PPI TUNISIA

Gen Z dan Paradoks Loyalitas

Penulis: Muhammad Fahad Azizi (Mahasiswa S1 Universitas az-Zaitunah, Tunis)

Belakangan ini, organisasi mahasiswa di berbagai kampus Indonesia mulai kehilangan daya tariknya. Jumlah anggota aktif menyusut secara signifikan, dan berbagai kegiatan rutin organisasi semakin sepi peminat. Dalam diskusi informal, mahasiswa Gen Z sering melontarkan kritik tajam seperti: “Terlalu banyak rapat dan Kumpulan, buang-buang waktu,” “Pengalaman itu nggak cuma didapat dari organisasi, lebih baik magang,” atau “Organisasi itu cuma nerusin sistem tua buatan gen milenial.”

Fenomena ini memunculkan pertanyaan yang perlu dijawab secara jujur dan berbasis data: apakah Gen Z benar-benar tidak loyal terhadap organisasi? Ataukah mereka hanya mengekspresikan bentuk loyalitas yang lebih sesuai dengan nilai-nilai dan cara pandang hidup mereka? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu memahami siapa sebenarnya Gen Z, serta bagaimana cara pandang mereka dibentuk oleh dinamika zaman digital dan perubahan sosial yang menyertainya.

Gen Z, yakni mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012, adalah generasi pertama yang hidup sepenuhnya dalam ekosistem digital. Sejak kecil, mereka telah terbiasa dengan internet, media sosial, serta aliran informasi yang cepat dan masif. Gen Z disebut sebagai generasi yang digerakkan oleh nilai, sangat peka terhadap ketidaktulusan, dan lebih tertarik pada pengalaman yang relevan secara personal. Mereka tidak tunduk pada otoritas formal atau jabatan struktural, namun akan dengan tulus mengikuti seseorang yang otentik, kolaboratif, dan memberikan ruang untuk bertumbuh.

Bagi generasi ini, loyalitas bukan lagi sekadar kontrak diam-diam yang menuntut kesetiaan jangka panjang, melainkan ekspresi dari keyakinan pribadi yang terus diuji secara kontekstual. Selama mereka melihat tujuan organisasi sejalan dengan nilai-nilai yang mereka pegang, mereka akan terlibat sepenuh hati. Namun, ketika terjadi ketimpangan antara nilai dan praktik, mereka akan memilih pergi tanpa rasa bersalah.

Ironisnya, banyak organisasi mahasiswa di perguruan tinggi Indonesia masih mempertahankan pola lama yang identik dengan era milenial awal 2000-an: struktur organisasi yang hierarkis dan kaku, sistem rekrutmen yang menekankan senioritas, serta gaya kepemimpinan yang lebih mementingkan jabatan daripada keteladanan. Rapat panjang yang tidak efisien, proposal yang tak pernah terealisasi, serta glorifikasi jabatan yang hampa makna menjadi pemandangan umum yang justru menjauhkan Gen Z.

Menurut artikel Kompas (Desember 2024), minat mahasiswa terhadap organisasi kampus menurun drastis karena mereka memandang kegiatan seperti magang atau program independen bersertifikat lebih relevan bagi karier mereka. Ini menunjukkan bahwa Gen Z tidak malas berkegiatan; mereka hanya tidak ingin terjebak dalam sistem yang tidak relevan dan tidak berdampak nyata bagi kehidupan mereka.

Dalam pandangan Gen Z, loyalitas tidak identik dengan kesetiaan terhadap institusi atau bendera, tetapi pada visi, nilai, dan kontribusi. Mereka akan merasa lebih nyaman berada dalam komunitas relawan bencana yang tidak memiliki struktur formal, namun mampu memberi ruang untuk aktualisasi diri dan pertumbuhan personal yang bermakna. Hal ini ditegaskan dalam studi IBM Institute for Business Value (2020) yang menemukan bahwa 72% Gen Z bersedia mendukung sebuah organisasi secara sukarela jika nilai dan misinya sejalan dengan keyakinan pribadi mereka—meskipun tidak mendapatkan kompensasi langsung.

Gaya kepemimpinan menjadi variabel penting dalam membentuk loyalitas Gen Z. Mereka tidak menyukai pemimpin yang otoriter, dogmatis, atau tidak terbuka terhadap kritik. Sebaliknya, mereka merespons positif pemimpin yang kolaboratif, jujur, dan mampu mengakui kesalahan. Harvard Business Review (2021) mencatat bahwa pemimpin yang memberikan umpan balik secara terbuka, membuka ruang dialog, dan bersedia tumbuh bersama justru lebih mampu menciptakan keterikatan yang dalam dengan Gen Z. Rob Goffee dan Gareth Jones menyebut tipe ini sebagai “pemimpin otentik”—seseorang yang tidak menyembunyikan sisi rentannya, dan justru dengan itu mampu menyentuh hati pengikutnya.

Loyalitas Gen Z juga tidak dapat dilepaskan dari pengaruh media sosial. Keterikatan kini tidak hanya dibangun secara fisik, tetapi juga digital. Keberadaan organisasi di platform digital menjadi krusial: jika tidak hadir secara aktif di sana, mereka dianggap tidak relevan. Visualisasi kegiatan, narasi bermakna, serta branding personal anggota menjadi elemen penting dalam membentuk loyalitas digital. Bahkan sebuah organisasi kecil, tetapi aktif di Instagram dengan konten yang autentik dan berdampak, bisa jauh lebih menarik dibanding organisasi besar yang hanya hidup dalam papan pengumuman kampus.

Namun, tidak semua organisasi kalah dalam kompetisi relevansi ini. Beberapa justru tumbuh subur karena mampu beradaptasi. AIESEC tetap relevan karena menawarkan pengalaman pertukaran global yang konkret. Komunitas Google Developer Student Clubs (GDSC) berkembang pesat karena menghubungkan mahasiswa dengan dunia industri teknologi secara langsung. Bahkan organisasi berbasis nilai seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, atau komunitas dakwah progresif tetap mampu menyentuh Gen Z karena menawarkan makna hidup, bukan sekadar agenda tahunan.

Jika organisasi mahasiswa ingin tetap relevan, maka mereka harus berani berubah. Bukan sekadar meniru gaya Gen Z secara dangkal—dengan sekadar membuat akun media sosial atau merancang acara kekinian—tetapi dengan membuka ruang partisipasi yang lebih inklusif dan adaptif. Struktur yang kaku perlu diganti dengan model proyek kolaboratif. Rapat panjang diganti dengan diskusi ringkas yang terbuka dan terarah. Usulan tidak hanya datang dari atas, tetapi dari semua anggota. Yang terpenting, setiap keterlibatan harus memberikan makna: Apa dampaknya? Bagaimana kontribusi individu akan dihargai? Apa relevansinya terhadap masa depan mereka?

Pada akhirnya, Gen Z tidak menolak organisasi. Mereka hanya menolak sistem yang tidak bermakna. Bagi mereka, loyalitas bukanlah bentuk kesetiaan terhadap tradisi atau struktur lama, melainkan komitmen terhadap kontribusi nyata, ruang aktualisasi diri, dan pengalaman hidup yang otentik. Bila organisasi mampu menghadirkan semua itu, maka loyalitas Gen Z tidak hanya akan hadir kembali—tetapi juga akan jauh lebih kuat dan tulus dibanding generasi sebelumnya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *