
Penulis: Muhammad Fathi Ilmy (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)
Tunis, 6 September 2025 — Gelombang solidaritas internasional untuk rakyat Gaza kian menguat. Tahun ini, lautan Mediterania menjadi saksi dari misi kemanusiaan laut terbesar sepanjang sejarah, yakni Global Sumud Flotilla. Dari Barcelona hingga Catania, dari Djerba hingga Tunis, kapal-kapal berlayar membawa bantuan makanan, obat-obatan, air bersih, hingga simbol harapan. Semuanya diarahkan menuju Gaza, menembus blokade Israel yang telah berlangsung lebih dari satu setengah dekade.
Flotilla ini tidak hanya menjadi perjalanan logistik, tetapi juga representasi moral dunia. Lebih dari 50 kapal dari 44 negara berlayar dengan keberanian yang sama: membela hak asasi dan martabat manusia. Sejak dilepas pada 31 Agustus 2025 dari Barcelona, perjalanan mereka diwarnai tantangan. Cuaca buruk memaksa sejumlah kapal kecil kembali ke pelabuhan, sementara ancaman Israel yang menyebut peserta flotilla sebagai “teroris” menambah tekanan politik. Meski demikian, semangat tidak surut. Dari seruan serikat pelabuhan Genoa untuk memblokir pengiriman ke Israel, hingga dukungan Presiden Kolombia Gustavo Petro, gelombang solidaritas dunia justru semakin deras.
Tunisia pun menjadi panggung penting dalam dinamika ini. Di Tunis, relawan dari berbagai penjuru dunia berkumpul, menyiapkan logistik tambahan—dari susu bayi hingga catatan cinta yang ditujukan untuk anak-anak Gaza. Pelabuhan Tunis kini dipenuhi kapal-kapal yang akan bergabung dengan armada besar dari Barcelona dan Catania. Dari sini, perjalanan kolektif itu akan kembali melaju ke perairan yang penuh risiko, membawa satu pesan sederhana: Gaza tidak sendiri.
Di tengah denyut solidaritas global tersebut, hadir peran strategis Indonesia. Melalui jalur diplomasi dan kontribusi sipil, Indonesia menunjukkan bahwa perjuangan ini bukan hanya simbol, tetapi juga gerakan nyata. Pada Jumat, 5 September, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tunis menjadi titik persinggahan spiritual dan diplomatik. Duta Besar RI untuk Tunisia, Zuhairi Misrawi, menggelar doa bersama dengan puluhan relawan Indonesia dari Indonesia Global Peace Convoy (IGPC). Sekitar 60 relawan hadir, termasuk dua jurnalis Metro TV. Dari jumlah itu, 34 orang bertekad berlayar hingga ke Gaza, meski harus berhadapan langsung dengan blokade militer Israel.
Dalam sambutannya, Dubes Zuhairi menekankan bahwa perjuangan kemanusiaan ini adalah kelanjutan dari semangat kemerdekaan yang diwariskan para pendiri bangsa. Tunisia, menurutnya, kini menjadi titik strategis yang menghubungkan armada internasional, dan KBRI siap menjadi ruang koordinasi, doa, sekaligus diplomasi sosial. Dukungan dari parlemen Tunisia pun semakin memperkuat gerakan ini. Seorang anggota parlemen, Mohamed Ali, bahkan menyerukan pembentukan aliansi parlemen internasional untuk membela Palestina, dan menyatakan kesediaannya ikut berlayar bersama flotilla.
Kontribusi sipil Indonesia juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Tokoh-tokoh seperti Asma Nadia dan Husein Gaza turut menyuarakan dukungan moral, sementara lembaga seperti International Networking for Humanitarian (INH) memainkan peran nyata di lapangan. INH yang berbasis di Bogor telah lama aktif dalam aksi solidaritas untuk Palestina. Pada semester pertama 2025 saja, mereka telah menyalurkan bantuan senilai Rp13 miliar yang menyentuh lebih dari dua juta warga Palestina. Kini, bersama NGO dan mahasiswa dari puluhan negara, INH ikut serta dalam flotilla dengan membawa solidaritas budaya, informasi, serta advokasi publik.
Dengan keberangkatan lebih dari 15.000 relawan, baik secara langsung maupun dalam bentuk dukungan virtual, Global Sumud Flotilla melampaui sekadar konvoi kemanusiaan. Ia menjelma sebagai simbol diplomasi rakyat, di mana individu, organisasi, parlemen, dan negara bersatu di atas nilai universal: kemanusiaan.
Indonesia, dalam hal ini, tampil dengan wajah ganda yang saling melengkapi: diplomasi resmi lewat peran Dubes Zuhairi Misrawi di Tunisia, dan diplomasi rakyat melalui IGPC, INH, Asma Nadia, hingga jurnalis yang ikut serta. Perpaduan keduanya menunjukkan bahwa perjuangan untuk Gaza bukanlah isu politik semata, melainkan panggilan nurani yang melibatkan tubuh, jiwa, dan doa.
Hari-hari ke depan akan menjadi fase kritis. Armada flotilla harus melewati ancaman Israel, cuaca buruk, dan berbagai tekanan internasional. Namun, satu hal pasti, Global Sumud Flotilla telah berhasil menyatukan dunia dalam suara yang sama. Dan Indonesia, dengan strategi diplomasi sistematis dan kontribusi sipilnya, telah memastikan diri hadir di garis depan solidaritas ini.