PPI TUNISIA

Career Day PPI Tunisia ke-32: Penguatan Intelektualisme Diaspora dalam Pembangunan Bangsa

Penulis: Hasna May Ziadah (Mahasiswi S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)

Milad PPI Tunisia – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia sukses menyelenggarakan Career Day ke-32 secara daring melalui platform Zoom Meeting pada Jumat, 30 Januari 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian acara puncak Milad PPI Tunisia ke-32 dan diikuti oleh mahasiswa serta warga PPI Tunisia dengan antusias.

Mengusung tema “Meneguhkan Intelektualisme dan Pemberdayaan Diaspora”, Career Day PPI Tunisia diselenggarakan selama tiga sesi, mencangkup mengenai diplomasi, peran diaspora, sistem berpikir strategis, serta kontribusi intelektual generasi muda Indonesia di luar negeri terhadap masa depan bangsa.

Sesi pertama Career Day dibuka dengan pemaparan oleh Bagus Hendraning Kobarsyih, bekerja sebagai Konsul Republik Indonesia untuk Northern Territory (Darwin, Australia). Dalam paparannya, ia menekankan bahwa diplomasi sejatinya lahir dari tingkat peradaban suatu bangsa. Menurutnya, peradaban yang masih rendah cenderung menyelesaikan konflik dengan kekerasan, sementara peradaban yang matang mengutamakan dialog, perundingan, negosiasi, dan komunikasi yang beradab.

Dalam pembahasan lebih lanjut, pemateri menjelaskan pentingnya soft power sebagai kekuatan utama negara di era modern. Soft power bekerja melalui daya tarik nilai, budaya, pendidikan, dan keteladanan, bukan melalui paksaan. Ia mencontohkan bagaimana budaya populer seperti Korea Selatan, sebagai pusat daya tarik industri musik dan hiburan, mampu memengaruhi dunia secara damai. Dalam konteks ini, mahasiswa Indonesia di luar negeri, termasuk yang berada di Tunisia dapat secara tidak langsung berperan sebagai representasi Indonesia melalui sikap, etika, dan kapasitas intelektual mereka.

Selain itu, diplomasi tidak dapat dilepaskan dari kemampuan negosiasi dan komunikasi. Negosiasi dipahami sebagai seni kemudian mencari titik temu dengan memahami posisi dan kekuatan diri sendiri. Seseorang tidak dapat menawar tanpa memiliki nilai atau power atribut  yakni atribut yang terbentuk dari pengetahuan dan pengalaman. Oleh karena itu, kesadaran akan kapasitas diri dan kemampuan membaca situasi menjadi kunci keberhasilan dalam negosiasi, baik dalam dunia profesional maupun kehidupan sehari-hari.

Dalam aspek komunikasi, pemateri menekankan pentingnya membedakan komunikasi lisan dan tertulis. Komunikasi lisan bersifat kontekstual dan dipengaruhi oleh bahasa tubuh serta gestur, sementara komunikasi tertulis menuntut ketelitian, kesantunan, dan struktur bahasa yang jelas. Kesalahan dalam berkomunikasi, terutama dalam konteks diplomasi dan urusan negara, dapat berdampak serius dan bahkan berakibat fatal bagi hubungan antar pihak.

Sesi pertama ini menegaskan bahwa menjadi intelektual dan diplomat bukan hanya soal kecerdasan intelektual, tetapi juga menyangkut ketahanan mental, konsistensi, moralitas, serta kedalaman literasi. Di tengah arus informasi yang cepat, membaca buku, memahami sejarah, dan mengembangkan daya kritis menjadi syarat utama agar seseorang tidak sekadar mengetahui, tetapi benar-benar memahami dan mampu menelaah persoalan secara mendalam.

Sesi kedua Career Day menghadirkan diskusi yang lebih reflektif dan struktural mengenai peran individu dalam sistem sosial dan kebangsaan. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk melampaui pertanyaan-pertanyaan pragmatis seperti “kerja apa”, “gaji berapa”, dan “di mana bekerja”, menuju pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu peran apa yang ingin diambil dalam kehidupan sosial dan kebangsaan.

Pemateri sesi ini oleh Fahd Pahdepie, menekankan bahwa berpikir individual tidak identik dengan sikap egois. Individu yang matang justru mampu menempatkan dirinya dalam konteks yang lebih luas, yakni masyarakat, bangsa, dan peradaban. Indonesia Emas 2045 dipandang bukan sekadar target ekonomi, melainkan proyek peradaban yang membutuhkan narasi kolektif, imajinasi masa depan, tata kelola yang berintegritas, serta kesadaran terhadap ketimpangan yang masih menghambat kemajuan bangsa.

Dalam sesi ini juga diperkenalkan pendekatan system thinking, di mana kehidupan sehari hari  nyatanya juga termasuk dari bagian struktural sebuah politik dalam lingkup kecil dan berlanjut dengan terbentuknya kebijakan hingga bergerak melalui relasi kuasa. Perubahan tidak cukup hanya dengan niat baik, tetapi memerlukan power yang memadai untuk memengaruhi sistem. Power tidak selalu berbentuk uang atau jabatan, melainkan dapat berupa ilmu pengetahuan, jaringan, reputasi, keahlian, dan legitimasi sosial.

Mahasiswa dan diaspora didorong untuk membaca realitas secara strategis, memahami aktor-aktor yang berperan, aturan main yang berlaku, serta posisi diri dalam sistem tersebut. Fokus dan pendalaman pada satu bidang dinilai lebih penting daripada menguasai banyak hal secara dangkal, tanpa adanya suatu arah dan kejelasan. Relevansi dan kedalaman kompetensi menjadi faktor penentu agar seseorang tidak terombang-ambing oleh dinamika zaman.

Sesi ketiga Career Day menghadirkan refleksi filosofis dan historis mengenai intelektualisme diaspora Indonesia di Tunisia, yang disampaikan oleh Fathurrahman Yahya. Ia menegaskan bahwa dalam tradisi Islam, intelektualisme menempati posisi sentral sebagai fondasi peradaban. Wahyu pertama Iqra’ menandai bahwa pembangunan umat tidak dapat dipisahkan dari pengetahuan, nalar kritis, dan etika moral.

Sejarah kejayaan Islam menunjukkan bahwa kemajuan ekonomi, politik, dan kebudayaan selalu berjalan beriringan dengan kuatnya tradisi intelektual, mulai dari pendidikan, riset, hingga produksi gagasan. Dalam konteks Indonesia Emas 2045, penguatan intelektualisme menjadi prasyarat mutlak untuk membangun manusia unggul dan peradaban yang berkeadilan. Di sinilah diaspora akademik Indonesia memiliki peran strategis sebagai penghubung antara pengetahuan global dan kebutuhan pembangunan nasional.

Namun demikian, tantangan intelektualisme Muslim masih besar, mulai dari kooptasi kekuasaan, melemahnya tradisi kritis, hingga minimnya transformasi gagasan menjadi kebijakan konkret. Ketimpangan ekonomi umat, rendahnya literasi, dan lemahnya institusi pendidikan Islam menunjukkan bahwa keterpurukan bukanlah takdir, melainkan hasil dari struktur yang belum dibenahi.

Mengacu pada pemikiran Antonio Gramsci, pemateri menegaskan bahwa intelektual tidak cukup menjadi “intelektual tradisional” yang merasa netral dan berada di atas masyarakat. Yang dibutuhkan adalah intelektual organik, yakni intelektual yang lahir dari realitas sosial, berpihak pada transformasi, serta mampu menjembatani antara kampus, masyarakat, dan negara.

Career Day PPI Tunisia ke-32 menegaskan bahwa generasi muda diaspora Indonesia bukanlah penonton sejarah, melainkan aktor strategis dalam perjalanan bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Melalui penguatan intelektualisme, ketajaman moral, kejelasan peran, dan kesiapan strategi, diaspora Indonesia dapat menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan bangsa.

Indonesia Emas 2045 hanya dapat terwujud apabila pembangunan ekonomi, sosial, dan politik ditopang oleh tradisi intelektual yang kuat, dan tradisi yang berpijak pada ilmu pengetahuan, etika, serta keberanian untuk mengambil peran. Dari Tunisia, generasi muda Indonesia dihadapkan pada sebuah pilihan sekaligus tanggung jawab historis dalam membuktikan gagasan besar yang diusung dalam Career Day PPI Tunisia ke-32 melalui penciptaan lingkungan intelektual yang sehat, kritis, dan kondusif.

Upaya tersebut menuntut tidak hanya kecerdasan intelektual, tetapi juga kemampuan mengelola mental secara berkelanjutan agar mampu menopang proses pembentukan karier dan kontribusi diaspora di masa depan. Intelektualitas semata tidaklah cukup tanpa disertai ketangguhan jiwa. Daya tahan, konsistensi, dan sikap pantang menyerah menjadi modal penting dalam menghadapi kompleksitas tantangan global yang semakin rumit.

Selain itu, moral dan akhlak tidak boleh terpinggirkan. Justru aspek inilah yang membentuk karakter kuat dan menjadi benteng utama dalam menghadapi arus perubahan zaman. Dengan fondasi tersebut, generasi muda diaspora Indonesia tidak sekadar hadir sebagai bagian dari arus global, melainkan bangkit sebagai intelektual yang siap berkontribusi nyata serta turut menguasai dan mengarahkan perjalanan sejarah bangsa.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *