
Kairouan, merupakan salah satu kota paling bersejarah di negara Tunisia, sebuah kota suci yang didirikan oleh sahabat nabi Muhammad ﷺ, dan merupakan ibukota pertama di wilayah Maghrib. Pada masanya, Kairouan merupakan pusat peradaban dan keilmuan Islam di wilayah Afrika utara, yang tentunya, telah banyak menyaksikan peristiwa dan sejarah lintas peradaban, tak hanya itu, Kairouan digadang-gadang sebagai kota suci ke-empat umat Islam di dunia, setelah Mekkah, Madinah, dan Yerussalem. Di tengah keindahan sejarah dan budaya yang kaya, terdapat sekelompok mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di kota ini. Bulan Ramadhan, yang merupakan bulan suci bagi umat Islam, menjadi momen yang sangat berarti bagi mereka. Artikel ini, akan mengupas kehidupan sehari-hari mahasiswa Indonesia di Kairouan selama bulan Ramadhan, menggambarkan rutinitas, tantangan, serta keberkahan yang mereka alami.
Hari-hari di bulan Ramadhan dimulai lebih awal bagi para mahasiswa. Sebelum fajar menyingsing, mereka bangun untuk sahur, menghangatkan serta menyantap makanan yang biasanya didapat dari mat’am jami’ (kantin kampus), selain itu, tak jarang terdapat beberapa mahasiswa yang memilih untuk memasak pribadi. Meskipun terkadang sulit untuk bangun lebih pagi dikarenakan udara yang dingin, rasa semangat untuk melaksanakan ibadah puasa, membuat mereka tetap berusaha. Setelah sahur, mereka melanjutkan aktivitas dengan melaksanakan shalat subuh, serta melafalkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, yang menjadi bagian penting dari rutinitas spiritual mereka di bulan suci Ramadhan.
Setelah menjalani aktivitas pagi, mahasiswa kembali kepada aktivitas pembelajaran. Mereka menghadiri beberapa mata kuliah, yang mana pada bulan Ramadhan, pihak universitas mengurangi jam pembelajaran, maksimal dari jam 08.30 hingga pukul 13.30 CET (waktu eropa tengah). Meskipun rasa lapar dan haus menguji konsentrasi mereka, mahasiswa Indonesia di Kairouan tetap berusaha untuk fokus dan bersemangat, beberapa diantara mereka, bahkan mengikuti pengajian kitab fiqih dan aqidah yang diselenggarakan oleh organisasi Makha (Majelis kajian mahasiswa).
Dengan memanfaatkan mahasiswa cerdas dan mumpuni di bidang keilmuan tersebut sebagai pengajar, diantaranya adalah Sholahuddin Ahmad dan Dimas Jauhar, program kajian ini sukses berjalan setiap harinya, biasanya dimulai dari jam 15.00 hingga pukul 17.30 CET. Salah satu peserta kajian Makha spesial Ramadhan, Said Aly Varhan, mengungkapkan alasannya tertarik untuk mengikuti kajian rutin ini, menurutnya, kajian ini sangat bermanfaat dalam meningkatkan wawasan keilmuan, serta dapat mengisi aktivitas positif di bulan suci Ramadhan, selain itu, dengan mengikuti kajian Makha, merupakan bentuk penghargaan kepada para penyelenggara, serta pengajar yang telah tulus ikhlas mengadakan kajian ilmu. “Pertama, untuk menghargai para penyelenggara, kedua, untuk menghargai Gus Sholah sebagai pengajar, kemudian untuk menghargai orang tua di Indonesia, dengan menghadiri kajian ini juga, telah memberikan manfaat berupa pengetahuan seputar fiqih, yang berguna ketika pembelajaran di kampus, dan tentunya dapat menjawab pertanyaan masyarakat di tanah air mengenai hal syariat sepulang dari sini, selain itu, kajian rutin ini sangat berguna untuk mengisi waktu luang antara ashar hingga maghrib,” ujarnya dengan penuh semangat. Saat matahari hampir terbenam, momen berbuka puasa menjadi saat yang ditunggu-tunggu. Mahasiswa Indonesia di Kairouan, biasanya berbondong-bondong pergi menuju kidzland, salah satu restoran ternama di Kota ini, yang juga berdekatan dengan makam sahabat nabi ﷺ, yaitu sahabat Abu Zam’ah al-Balawy Ra. Mahasiswa Indonesia memilih berbuka di tempat ini, dikarenakan pemilik restoran kidzland, Sidi Ibrahim.
Sejak Ramadhan tahun lalu, menyediakan makanan gratis sebulan penuh, untuk berbuka puasa bagi para mahasiswa Kairouan, makanan yang disajikan sangat bervariasi setiap harinya, hingga makanan Nusantara pun kerap kali tersaji hangat diatas meja restoran, dengan cita rasa yang tentunya sangat lezat dan bergizi. Atas hal ini, mahasiswa Indonesia, memberikan sedikit apresiasi berupa baju batik khas Indonesia, serta peci songkok tradisional kepada sang pemilik restoran, “Alhamdulillah Ramadhan tahun ini, mahasiswa Indonesia di Kairouan Tunisia. mendapatkan ifthar jam’i (buka bersama) gratis, disalah satu restoran terkenal di Kairouan. Untuk membalas kebaikan pemilik restoran. Kami berinisiatif memberikan batik Indonesia dan peci tradisional supaya beliau lebih senang kepada mahasiswa Indonesia, dan kegiatan seperti ini bisa terus berlanjut di Ramadhan tahun depan. Sehat terus Sidi Ibrahim, semoga Allah selalu menjaga dan memberikan umur yang panjang,” ungkap Rival Haikal, ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Kairouan PPI Tunisia.
Selain itu, universitas Az-Zaitunah Kairouan, juga kerap kali mengadakan ifthar jam’i (buka bersama), yang dihadiri oleh rektor, jajaran dosen dan seluruh lapisan mahasiswa, baik dalam negeri maupun luar negeri, yang bertempat di aula terbuka kampus. Hal ini bertujuan untuk menguatkan tali silaturahim antar mahasiswa, dan mempererat ukhuwah islamiyyah antar sesama negara muslim. Momen berbuka puasa bersama teman-teman Tunisia, menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Suasana penuh tawa dan kebersamaan menciptakan kenangan indah. Mahasiswa saling berbagi cerita dan pengalaman, memperkuat ikatan persahabatan di antara mereka. Momen ini menjadi pengingat bahwa meskipun jauh dari rumah, mereka tetap memiliki keluarga baru di Kairouan.
Setelah berbuka puasa, para mahasiswa biasanya banyak mengisi waktu untuk memaksimalkan ibadah di bulan suci Ramadhan, selain shalat lima waktu dan membaca Al-Qur’an, beberapa mahasiswa Indonesia juga tentunya melaksanakan shalat tarawih berjamaah di masjid-masjid yang banyak tersebar di kota Kairouan, terutama Masjid Uqbah ibn Nafi’, yang terletak tidak jauh dari rumah-rumah mahasiswa Indonesia. Suasana baru di kota Kairouan yang khas dan syahdu, mengiringi ibadah para mahasiswa di malam-malam bulan suci Ramadhan yang mulia ini. pelaksanaan shalat tarawih bersama-sama, tidak hanya memperkuat ikatan spiritual, tetapi juga membangun solidaritas di antara mahasiswa. Mereka seringkali berkumpul setelah shalat untuk berbagi pengalaman dan saling mendukung dalam menjalani ibadah selama bulan puasa.
Berpuasa di negara asing tidak selalu mudah. Mahasiswa seringkali menghadapi tantangan seperti perbedaan waktu berbuka puasa, dan menu makanan baru yang terkadang asing bagi lidah. Rasa rindu akan keluarga dan suasana Ramadhan di Indonesia juga kadang menghampiri. Namun, mereka berusaha untuk tetap positif dan menemukan cara untuk mengatasi tantangan tersebut. Meskipun ada tantangan, bulan Ramadhan di Kairouan juga membawa banyak keberkahan. Mahasiswa merasakan kedamaian dan kebahagiaan dalam menjalani ibadah. Mereka menemukan makna yang lebih dalam dari puasa, yaitu tentang kebersamaan, kesabaran, empati, dan rasa syukur. Pengalaman ini memperkaya spiritualitas mereka dan memberikan pelajaran berharga untuk kehidupan sehari-hari.
Kehidupan sehari-hari mahasiswa Indonesia di Kairouan selama bulan Ramadhan adalah perpaduan antara tantangan dan keberkahan. Momen berbuka puasa, kegiatan ibadah, dan interaksi sosial menciptakan pengalaman yang tak terlupakan. Meskipun jauh dari rumah, mereka menemukan cara untuk merayakan bulan suci ini dengan penuh semangat dan rasa syukur. Harapan mereka adalah untuk terus menjalani Ramadhan dengan lebih baik di tahun-tahun mendatang, membawa pengalaman berharga ini kembali ke tanah air tercinta, Indonesia