
Penulis: Muhammad Fahad Azizi (Mahasiswa S1 Universitas az-Zaitunah, Tunis)
Tulisan ini berangkat dari sebuah pertanyaan mendasar: Apakah kemajuan ilmu pengetahuan telah membawa kita menuju zaman yang tidak lagi membutuhkan Tuhan? Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika seorang ilmuwan besar seperti Stephen Hawking menyatakan, “One can’t prove that God doesn’t exist. But science makes God unnecessary. The laws of physics can explain the universe without the need for a creator.”
Pernyataan tersebut tidak hanya menimbulkan diskusi luas di kalangan akademisi, tetapi juga mengguncang fondasi keyakinan banyak orang. Lebih dari itu, pernyataan tersebut sering dikaitkan dengan argumen yang dikenal sebagai God of the Gaps.
Lalu, apa sebenarnya yang dimaksud oleh pernyataan Hawking? Apa makna dari konsep God of the Gaps? Apakah keduanya identik? Apa bantahan yang dapat diajukan terhadap cara berpikir semacam itu?
Walaupun sebenarnya telah banyak sanggahan terhadap pandangan ini—yang dapat Anda temukan baik dalam pemikiran klasik maupun literatur ilmiah modern—dalam tulisan ini kita akan mencoba membahasnya secara sederhana, logis, dan reflektif, tanpa harus larut dalam istilah teknis yang kompleks.
Stephen Hawking adalah salah satu fisikawan teoretis dan kosmolog paling berpengaruh di era modern. Ia dikenal luas karena karyanya di bidang lubang hitam, teorema singularitas, dan gravitasi kuantum, serta bukunya yang terkenal A Brief History of Time. Selain kontribusinya terhadap fisika, Hawking juga dikenal karena pandangan filsafat ilmiahnya yang kontroversial, terutama terkait eksistensi Tuhan.
Dalam berbagai wawancara dan bukunya The Grand Design (2010), ia menyampaikan bahwa alam semesta dapat dijelaskan sepenuhnya oleh hukum-hukum fisika tanpa memerlukan pencipta. Inilah yang kemudian memicu perdebatan panjang antara sains dan agama.
Dalam wawancaranya dengan ABC News, Hawking kembali menegaskan pandangannya bahwa alam semesta bisa muncul melalui spontaneous creation tanpa intervensi Tuhan. Ia menyatakan, “Because there is a law such as gravity, the universe can and will create itself from nothing.” Klaim ini memicu reaksi luas karena istilah from nothing di sini tidak berarti ketiadaan mutlak, melainkan kondisi vakum kuantum—yang masih merupakan sesuatu. Banyak ilmuwan dan filsuf kemudian mengkritik Hawking karena secara terminologis dan filosofis, nothing bukanlah sesuatu yang dapat dikalkulasi atau diuji secara ilmiah.
Sementara itu, gagasan God of the Gaps pertama kali diperkenalkan oleh teolog Skotlandia, Henry Drummond. Dalam ceramahnya pada akhir abad ke-19, Drummond mengkritik mereka yang hanya mengandalkan Tuhan untuk menjelaskan hal-hal yang belum bisa dijelaskan oleh sains, alih-alih melihat Tuhan juga bekerja melalui hukum-hukum alam itu sendiri. Dalam konteks ini, Tuhan ditempatkan hanya sebagai penjelasan atas ketidaktahuan manusia.
Secara sederhana, God of the Gaps adalah pola pikir yang menggunakan Tuhan untuk mengisi celah dalam pengetahuan ilmiah. Misalnya, jika kita belum tahu bagaimana petir terjadi, maka dijelaskan bahwa itu adalah perbuatan Tuhan. Namun, seiring kemajuan sains, celah-celah ini semakin menyempit, dan akhirnya Tuhan dianggap tidak lagi diperlukan. Contoh lainnya: sebelum hukum gravitasi dipahami, banyak orang menganggap benda jatuh karena ada kekuatan ilahi yang menariknya. Kini, hal tersebut dijelaskan oleh hukum Newton dan relativitas Einstein.
Apakah pernyataan Hawking dan konsep God of the Gaps itu sama? Tidak sepenuhnya. God of the Gaps adalah pola pikir teologis yang menggunakan Tuhan sebagai penjelas atas sesuatu yang belum diketahui oleh ilmu pengetahuan. Sedangkan pernyataan Hawking lebih bersifat eliminatif: ia tidak mengisi celah, melainkan menghapus peran Tuhan secara keseluruhan dari sistem penjelasan. Keduanya memang beririsan dalam hal menggeser peran Tuhan dalam narasi pengetahuan, tetapi berbeda dalam pendekatan. God of the Gaps menyisakan Tuhan dalam ruang ketidaktahuan, sementara Hawking berupaya menutup semua ruang tersebut dengan hukum alam.
Bantahan terhadap cara berpikir seperti ini sebenarnya cukup mendasar. Pertama, sains berfokus pada pertanyaan how—bagaimana sesuatu terjadi. Misalnya, bagaimana air berubah menjadi es atau bagaimana planet terbentuk. Sedangkan pertanyaan why—mengapa ada hukum fisika atau mengapa ada keberadaan sama sekali—adalah pertanyaan metafisik yang tidak dapat dijawab oleh sains. Dengan kata lain, sains menjelaskan mekanisme, tetapi bukan makna atau asal mula terakhir. Di sinilah letak kekeliruan logika Hawking: ia menggeser domain pertanyaan eksistensial ke dalam ranah empiris.
Kekeliruan ini tergolong category mistake atau false equivalence, yaitu kekeliruan logis di mana dua hal yang berbeda dianggap setara. Dalam hal ini, sains dan teologi dianggap sama-sama berbicara soal eksistensi mutlak. Padahal, yang satu berbicara tentang proses dalam sistem tertutup (alam semesta), sementara yang lain berbicara tentang dasar dari seluruh sistem itu sendiri. Selain itu, terdapat juga kesalahan begging the question, karena Hawking mengasumsikan bahwa hukum-hukum fisika sudah ada sebelum ada pencipta, padahal justru keberadaan hukum tersebut yang sedang dipertanyakan.
Kesimpulannya, klaim bahwa Tuhan tidak diperlukan karena sains bisa menjelaskan segalanya bukanlah pernyataan ilmiah, melainkan asumsi filosofis yang belum terbukti. Sains sangat andal dalam menjelaskan bagaimana sesuatu bekerja, tetapi tidak memiliki otoritas untuk menjawab mengapa sesuatu itu ada. Ketika seorang ilmuwan menggunakan sains untuk menyangkal keberadaan Tuhan, sesungguhnya ia sedang melangkah keluar dari laboratoriumnya dan masuk ke wilayah filsafat. Dan di wilayah itu, argumen harus diuji bukan hanya secara empiris, tetapi juga secara logis, ontologis, dan metafisik.
Maka, era tanpa Tuhan bukanlah hasil kemajuan sains, melainkan hasil kekeliruan berpikir tentang batas-batas sains itu sendiri.