PPI TUNISIA

Djerba: Persinggungan Religi, Harmoni, dan Simfoni

Penulis: Arjunnaja Naufal Adiwara (Mahasiswa S1 Universitas az-Zaitunah, Kairouan)

Djerba adalah sebuah pulau terpisah di lepas Pantai Tenggara Tunisia ,di laut Mediterania. Secara administratif, Djerba merupakan bagian dari Gubernorat Medenine. Untuk mencapai pulau Djerba diperlukan waktu perjalanan kurang lebih 6 jam dari kota Kairouan. Ada dua cara utama untuk menyebrangi pulau Djerba dari daratan utama Tunisia yaitu, melalui jalan Romawi (Chaussée Romaine) adalah jalan lintas laut sepanjang sekitar 7 Km di dekat kota El kantara yang dibangun sejak zaman Romawi dan menaiki kapal feri dengan jalur antara Jorf dan Ajim.

Pulau Djerba yang dengan segala kemajemukan Kereligian dapat menjadi contoh langka dari keharmonisan antar-umat beragama serta simfoni keselarasan yang indah antara berbagai elemen kebudayaan. Saya melihat bahwa kehidupan di pulau ini berbeda dengan kehidupan di kota atau wilayah lain di Tunisia. Di Djerba, kehidupan sosial tidak dibatasi oleh agama atau mazhab, melainkan oleh nilai-nilai kemanusiaan yang melukiskan makna sosialisasi tanpa sekat-sekat pemisah.

Di sini, komunitas Muslim—baik mazhab Maliki yang mayoritas dianut oleh masyarakat Tunisia maupun mazhab Ibadiah—serta komunitas Yahudi dan Kristen hidup berdampingan tanpa sekat berarti. Mereka saling menghormati tradisi masing-masing dan turut merayakan momen penting bersama. Kehidupan bersama ini didukung oleh kebijakan lokal yang toleran, interaksi sosial harian yang hangat, serta tradisi terbuka dalam pendidikan dan perayaan keagamaan.

Sejak zaman Romawi, Djerba menjadi rumah bagi tiga agama samawi: Islam, Yahudi, dan Kristen. Komunitas Yahudi, dengan salah satu sinagognya El Ghriba ,terus bertahan di tengah mayoritas Muslim setempat.

Sinagog El Ghriba di Er Riadh (dulu Hara Seghira), Djerba, diyakini sebagai salah satu sinagog tertua di dunia, dengan akar tradisi yang menurut legenda bermula dari tahun 586 SM. Konn, para Kohen (imam) Yahudi membawa pintu atau batu dari Bait Suci Salomo yang hancur ke pulau ini. Meskipun bangunan aslinya kemungkinan besar berdiri pada abad ke-1-2 M, struktur yang ada saat ini sebagian besar merupakan hasil renovasi dan perluasan pada akhir abad ke-19. Gaya arsitekturnya mencerminkan pengaruh Moor dan elemen simbolis—seperti jumlah jendela  yang melambangkan dua belas suku Israel. Serta bentuk kubahnya yang sengaja tidak disempurnakan sebagai simbol ingatan atas kehancuran Bait Suci.

Sejak dulu El Ghriba menjadi pusat ziarah tahunan pada Lag BaOmer (14–18 Iyar), ketika ribuan peziarah Yahudi dari seluruh dunia datang untuk berdoa di makam “perawan terasing” (al-Ghriba) yang konon ditemukan tidak membusuk di bawah sinagog tersebut.  

Namun, di balik semua keharmonisan tersebut, Djerba juga mengalami peristiwa-peristiwa keretakan tak berperi kemanusiaan yang menimpa Sinagog El Ghriba, di antaranya:

Pada tahun 1985, telah terjadi insiden penembakan oleh seorang polisi lokal yang menewaskan 3 orang dan melukai 15 lainnya saat festival Simchat Torah, sebagai reaksi atas Operasi “Wooden Leg” Israel di Tunisia.

Pada tahun 2002, terjadi bom truk bunuh diri yang menewaskan 20 orang (termasuk pelaku), mayoritas turis Jerman, yang diklaim dilakukan oleh oknum al-Qaeda dengan dalangnya, yaitu Khalid Sheikh Mohammed.

Dan tahun 2023, terjadi penembakan massal oleh anggota Garda Nasional Tunisia yang menewaskan 5 orang (dua peziarah Yahudi dan dua petugas keamanan, dan pelaku) dalam perayaan Lag BaOmer, sebelum pelaku ditembak mati oleh petugas.

Meski El Ghriba berstatus situs warisan dan pusat toleransi antar-agama, tetap menjadi target kekerasan ideologis—mulai dari aksi balas dendam lokal, terorisme global al-Qaeda, hingga serangan individu bermotif agenda eksternal. Pada akhirnya Presiden Tunisia saat ini Kais Saied berjanji memperketat pengamanan situs-situs ibadah minoritas yang juga mendapat dukangan dari otoritas Muslim setempat.

Pada Abad ke-2 hingga ke-3 M, agama Kristen menyebar ke Provinsi Afrika (Carthage) melalui misionaris dan pedagang Romawi—nama-nama Uskup dan Sidang Gereja di Carthage tercatat sejak abad ke-3 dan ke-4 M. Komunitas Amazigh (Berber) menerima agama Kristen awal dalam bahasa Latin, bahkan menelurkan tokoh seperti Agustinus dari Hippo. Namun, sejak penaklukan Arab–Islam atas Afrika Utara pada abad ke-7 M, jumlah penganut Kristen menurun drastis, meski sebagian komunitas masih bertahan sebagai dzimmi. Kebangkitan Kristen modern terjadi pada abad ke-19 dan ke-20, dan saat ini hanya tersisa beberapa ribu penganut dengan gereja-gereja yang masih aktif.

Selain tiga agama samawi, Djerba juga unik karena perbedaan mazhab. Tidak seperti wilayah lain di Tunisia yang mayoritas Muslimnya menganut mazhab Maliki, Djerba menjadi pusat komunitas mazhab Ibadiah tertua dan terbesar di luar Oman. Ibadis di Djerba merupakan bagian dari komunitas global yang tersebar di Oman, M’zab (Aljazair), Nafusa (Libya), dan Zanzibar (Tanzania). Di Tunisia, hampir semua penganut Ibadiah berada di Pulau Djerba, menjadikannya satu-satunya wilayah dengan mazhab di luar Sunni Maliki.

Mazhab Ibadiah berasal dari cabang Khawarij pascawafat Nabi Muhammad (632 M), dan melalui dakwah serta migrasi, para Ibadis datang ke Afrika Utara sejak abad ke-8 hingga ke-9 M. Teks historis menyebutkan adanya beberapa jalur ulama Ibadiah di Djerba yang saling terhubung dengan pusat-pusat keilmuan di M’zab dan Nafusa. Beberapa masjid Ibadiah di Djerba menjadi model arsitektur religius Sahara, seperti Masjid Al-Idris di Guellala dan Masjid Qubba di Er Riadh.

Djerba tidak hanya unik dari sisi keragaman agama (Islam, Yahudi, Kristen) dan madzhab (Maliki, Ibadiah), tetapi juga memiliki sejumlah ciri khas yang membedakannya dari wilayah lain di Tunisia.

Pada 2023, “Djerba: Testimony to a Settlement Pattern in an Island Territory” secara resmi ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO, karena pola permukiman tradisionalnya (houch) yang tersusun mengelilingi halaman dalam, menciptakan komunitas kompak dan adaptif terhadap iklim pulau .

Pulau ini juga dijuluki “Pulau Masjid”: terdapat 250–300 masjid, banyak di antaranya dibangun tebal menyerupai benteng dengan menara rendah untuk pertahanan Pantai.

Selain Bahasa Arab Tunisia, di Djerba masih hidup dialek Berber dan pengaruh Ibrani (Judeo-Arabic) dalam komunitas Yahudi lokal, menciptakan ragam tutur yang tidak ditemukan di kota-kota besar Tunisia.

Desa Guellala di Djerba terkenal akan gerabah (keramik) berwarna putih–biru dan gua-gua pemanggangan tanah liat, warisan teknik dari peradaban Fenisia dan Romawi.

Souk terbesar (Houmt souk) di Djerba menawarkan karpet tenun tangan, anyaman daun palem, serta perhiasan perak tradisional—kerajinan yang diimpor, dikreasikan, dan hanya dijual di pulau ini.

Pernikahan di Djerba (baik Maliki maupun Ibadi) berlangsung berhari-hari dengan ritual khusus seperti mokkadam, boundi (selendang pengantin), dan zaiana (rias pengantin tradisional) yang sangat kaya simbol dan sulit dijumpai dalam tradisi Tunisia daratan.

Situs Ramsar Burung Migrasi, Djerba Bin El Ouedian merupakan kawasan lahan basah yang diakui Ramsar sejak tahun 2007, dan menjadi tempat istirahat vital bagi ribuan burung migrasi setiap tahun.

Dengan kombinasi pola pemukiman khas, keragaman bahasa, arsitektur adaptif, tradisi budaya yang hidup, dan ekosistem unik, Djerba tampil sebagai wilayah yang secara kultural dan ekologis yang sangat berbeda dari daratan utama Tunisia.

Kini, keharmonisan Djerba menjadi model dunia dalam toleransi antaragama, meskipun terus diuji oleh dinamika geopolitik. Namun, semangat saling menghormati dan kebiasaan interaksi akrab antarwarga menjadikan Djerba sebagai “pulau koeksistensi” yang langka di kawasan Mediterania.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *