
Penulis: Muhammad Fahad Azizi (Mahasiswa S1 Universitas az-Zaitunah, Tunisa, Tunisia)
Kepercayaan dan agama telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia sejak zaman dahulu. Namun, bagaimana sebenarnya keyakinan-keyakinan ini terbentuk? Apakah mereka muncul dari rasionalitas atau dari kesalahpahaman yang diwariskan? Pertanyaan-pertanyaan ini telah menjadi fokus perdebatan yang panjang, terutama ketika dua pemikir besar, E.B. Tylor dan J.G. Frazer, mengemukakan teori-teori mereka. Dengan pandangan yang sering kali kontroversial, mereka mengeksplorasi akar budaya, magis, dan agama untuk mengungkap sisi tersembunyi dari kepercayaan manusia. Artikel ini akan menggali lebih dalam bagaimana Tylor dan Frazer melihat evolusi pemikiran manusia serta mengapa gagasan mereka masih relevan hingga saat ini.
Edward Burnett Tylor adalah seorang intelektual yang lahir di Inggris. Keluarganya merupakan penganut Kristen Protestan yang ekstrem. Namun, ketika dewasa, Tylor menjauh dari pandangan keagamaan keluarganya dan menjadi seorang pemikir liberal. Ia memperkenalkan gagasan penting yang dikenal sebagai Primitive Culture, sebuah konsep yang menjadi perhatian besar setelah diterbitkan. Karya ini muncul setelah buku kontroversial The Origin of Species oleh Charles Darwin, yang banyak ditentang oleh para agamawan karena dianggap bertentangan dengan ajaran Injil.
Dalam pendekatannya, Tylor sangat mengutamakan etnografi, yaitu metode penulisan budaya, serta etnologi, yakni studi mengenai kebudayaan. Ia memperluas penelitian ini untuk memahami hal-hal yang bersifat gaib, yang menjadi bagian integral dari banyak kebudayaan. Tylor percaya bahwa kebudayaan, jika dianalisis dengan cermat, dapat mengungkap dua hukum universal: kesamaan fisik di antara seluruh ras manusia, dan pola perkembangan intelektual yang berlangsung seiring waktu.
Dalam penelitian lebih lanjut, Tylor memperkenalkan “Doktrin Keberlangsungan Hidup” atau Doctrine of Survivals. Ia menyatakan bahwa tidak semua kebudayaan berkembang dalam fase atau kecepatan yang sama, sehingga terdapat perbedaan tingkat perkembangan di berbagai belahan dunia. Baginya, hubungan antara pemikiran rasional dan perubahan sosial dapat dilihat melalui aspek budaya yang terus berkembang. Sebagai contoh, ia mengamati bahwa dalam masyarakat primitif, praktik magis sering kali muncul dari penggabungan ide-ide manusia dengan kecenderungan rasional dasar. Dari pola-pola tersebut, Tylor menunjukkan bagaimana bahasa dan matematika berevolusi dari bentuk sederhana hingga menjadi sangat kompleks.
Menurut Tylor, asal-usul agama harus dijelaskan secara ilmiah. Ia mengajukan pertanyaan mendasar yang menggambarkan cara masyarakat primitif memahami dunia: bagaimana mereka membedakan tubuh yang hidup dari yang mati, dan apa arti mimpi yang dialami manusia? Jawaban mereka pada masa itu adalah bahwa manusia memiliki jiwa dan roh. Jiwa dan roh ini, dalam pandangan mereka, adalah inti kehidupan, dan dari keduanya berkembang gagasan tentang entitas spiritual yang bersifat pribadi.
Tylor menjelaskan bahwa agama pada mulanya muncul dari kepercayaan terhadap roh-roh individual yang menghuni objek-objek tertentu. Seiring waktu, roh-roh ini mulai dipisahkan dari objek asalnya dan dianggap memiliki identitas tersendiri. Dari sini, kepercayaan berkembang menuju keyakinan pada banyak roh, hingga pada tahap yang lebih tinggi, konsep Tuhan tunggal mulai terbentuk. Namun, menurut Tylor, meskipun animisme merupakan langkah awal dalam perkembangan pemikiran manusia, ia melihatnya sebagai kesalahan primitif yang harus ditinggalkan demi kemajuan ilmu pengetahuan yang lebih rasional.
Sementara itu, James George Frazer, seorang pemikir dari Skotlandia, mengembangkan gagasan serupa dengan Tylor. Ia lahir dalam keluarga Kristen Protestan, dan meskipun awalnya mempelajari sastra Yunani serta Romawi klasik, minatnya beralih ke antropologi. Frazer akhirnya menulis karya besar yang berjudul The Golden Bough, sebuah buku yang menjadi tonggak dalam studi agama dan kebudayaan.
Dalam bukunya, Frazer menggabungkan berbagai pengaruh, termasuk gagasan survivals dari Tylor, pengamatan tentang totemisme bangsa Arab, dan analisis sastra klasik. Ia membuka The Golden Bough dengan kisah reruntuhan kuil kuno yang didedikasikan untuk Dewi Diana, serta legenda Virbius, penjaga kuil tersebut. Dengan mengumpulkan cerita-cerita rakyat dan kebiasaan masyarakat primitif, Frazer mencari pola-pola yang dapat dibandingkan dengan legenda Romawi, untuk membuktikan teori bahwa praktik budaya memiliki kesinambungan.
Frazer juga mengemukakan teori tentang transisi pemikiran manusia dari magis ke agama. Ia berpendapat bahwa pada tahap awal, manusia menggunakan magis untuk mencoba mengendalikan alam sesuai kehendak mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, agama mulai berkembang sebagai cara yang lebih maju dalam menjelaskan dunia. Dalam agama, kekuatan berasal dari doa kepada Tuhan, bukan dari manipulasi langsung seperti dalam magis.
Frazer juga mencatat bahwa kekuasaan spiritual berpindah dari praktisi magis ke pendeta. Meskipun elemen-elemen magis tetap ada, agama mulai mengintegrasikan gagasan tentang ketuhanan dalam cara manusia memahami dunia. Pada akhirnya, Frazer menyimpulkan bahwa agama adalah hasil dari evolusi budaya, di mana magis mundur untuk memberikan tempat pada keyakinan terhadap Tuhan. Namun, unsur-unsur magis masih bertahan sebagai bagian dari perkembangan agama yang lebih kompleks.
Evolusi kepercayaan manusia dari magis, animisme, hingga agama mencerminkan perjalanan intelektual yang kompleks. E.B. Tylor dan J.G. Frazer menunjukkan bagaimana manusia mencoba memahami dunia melalui berbagai pendekatan, mulai dari praktik magis hingga keyakinan spiritual yang lebih sistematis. Meskipun teori mereka banyak diperdebatkan dan berasal dari masa lalu, gagasan tersebut tetap relevan untuk memahami perkembangan budaya dan kepercayaan di masa kini. Melalui perspektif ini, kita dapat melihat agama tidak hanya sebagai warisan tradisional, tetapi juga sebagai bagian dari evolusi intelektual manusia yang terus berlangsung.