
Penulis Jurnal: Muhammad Dharma Setiadi, Lc., MA (Alumni Magister Aqidah & Filsafat Islam, Universitas Ez-Zitouna Tunisia)
Penulis Artikel: Aqilah Firyal Haya (Mahasiswi S1 jurusan Aqidah dan Ilmu kalam, Universitas Zaitunah, Tunisia)
Kebahagiaan merupakan salah satu tema utama dalam diskursus filsafat, baik dalam tradisi filsafat Barat maupun Islam. Dalam khazanah pemikiran Islam, salah satu tokoh yang memberikan kontribusi besar dalam pembahasan tentang kebahagiaan sejati adalah Abu Hamid al-Ghazali. Melalui pendekatan filsafat tasawuf, al-Ghazali menekankan pentingnya pembersihan jiwa dan pengenalan mendalam terhadap Tuhan (ma‘rifatullah) sebagai jalan menuju kebahagiaan hakiki.
Al-Ghazali dikenal sebagai figur yang berhasil menyinergikan antara akal dan intuisi, antara syariat dan hakikat. Dalam karyanya, ia menggunakan pendekatan sufistik-filosofis dalam memahami realitas dan tujuan hidup manusia. Kebahagiaan dalam pandangannya bukan sekadar kondisi emosional atau kenikmatan duniawi, tetapi merupakan pengalaman batin yang mendalam atas kehadiran Tuhan dalam diri manusia.
Filsafat tasawuf muncul sebagai upaya mengintegrasikan nilai-nilai tasawuf ke dalam kerangka filosofis yang sistematis. Tasawuf falsafi berkembang terutama pada abad keempat hijriyah seiring dengan maraknya penerjemahan karya-karya filsafat Yunani, khususnya neoplatonisme. Dalam perkembangannya, filsafat tasawuf memiliki beberapa aliran yang dikembangkan oleh para tokohnya, seperti “ittihad” yang dikembangan oleh Abu Yazid al-Busthami, “Hulul, Nur Muhammad, Wahdat al-Adyan”nya Husein bin Mansur al-Hallaj, “al-Isyraqi”nya Abu al-Futuh Suhrawardi, “Wahdat al-Wujud dan al-Haqiqah a-Muhammadiyah”nya Ibnu ‘Arabi, serta “Wahdat al-Syuhud”nya al-Ghazali.
Al-Ghazali, meskipun tidak sepenuhnya dikategorikan sebagai sufi-falsafi -karena ia mengkritik dan menolak bagian filsafat yang bertentangan dengan akidah Islam dan hanya menggunakan filsafat untuk memperkuat iman dan tasawuf, bukan untuk menggantikan wahyu- mengadopsi pendekatan filsafat tasawuf dengan sangat mendalam. Ia memadukan antara rasionalitas teologis (ilmu kalam), metode filosofis, dan pengalaman spiritual yang bersumber dari tasawuf sunni.
Konsep Kebahagiaan dalam Pemikiran Islam
Secara etimologis, kata kebahagiaan dalam bahasa Arab berasal dari “sa‘ādah” dan “as’ada” yang berarti keberuntungan, keberhasilan, dan kesenangan, lawan dari kata “al-Syaqawah” yang berarti penderitaan.
Secara terminologi, para filsuf Yunani seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles memandang kebahagiaan sebagai suatu kenikmatan, kepuasan, keutamaan dan kemuliaan hidup serta kesempurnaan jiwa.
1) Socrates (wafat 399 SM): “kebahagiaan” tidak terdapat pada keindahan, kekuatan, kekayaan maupun fenomena-fenomena lahiriah, akan tetapi kebahagiaan merupakan keadaan yang bermakna, tidak juga pada tindakan dalam merasakan kenikmatan dan kepuasan, akan tetapi berpegang teguh pada keutamaan hidup yang bermakna.
2) Plato (wafat 347 SM): “kebahagiaan” terletak pada pencarian keutamaan dan kemuliaan hidup berupa puncak suatu kebaikan.
3) Aristoteles (wafat 222 SM): “kebahagiaan” adalah saat di mana manusia mampu merealisasikan puncak kebaikan, karena di sanalah terdapat kemuliaan yang merupakan representasi dari hidup yang bermakna.
Sementara dalam pandangan filsuf Muslim klasik seperti al-Kindi, al-Farabi, dan Ibn Sina, kebahagiaan berkaitan erat dengan kesempurnaan akal dan jiwa. Mereka menekankan bahwa kebahagiaan sejati dicapai melalui aktivitas intelektual dan kontemplatif yang membawa manusia menuju pengetahuan tentang Tuhan.
1) al-Kindi (wafat 873 M): “kebahagiaan” terletak pada kesucian jiwa yang merupakan esensi manusia. Di antara keistimewaan jiwa adalah dengan ditiupkannya ruh dan cahaya oleh Tuhan, karenanya teranglah jiwa hingga mencapai tahap kesuciannya, sesungguhnya ini adalah bentuk kemuliaan pada diri manusia.
2) al-Farabi (wafat 950 M): “kebahagiaan” adalah tujuan tertinggi yang ingin diraih oleh setiap manusia dengan penuh kesungguhan, karena kebahagiaan merupakan sesuatu yang terbaik di antara ragam hal-hal kebaikan.
3) Ibnu Miskawayh (wafat 1030 M): beliau membagi “konsep kebahagiaan” kepada dua tingkatan; kebahagiaan level rendah dan tinggi. Menurutnya, “kebahagiaan level rendah” adalah kebahagiaan jasmani. Kebahagiaan pada level ini bukanlah akhir dari suatu tujuan yang diraih, melainkan perantara dan proses awal dalam meraih kebahagiaan tertinggi. Sedangkan “kebahagiaan level tinggi” menurut Miskawayh adalah kemuliaan tertinggi dalam hidup manusia
Berbeda dengan itu, al-Ghazali menekankan pada aspek ruhaniyahnya. Menurutnya, kebahagiaan sejati tidak hanya diperoleh dari pemahaman rasional terhadap Tuhan, tetapi juga melalui penyucian jiwa dan penghayatan batin terhadap kehadiran Ilahi.
Al-Ghazali berpendapat bahwa kebahagiaan sejati dapat dicapai dengan cara menyucikan jiwa dari dosa-dosa dan menghiasinya dengan amal-amal sholeh. Jiwa yang suci adalah jiwa yang siap dalam menempuh perjalanan penuh perjuangan menjumpai Allah SWT dan sampai kepada kebahagiaan akhirat yang abadi.
Kebahagiaan sejati terjadi ketika manusia mencapai fase kesempurnaannya, yaitu saat manusia menggunakan akalnya dalam mencari hakikat segala sesuatu, bukan sesuatu yang rancu ataupun bersifat inderawi. Manusia dianugerahi oleh Allah keistimewaan berupa akal yang berfungsi sebagai alat untuk memahami berbagai hal, ketika dia menggunakan akalnya dalam hal kebaikan seperti mencari hakikat segala sesuatu yang eksis, saat itu pula dia menjadi manusia mulia.
Kebahagiaan sejati dapat dirasakan oleh manusia ketika di dalam jiwanya disinari oleh cahaya Ilahi, sehingga hanya Allah yang senantiasa menjadi tujuannya. Tatkala dalam situasi seperti ini, jiwa manusia memiliki kecenderungan untuk senantiasa melakukan amal shaleh sebagai upaya mempertahankan kesucian jiwanya dan kedekatan dengan Tuhannya.
Kebahagiaan sejati juga dapat dirasakan ketika manusia mendapatkan ilham dari Allah. Cara menggapainya adalah dengan melepaskan diri dari segala ikatan yang bersifat duniawi. Karena jiwa yang terbelenggu oleh rasa cinta terhadap dunia menjadi penyebab sulitnya ilham masuk ke dalam jiwa.
Dalam kitab “Kimia as-Sa’adah” karangan al-Ghazali, Puncak dari kebahagiaan Sejati terletak pada “Ma’rifatullah” dan “Musyahadah Hadrah al-Ilahiyah” Jamalil atau menggapai kebahagiaan melalui penyaksian batin terhadap keindahan dan kehadiran Tuhan dalam hidup.
Konsep “Wahdat al-Syuhud” sebagai Puncak Spiritualitas
Salah satu konsep penting dalam tasawuf al-Ghazali adalah “wahdat al-syuhud”, yang berarti “kesatuan dalam penyaksian.” Dalam tahap spiritual ini, seorang hamba menyaksikan keesaan Tuhan dalam seluruh realitas tanpa mengklaim penyatuan hakikat antara makhluk dan Khalik sebagaimana dalam konsep wahdat al-wujud.
Menurut paham “Wahdat al-Syuhud”, keesaan Allah dapat disaksikan oleh mata batin manusia yang mampu memfanakan dirinya di hadapan Tuhan atau melenyapkan hijab dan dinding penghalang yang membatasi mata hatinya dengan Tuhan.
Sebagai akibat dari penyaksian mata batin itu, keyakinan tentang keesaan Allah meningkat ke taraf yang tertinggi, atau dengan kata lain lebih tinggi dari taraf keyakinan yang hanya berupa membenarkan berita al-Quran dan Hadits yang diperkuat dengan argumentasi rasional. Penyaksian keesaan Tuhan sekaligus berarti pengakuan bahwa hanyalah Allah satu-satunya wujud yang hakiki yang disaksikan oleh mata batin seseorang yang memperoleh kasyaf. Wujud semua alam empiris termasuk dirinya pada saat itu lenyap, baik dari mata batin maupun mata hati.
Bagi al-Ghazali, pengalaman spiritual semacam ini merupakan bentuk tertinggi dari kebahagiaan. Ia menggambarkan keadaan ini sebagai ketiadaan penglihatan terhadap apa pun selain Allah. Dunia dan segala isinya lenyap dari kesadaran, dan yang tersisa hanyalah kehadiran Ilahi yang memenuhi jiwa.
Dalam hal membahas tentang kebahagiaan, al-Ghazali sangat fokus terhadap esensi makna dan konsep filosofis, sehingga kebahagiaan yang diraih oleh setiap manusia tidak hanya bersifat sementara dan temporal, akan tetapi bersifat abadi, hakiki dan sejati.
Oleh karena itu, dalam pandangan al-Ghazali berdasarkan konsep “Wahdat al-Syuhud”, kebahagiaan sejati dimaknai sebagai tujuan akhir dalam pencapaian hidup manusia di dunia dan akhirat, tidak ada lagi kebahagiaan yang lebih tinggi derajatnya daripada kebagiaan saat mengenal Allah secara mendalam, senantiasa merasa dekat dengan-Nya, serta dapat menyaksikan keindahan-Nya.
Kebahagiaan dalam perspektif ini adalah kelezatan batin yang melampaui segala bentuk kenikmatan fisik. Inilah yang disebut al-Ghazali sebagai kebahagiaan sejati, yang tidak tergantung pada kondisi eksternal, tetapi pada keterhubungan total antara jiwa manusia dan Tuhan.
Kimia al-Sa‘ādah: Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati
Dalam kitab “Kimia al-Sa‘ādah”, al-Ghazali merinci dua hal pokok sebagai syarat tercapainya kebahagiaan sejati. Pertama adalah “ma‘rifatullah”, yakni pengenalan terhadap Allah secara mendalam. Pengenalan ini tidak cukup dengan pengetahuan teologis semata, tetapi harus diiringi dengan pengalaman spiritual. Mengenal Allah dalam konsep ini mencakup “Ma’rifah al-Sifat” yaitu pengenalan terhadap Sifat-Sifat-Nya, “Ma’rifah al-Asma” yaitu pengenalan terhadap Nama-nama-Nya, dan “Ma’rifah al-Af’al” yaitu pengenalan terhadap Perbuatan-Nya.
Kedua adalah “ma‘rifah al-nafs”, yakni pengenalan terhadap diri sendiri serta beberapa komponen di dalamnya seperti ruh, hati, akal, nafsu, bala tentara jiwa, dam sifat-sifat makhluk selain manusia yang ada di dalam jiwa. Al-Ghazali menekankan bahwa siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya. Pengenalan ini mencakup kesadaran atas kelemahan, kebutuhan, dan ketergantungan total manusia kepada Allah. Dengan mengetahui hakikat dirinya, manusia akan sampai pada kesadaran akan hakikat Tuhannya.
Dengan kedua hal tersebut, manusia diarahkan untuk membersihkan hati dari penyakit ruhani seperti riya’, hasad, ujub, dan cinta dunia. Dalam kondisi hati yang suci dan bersih, cahaya Ilahi akan masuk dan memberi penerangan kepada akal dan jiwa, sehingga kebahagiaan sejati dapat dicapai.
Kebahagiaan dalam perspektif al-Ghazali merupakan hasil dari proses panjang penyucian jiwa, pengenalan diri, dan pengenalan terhadap Tuhan. Dengan konsep “wahdat al-syuhud”, al-Ghazali memberikan solusi spiritual terhadap krisis makna dalam kehidupan manusia. Menurutnya, kebahagiaan sejati bukan berada pada kepemilikan materi atau pencapaian duniawi, tetapi pada keterhubungan eksistensial yang mendalam antara manusia dan Tuhan. Inilah inti dari epistemologi kebahagiaan sejati dalam filsafat tasawuf al-Ghazali.