PPI TUNISIA

Dari Tunis, Suara Pembebasan Bergema: Indonesia dan Misi Masjidil Aqsa di Tengah Blokade Gaza

Penulis: Aqila Rahma Nayyara (Mahasiswi S1 Universitas Manouba, Manouba)

Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam membela isu kemanusiaan dan memperjuangkan keadilan global. Isu di Gaza bukan hanya persoalan politik, melainkan juga pengingat sekaligus pembangkit semangat bagi umat Islam untuk bersuara. Perjuangan ini tidak hanya ditujukan untuk membela masyarakat Gaza, tetapi juga untuk membebaskan Masjidil Aqsa dari cengkeraman Zionis, sebagai wujud kepedulian terhadap kemanusiaan dan solidaritas umat.

Komitmen Indonesia dalam perjuangan kemanusiaan global kembali diperkuat melalui sebuah acara inspiratif. Hal ini terlihat dari suksesnya penyelenggaraan Dialog Bersama Indonesia Global Peace Convoy (IGPC) yang bertajuk “Inspirasi Indonesia untuk Menembus Blokade Gaza” pada Senin (08/09/2025). Acara ini merupakan hasil kolaborasi antara Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Tunisia dan Persatuan Mahasiswa Malaysia (Permat) di Tunisia.

Dialog ini secara khusus membahas cara-cara untuk mencapai visi dan misi pembebasan Baitul Maqdis. Perjuangan ini menjadi inspirasi bagi Indonesia untuk berjuang hingga titik terakhir dalam melawan Israel dan menembus blokade Gaza.

Selain menyalurkan bantuan kemanusiaan, upaya ini juga bertujuan untuk memperjuangkan bangkitnya masa keemasan dan kejayaan Islam. Tema ini menjadi inti dari sebuah acara yang menghadirkan dua tokoh sentral, Ust. Bachtiar Nasir (selaku penasihat IGPC)  dan Ust. Muhammad Hussein Gaza (selaku koordinator IGPC), yang secara mendalam mengupas makna jihad, pentingnya Al-Qur’an, dan relevansi Baitul Maqdis dalam kehidupan umat Muslim modern.

Baitul Maqdis, atau Yerusalem, bukan sekadar sebuah kota suci yang terukir dalam lembaran sejarah, tetapi juga sebuah simbol perjuangan yang tak lekang oleh waktu dan barometer utama bagi kejayaan peradaban Islam.

Kedua pembicara sama sama berpendapat bahwa Kejayaan islam dilihat dari siapa yang menguasai masjidil aqsa. Mengapa gaza yang menjadi baromater kejayaan umat muslim ? Seperti yang kita tahu, gaza atau palestina sendiri merupakan negara dari para nabi, negara yang dijanjikan Allah SWT akan kedamaiannya. Seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Ma’idah, ayat 21:

“يَا قَوْمِ ادْخُلُوا الْأَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِي كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوا عَلَىٰ أَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ”

“Wahai kaumku! Masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah bagimu, dan janganlah kamu mundur ke belakang (karena takut kepada musuh), nanti kamu menjadi orang-orang yang rugi.”

Dalam tafsirnya, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa “Al-Ardh Al-Muqaddasah” adalah Ardh Bayt Al-Maqdis (Jerusalem). Allah SWT telah menetapkannya untuk Bani Israil melalui lisan Nabi Musa AS. Kata “كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ” (yang telah ditentukan Allah bagimu) berarti Allah telah menakdirkannya untuk kalian, memilihnya untuk kalian, dan memerintahkan kalian untuk memasukinya. Ini menunjukkan statusnya sebagai tanah yang dijanjikan.

Selain itu, meskipun gaza merupakan wilayah kecil di tepi Laut Mediterania, Namun, gaza sendiri memiliki posisi yang sangat kompleks dan strategis, menjadikannya pusat perhatian dunia. Wilayah ini bukan hanya sekadar tanah, melainkan sebuah persimpangan (crossroads) geopolitik, simbol perlawanan, dan titik kritis kemanusiaan.

Secara geografis, Gaza adalah sebuah titik temu yang unik. Terletak di pantai timur Laut Mediterania, Gaza berbatasan langsung dengan Mesir di selatan melalui perlintasan Rafah dan Israel di utara serta timur. Posisi ini menjadikannya jembatan alami antara Afrika Utara (Mesir) dan Asia Barat (Levant dan Israel). Akses ke laut melalui garis pantainya yang panjang seharusnya memberikan potensi besar untuk perdagangan maritim dan sumber daya perikanan, namun potensi ini terhambat oleh blokade laut ketat yang diterapkan oleh Israel.

Sehingga sampai saat ini, tidak hanya umat muslim. Namun, seluruh dunia sedang berupaya untuk membebaskan Gaza dari cengkeraman para zionis. Hak kemerdekaan dan kemanusiaan untuk gaza harus segera diberikan. Kita harus terus bergerak dan berjihad bukan hanya dengan reaksi semata, tapi juga eksekusi dengan aksi yang nyata. Maka dari itu, gerakan Sumud Flotilla Global Peace Convoy menjadi suatu bukti bahwasanya dukungan kita terhadap gaza bukan hanya saja reaksi semata, bukan hanya rasa dan doa melainkan aksi nyata yang penuh dengan semangat jihad untuk menembus blokade kemanusiaan di Palestina.

Indonesia mendukung penuh aksi ini, tercatat sebanyak kurang lebih 32 relawan indonesia, ikut serta turun langsung berhadapan dengan militer israel untuk menembus blokade gaza melalui jalur laut. Dunia tidak akan tinggal diam, jika digagalkan maka akan ada cara lain untuk membebaskan gaza. Bukan hanya demi merebut kembali masjidil aqsa, tetapi juga untuk membela hak asasi manusia yang sudah lama direnggut secara paksa.

Menurut Ust. Muhammad Hussein Gaza, perjuangan membebaskan Baitul Maqdis harus dimulai dari langkah yang paling sederhana, yaitu dari diri kita sendiri. Ia berpendapat bahwa pembebasan Masjidil Aqsa tidak akan berhasil jika masjid-masjid di sekitar kita masih sepi dari jemaah. Ini merupakan seruan untuk mengaktifkan kembali peran masjid sebagai pusat kegiatan umat, dimulai dari lingkungan terdekat.

Selain itu, Ust. Hussein mengajak kita menjadi generasi yang sadar dalam membangun “algoritma dunia nyata”. Kita perlu menghindari racun media sosial yang kerap menjangkiti peradaban. Meskipun teknologi mempermudah akses informasi, ia juga bisa menjadi bumerang yang membuat kita abai terhadap isu-isu penting di dunia, termasuk Palestina. Oleh karena itu, bijak dalam memanfaatkan teknologi menjadi kunci agar teknologi benar-benar mempermudah, bukan malah mempersulit kita.

Sebagai generasi penerus, langkah sederhana lain yang tak kalah penting adalah menanamkan visi dan misi pembebasan Masjidil Aqsa kepada anak-anak sejak usia dini. Dengan mengenalkan perjuangan ini kepada generasi muda, kita memastikan estafet perjuangan ini terus berlanjut.

Pesan ini selaras dengan semangat perjuangan yang pernah digaungkan oleh pahlawan besar, Salahuddin Al-Ayyubi. Salahuddin pernah berucap, “Bagaimana aku bisa tersenyum lagi, sementara Yerusalem masih dalam cengkeraman orang-orang kafir?” Kutipan ini bukan sekadar kalimat, melainkan cerminan dari hati yang merasakan duka mendalam atas kondisi Al-Quds.

Sikap yang sama seharusnya menjadi pemantik bagi kita. Perjuangan untuk membebaskan Al-Quds adalah perjuangan kolektif yang menuntut komitmen dari setiap individu. Selama Al-Quds belum merdeka, duka Salahuddin adalah duka kita semua. Pesan ini menandakan bahwa palestina harus merdeka dan itu menjadi tanggung jawab bagi kita semua.

Acara dialog yang diselenggarakan di Tunis ini menegaskan bahwa perjuangan untuk Gaza dan pembebasan Masjidil Aqsa adalah visi besar yang melibatkan seluruh umat Islam, termasuk Indonesia. Isu ini tidak hanya sebatas persoalan geopolitik, melainkan cerminan dari jati diri dan kejayaan peradaban Islam yang berlandaskan pada Al-Qur’an.

Gaza, dengan posisi strategis dan nilai simbolisnya, telah menjadi barometer bagi perjuangan global. Namun, seperti yang ditekankan oleh Ust. Muhammad Hussein Gaza dan Ust. Bachtiar Nasir, perjuangan sejati dimulai dari langkah sederhana menghidupkan kembali masjid-masjid dan membangun kesadaran di tingkat individu.

Perjuangan untuk membebaskan Al-Quds adalah tanggung jawab kolektif yang menuntut aksi nyata, bukan hanya reaksi semata. Oleh karena itu, mari kita terus bergerak dan berjihad, baik di medan juang fisik maupun di medan dakwah, hingga Baitul Maqdis kembali merdeka.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *