
Penulis: Rival Haikal (Mahasiswa S1 Universitas az-Zaitunah, Kairouan)
Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak menyusul konflik antara Iran dan Israel yang kini memasuki fase paling panas dalam beberapa dekade terakhir. Kedua negara saling melancarkan serangan bersenjata, mulai dari peluncuran rudal balistik hingga ancaman penggunaan senjata nuklir. Dunia internasional dibuat waspada oleh potensi meletusnya perang skala besar. Namun di tengah ketegangan ini, muncul secercah harapan baru bagi perjuangan rakyat Palestina yang telah lama tertindas.
Mengutip laporan dari Al Mayadeen dan Al Jazeera, konflik memuncak ketika Israel melakukan serangan mendadak ke Teheran, ibu kota Iran. Serangan tersebut menghancurkan sejumlah infrastruktur penting, termasuk markas intelijen militer, serta menewaskan Jenderal Esmail Qaani, Komandan Garda Revolusi Iran. Sebagai bentuk respons, Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengibarkan bendera merah di atas Masjid Jamkaran—simbol perang total dalam tradisi Syiah.
Iran merespons cepat. Rudal balistik dan drone tempur diluncurkan ke wilayah Israel, termasuk Tel Aviv dan Haifa. Meskipun sistem pertahanan Iron Dome berhasil menangkal sebagian besar serangan, sejumlah rudal Iran berhasil menembus dan menyebabkan kerusakan besar. Media Timur Tengah melaporkan bahwa fasilitas militer, pembangkit listrik, serta Bandara Internasional Ben Gurion lumpuh akibat serangan tersebut.
Pihak Iran mengeluarkan pernyataan tegas: “Jika Israel membalas, kami tidak akan ragu menghancurkan seluruh eksistensi Zionis dari peta dunia.” Ancaman ini diperkuat oleh dukungan Iran dari sekutu regional seperti Hizbullah di Lebanon, serta milisi bersenjata di Irak, Suriah, dan Yaman.
Ketegangan tersebut memicu kekhawatiran di Tel Aviv. Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dilaporkan segera menghubungi Presiden AS saat itu, Donald Trump, guna meminta dukungan militer penuh. Keterlibatan Amerika Serikat diperkirakan bisa memicu Perang yang lebih besar dan memicu terjadinya perang Dunia Ketiga, mengingat Iran didukung oleh kekuatan besar lain seperti Rusia dan China. Situs berita Middle East Eye dan Al-Quds Al-Arabi memperingatkan bahwa eskalasi ini bukan lagi soal konflik dua negara, tapi mencakup konflik global.
Penderitaan Palestina yang Terlupakan
Di tengah hiruk-pikuk konflik dua kekuatan besar ini, penderitaan rakyat Palestina tetap menjadi akar utama permasalahan. Selama lebih dari 75 tahun, rakyat Palestina mengalami penjajahan, pengusiran, dan pembunuhan massal oleh rezim Zionis. Menurut data dari UN OCHA dan Al Jazeera, dalam kurun satu tahun terakhir lebih dari 38.000 warga Palestina tewas, termasuk 14.000 anak-anak. Sementara itu, lebih dari 85% infrastruktur di Gaza hancur total, termasuk rumah sakit, sekolah, dan masjid.
Israel disebutkan memblokade bantuan kemanusiaan dan memutus pasokan dasar seperti makanan, air, dan listrik, yang menyebabkan krisis kelaparan parah di Gaza. Serangan udara tanpa henti menyasar wilayah padat penduduk. Meski PBB dan sejumlah negara besar mengutuk, belum ada tindakan konkret yang mampu menghentikan penindasan tersebut.
Namun kini, situasi mulai berubah. Secercah harapan baru muncul: Dunia Mulai Bangkit dan Melawan
Solidaritas Global Bangkit
Situasi ini menjadi momentum kebangkitan solidaritas global. Rakyat Palestina di Gaza menyambut serangan balasan Iran dengan sukacita, bukan karena menginginkan perang, melainkan karena muncul kekuatan yang secara terbuka melawan Israel.
Laporan dari Anadolu Agency dan Al Jazeera menampilkan ribuan relawan dari berbagai negara membawa bantuan untuk saudara mereka di Palestina. Dengan demikian dukungan terhadap Palestina terus meluas. Ditambah dengan banyak rakyat yang datang dari berbagai negara mulai bergerak. Dari Tunisia, Aljazair, Libya, Mauritania, hingga Sudan, ribuan relawan berangkat ke Mesir untuk menembus perbatasan Rafah dan mengirim bantuan ke wilayah Gaza.
Mengutip laporan dari Chinadaily.com, Tiongkok juga menarik perhatian dunia setelah mengirimkan pesawat kargo besar berisi ratusan ton bantuan medis dan logistik ke perbatasan Gaza. Pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa dukungan terhadap Palestina adalah soal kemanusiaan, bukan sekadar politik.
Kemudian di berbagai belahan dunia, masyarakat menyuarakan dukungan dengan turun ke jalan. Di Paris, London, Berlin, Istanbul, Jakarta, dan New York, demonstrasi besar-besaran digelar. Spanduk bertuliskan Free Palestine! berkibar di mana-mana. Media sosial dipenuhi kampanye digital yang menggaungkan seruan keadilan dan kemerdekaan untuk Palestina.
Kritik untuk Dunia Arab dan Para Pemimpin Global
Ironisnya, sebagian besar negara Arab memilih bungkam. Pernyataan “keprihatinan” tidak dibarengi aksi nyata. Padahal ajaran Islam dengan tegas menyerukan bantuan kepada sesama Muslim yang tertindas.
“Sesungguhnya orang-orang Mukmin itu bersaudara…” (QS. Al-Hujurat: 10)
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka dia bukan dari golongan mereka.” (HR. Thabrani)
Hal ini memunculkan pertanyaan: Apakah para pemimpin telah dibutakan oleh kekuasaan dan kepentingan politik? Apakah uang dan jabatan lebih penting daripada kemanusiaan dan iman?
Rakyat Palestina tidak memiliki jet tempur, rudal presisi, atau kekuatan militer canggih. Yang mereka miliki hanyalah semangat, batu, dan doa. Namun dunia kini menyadari bahwa itu tidak cukup. Seluruh umat manusia, apapun agamanya, perlu berdiri bersama rakyat Palestina.
Apakah kita akan terus diam, hanya menuliskan tagar #PrayForGaza? Atau saatnya dunia bersuara, berdonasi, dan menekan pemerintah untuk bertindak tegas? Palestina layak merdeka. Dunia harus berdiri di pihak yang benar.
Hidup Palestina! Hentikan penjajahan!