
Penulis: Muhammad Fathi Ilmy (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)
Tunis, Senin 8 September 2025—Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia menggelar diskusi publik bertajuk “Dialog Bersama Indonesia Global Peace Convoy: Solidaritas Global, Inspirasi dari Indonesia untuk Menembus Blokade Gaza.”
Acara dibuka dengan sambutan hangat oleh Ketua PPI Tunisia, Syarifuddin, yang menekankan pentingnya menyuarakan isu kemanusiaan Gaza dengan penuh kesungguhan—baik melalui perhatian jasmani maupun rohani, “Membebaskan rakyat Gaza dari belenggu blokade adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai umat manusia, bukan hanya umat Islam,” ujarnya penuh semangat.
Dialog berlangsung dinamis dengan menghadirkan dua narasumber utama: Ustadz Muhammad Husein Gaza, Koordinator Indonesia Global Peace Convoy (IGPC), dan Ustadz Bakhtiar Nasir, Penasihat IGPC. Keduanya membagikan pandangan mendalam tentang peran Indonesia dalam menggalang solidaritas internasional serta pentingnya strategi kolektif untuk menembus blokade Gaza.
Dalam pemaparannya, Ustadz Bakhtiar Nasir menekankan peran generasi muda sebagai calon pemimpin dunia yang harus mengusung nilai kesejahteraan dan keharmonisan universal, “Momen ini adalah saat yang tepat bagi generasi muda untuk mengimplementasikan ilmu, moralitas, dan aksi nyata. Perjuangan rakyat Palestina adalah perjuangan seluruh umat manusia, dan Baitul Maqdis harus dibebaskan dari genosida Zionis,” tegasnya.
Sementara itu, Ustadz Muhammad Husein Gaza menyoroti urgensi Baitul Maqdis dalam tradisi Islam. Ia mengingatkan bahwa sepertiga isi Al-Qur’an berbicara tentang Palestina, menegaskan betapa besarnya nilai spiritual kawasan tersebut, “Islam hanya akan mencapai kejayaannya jika Baitul Maqdis kembali berada di tangan umat Muslim. Karena itu, perjuangan Gaza bukan sekadar isu politik, melainkan amanah agama dan kemanusiaan,” tandasnya.
Diskusi semakin hidup ketika mahasiswa PPI Tunisia dan para peserta terlibat aktif mengangkat isu kontemporer seputar blokade Gaza, mulai dari dimensi politik, ekonomi, hingga peran masyarakat sipil internasional.
Dalam kesempatan itu, Ustadz Husein Gaza kembali menekankan pentingnya aksi nyata, “Blokade Gaza bukan hanya isu Palestina, tetapi isu kemanusiaan dunia. Indonesia memiliki sejarah panjang solidaritas lintas bangsa, dan gerakan Global Peace Convoy menjadi salah satu ikhtiar untuk menunjukkan bahwa kita tidak tinggal diam,” ungkapnya.
Senada, Ustadz Bakhtiar Nasir menegaskan aspek moral dari gerakan kemanusiaan ini, “Perjuangan untuk Gaza bukan sekadar agenda politik, tetapi panggilan nurani. Dari Tunisia, kita ingin mengirimkan pesan kepada dunia bahwa umat Islam, khususnya Indonesia, punya tanggung jawab moral untuk berdiri bersama rakyat tertindas,” jelasnya.
Acara ini dihadiri puluhan mahasiswa Indonesia, aktivis kemanusiaan, serta perwakilan organisasi masyarakat. Para peserta menilai forum semacam ini penting untuk memperkuat diplomasi rakyat (people-to-people diplomacy) yang bersifat inklusif dan mampu mendukung langkah-langkah diplomasi resmi pemerintah Indonesia di tingkat global.
PPI Tunisia dalam pernyataannya menegaskan bahwa solidaritas global tidak boleh berhenti pada slogan dan retorika. Ia harus diwujudkan dalam kerja nyata—dari tukar pikiran, advokasi, hingga aksi nyata kemanusiaan.
Acara ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan rakyat Gaza dan kelancaran misi kemanusiaan Indonesia Global Peace Convoy. Dari Tunis, gema solidaritas itu diharapkan menular ke berbagai belahan dunia, menjadi energi moral dalam memperjuangkan kebebasan Palestina dan menegakkan nilai kemanusiaan universal.