan hal yang dapat kita kendalikan. Biasanya orang stoik tidak terpengaruh oleh hal-hal yang tidak mampu dikendalikan. Hal ini bertujuan agar manusia dapat bahagia dengan terbebas dari emosi-emosi negatif yang dapat merusak serta menghancurkan kebahagiaan manusia itu sendiri. Para filsuf stoik menganggap kebahagiaan itu bukan hal untuk dikejar. Mereka lebih fokus pada cara bagaimana dapat mengurangi emosi negatif, seperti marah, sedih, stress dan juga galau. Dengan memperbaiki nalar tersebut, maka kita akan lebih mampu mengendalikan perilaku kita dalam menghadapi emosi tersebut. Filsafat relevan dan tidak lekang oleh zaman karena merupakan salah satu filsafat yang praktis untuk diamalkan di kehidupan sehari-hari dan salah satu kunci untuk mengendalikan diri dalam mendapatkan kebahagiaan sejati.
Dapat disimpulkan bahwa Filsafat Stoikisme itu menawarkan panduan yang sangat berharga untuk mencapai pengendalian diri, keutamaan hidup, dan kebahagiaan sejati dengan berfokus pada apa yang dapat dikendalikan dan kuasai, mengembangkan kebajikan kemudian menerima apa adanya dan tidak mengkhawatirkan tentang apa yang akan terjadi. “Pengendalian diri adalah kekuatan. Pikiran yang benar adalah penguasaan, ketenangan adalah kekuatan,” -James Allen.