PPI TUNISIA

Dirgahayu Republik Indonesia ke-80: Mempererat Diplomasi Indonesia dan Tunisia

Penulis: Aqila Rahma Nayyara (Mahasiswi S1 Universitas Manouba, Manouba)

Peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia (RI) di Tunisia menjadi momentum penting yang tidak hanya dirayakan oleh warga negara Indonesia, tetapi juga dirasakan hangat oleh masyarakat Tunisia. Perayaan ini menandai eratnya ikatan persahabatan antara kedua negar yang telah terjalin selama lebih dari enam dekade.

Hubungan tersebut diperkuat melalui dukungan timbal balik. Tunisia memandang Indonesia sebagai contoh keberhasilan demokrasi di negara berpenduduk mayoritas Muslim, sementara Indonesia secara konsisten memberikan dukungan terhadap proses transisi demokrasi di Tunisia. Hubungan diplomatik ini tidak sekadar urusan politik formal, melainkan juga jembatan solidaritas, kebersamaan, dan saling menginspirasi.

Warisan Sejarah dan Konferensi Asia-Afrika

Sejarah hubungan diplomatik Indonesia dan Tunisia bermula pada tahun 1955. Hubungan ini dibangun di atas semangat persahabatan, solidaritas, dan perjuangan untuk kemerdekaan. Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Bandung menjadi momen krusial yang menginspirasi perjuangan rakyat Tunisia, jauh sebelum negeri itu meraih kemerdekaan.

Solidaritas antara kedua bangsa berakar kuat dari konferensi tersebut. Tujuan utama KAA adalah memperkuat persatuan negara-negara Asia dan Afrika, menolak segala bentuk kolonialisme, serta mempromosikan perdamaian dunia di tengah ketegangan Perang Dingin.

Meskipun Tunisia belum merdeka pada waktu itu, semangat Dasa Sila Bandung yang digaungkan oleh Presiden Soekarno memberikan dorongan moral sekaligus legitimasi politik bagi perjuangan nasionalis Tunisia yang dipimpin Habib Bourguiba. Prinsip mengenai hak menentukan nasib sendiri menjadi dasar kuat perjuangan Tunisia di mata dunia.

Habib Bourguiba, yang kelak menjadi presiden pertama Tunisia pernah menyampaikan bahwa pidato-pidato Bung Karno di Bandung membangkitkan optimisme besar bagi bangsa-bangsa yang masih terjajah. Dengan demikian, konferensi di Bandung bukan hanya sekadar pertemuan, melainkan simbol persatuan bangsa-bangsa tertindas, sekaligus menjadi salah satu fondasi penting bagi kemerdekaan Tunisia pada tahun 1956.

Ikatan sejarah antara Proklamator Kemerdekaan RI, Presiden Soekarno, dan Presiden Bourguiba menjadi pilar persahabatan kedua bangsa. Dari hubungan historis tersebut, kerja sama Indonesia dan Tunisia terus berkembang, mencakup bidang politik, ekonomi, pendidikan, hingga kebudayaan. Semangat yang diwariskan oleh Soekarno dan Bourguiba tetap hidup dalam dinamika diplomasi kedua negara hingga saat ini.

Kerja Sama Kontemporer

Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Tunis, di bawah kepemimpinan Duta Besar Zuhairi Misrawi, aktif menjalin komunikasi dengan pejabat pemerintah maupun pelaku usaha Tunisia untuk memperkuat kerja sama bilateral. Media lokal terkemuka, Al-Maghreb, melaporkan bahwa KBRI saat ini memfokuskan perhatian pada peningkatan investasi serta kerja sama di sektor ekonomi dan kebudayaan.

Di bidang ekonomi, nilai ekspor Indonesia ke Tunisia telah mencapai sekitar 900 juta dolar AS per tahun, dengan komoditas unggulan seperti minyak kelapa sawit dan kopi. Selain itu, terdapat peluang baru dalam perdagangan produk halal, tekstil, serta industri kreatif yang tengah berkembang pesat di Indonesia.

Di bidang pendidikan, kerja sama kedua negara semakin aktif. Setiap tahun, mahasiswa Tunisia memperoleh kesempatan belajar di Indonesia melalui program beasiswa maupun nota kesepahaman (MoU). Tidak sedikit mahasiswa Tunisia yang mempelajari bahasa Indonesia, seni gamelan, hingga kajian Islam Nusantara di berbagai universitas. Sebaliknya, mahasiswa Indonesia juga memperoleh kesempatan magang dan penelitian di Tunisia, terutama di bidang kajian Arab, sejarah Islam, dan kebudayaan Mediterania. Pertukaran generasi muda ini menjadi aset penting dalam memperkuat hubungan jangka panjang.

Di bidang kebudayaan, KBRI secara rutin mengadakan pameran batik, pertunjukan tari, hingga festival kuliner. Antusiasme masyarakat Tunisia terhadap budaya Indonesia cukup tinggi, karena keduanya sama-sama memiliki tradisi Islam yang kuat sekaligus kaya akan keragaman budaya lokal.

Peringatan HUT RI ke-80 di Tunis

Puncak peringatan HUT RI ke-80 di Tunis ditandai dengan peluncuran sejumlah buku diplomasi Indonesia dalam bahasa Arab di Wisma Duta Besar Republik Indonesia. Buku-buku tersebut meliputi Indonesia wa Tunis Ashab: al-Diplomasiyyah al-Indonesiyyah fi Tunis, Ruhul Islam (terjemahan karya Bung Karno Api Islam), karya Buya Syafii Maarif al-Islam fi Siyaq al-Khushushiyyah al-Indonesiyyah wa al-Insaniyyah, serta karya Wafa Trabelsi Rihlatu Fikr: Bayna Irhashat al-Hilm wa Taammulat al-Waqi’.

Acara peluncuran ini turut dihadiri sejumlah pejabat dan pengusaha terkemuka Tunisia. Buku-buku tersebut dibagikan kepada tamu undangan sebagai simbol penguatan jembatan diplomasi, persahabatan, dan pertukaran pemikiran antara Indonesia dan Tunisia.

Dalam sambutannya, Duta Besar Zuhairi Misrawi menegaskan bahwa kemerdekaan adalah momen untuk bersyukur, berbahagia, sekaligus berbuat yang terbaik bagi bangsa. Ia menilai penerbitan buku diplomasi dalam bahasa Arab merupakan sarana penting untuk memperkenalkan Indonesia secara lebih luas kepada masyarakat Tunisia, sekaligus memperkuat hubungan bilateral. Dubes juga menekankan pentingnya menyelami kembali pemikiran Bung Karno dan Bung Hatta sebagai proklamator bangsa, agar api perjuangan kemerdekaan tetap menyala dalam semangat generasi sekarang.

Relevansi di Tengah Tantangan Global

Kerja sama Indonesia–Tunisia juga relevan dalam menghadapi tantangan global saat ini. Isu perubahan iklim, ketahanan pangan, dan energi terbarukan menjadi agenda yang dapat dikerjakan bersama. Indonesia sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar dunia dapat bekerja sama dengan Tunisia untuk mengembangkan energi berbasis biomassa. Sementara itu, Tunisia dengan pengalaman pengelolaan energi surya di kawasan Mediterania dapat menjadi mitra penting bagi Indonesia dalam pengembangan energi bersih.

Peringatan kemerdekaan RI di Tunisia tahun ini mengingatkan kedua bangsa bahwa perjuangan melawan penjajahan dan penindasan selalu memerlukan solidaritas lintas batas. Bagi Indonesia, dukungan terhadap Tunisia bukan sekadar bagian dari diplomasi, tetapi juga pengejawantahan pesan Bung Karno bahwa “kemerdekaan adalah hak segala bangsa.”

Dengan landasan sejarah yang kuat, kerja sama yang nyata, serta visi menghadapi tantangan global bersama, persahabatan Indonesia dan Tunisia diharapkan semakin erat. Hubungan ini tidak hanya memperkuat kerja sama pemerintah, tetapi juga memperdalam ikatan antar-masyarakat. Di masa mendatang, semangat Bandung 1955 yang pernah menyatukan kedua bangsa diyakini akan terus hidup, membuka jalan bagi peluang kerja sama baru yang saling menguntungkan, dan membawa manfaat bagi kawasan Asia-Afrika maupun dunia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *