PPI TUNISIA

Hancurkan Kepastian, Temukan Kebenaran

Oleh: Muhammad Aufa Syuja’ – Mahasiswa S1 Az-Zaitunah Kairouan, Tunisia

BPC Kairouan – Pernahkah kita mempertanyakan sesuatu yang selama ini kita anggap benar? Bukan karena kita ingin membantahnya, melainkan karena kita ingin mengetahui apakah keyakinan itu memang memiliki dasar yang kuat. Pertanyaan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dalam kehidupan sehari-hari, tidak semua orang bersedia melakukannya. Kita sering merasa nyaman dengan apa yang sudah kita ketahui. Sesuatu yang telah dipercaya sejak lama biasanya terasa benar, terlebih jika orang-orang di sekitar kita juga meyakininya. Akibatnya, kita terkadang lebih sibuk mempertahankan keyakinan daripada memeriksa apakah keyakinan itu layak dipertahankan.

Di sinilah pemikiran René Descartes menjadi menarik. Filsuf asal Prancis yang hidup pada abad ke-17 ini mengajak kita melihat kembali cara manusia memperoleh pengetahuan. Baginya, mencari kebenaran tidak cukup hanya dengan menerima apa yang diwariskan, dipelajari, atau dianggap benar oleh banyak orang. Kita perlu memeriksa dasar dari setiap keyakinan dan menggunakan akal secara cermat untuk menentukan apa yang benar-benar dapat dipercaya. Gagasan ini dibahasnya dalam Discourse on Method, sebuah karya yang menguraikan pengalamannya dalam mencari jalan menuju pengetahuan yang lebih pasti.

Descartes menyadari bahwa manusia dapat keliru. Indra yang kita gunakan untuk mengenali dunia terkadang memberikan kesan yang tidak tepat. Pendapat yang telah diterima secara luas pun belum tentu benar hanya karena banyak orang mempercayainya. Bahkan, pengetahuan yang diperoleh melalui pendidikan dan kebiasaan tetap perlu diperiksa. Kesadaran tersebut mendorong Descartes untuk tidak begitu saja menerima sesuatu sebagai kebenaran sebelum ia memiliki alasan yang cukup untuk mempercayainya.

Namun, meragukan segala sesuatu bukan berarti menolak semua pengetahuan atau menganggap bahwa tidak ada kebenaran. Keraguan Descartes memiliki tujuan yang lebih mendasar: menemukan pijakan yang tidak mudah digoyahkan. Ia ingin mengetahui apakah ada sesuatu yang tetap dapat dipercaya ketika berbagai keyakinan lain sedang dipertanyakan. Dengan kata lain, ia tidak ingin berhenti dalam keraguan, tetapi menjadikan keraguan sebagai jalan untuk menemukan kepastian.

Sikap tersebut menuntut keberanian intelektual. Sebab, mempertanyakan keyakinan sendiri sering kali lebih sulit daripada mempertanyakan keyakinan orang lain. Kita mungkin mudah menemukan kelemahan dalam pendapat seseorang, tetapi belum tentu bersedia melakukan hal yang sama terhadap pendapat kita sendiri. Ada rasa nyaman yang muncul ketika kita merasa telah mengetahui jawabannya. Mengakui kemungkinan bahwa kita salah dapat terasa seperti kehilangan sesuatu yang selama ini menjadi pegangan.

Padahal, kesediaan untuk mengakui kekeliruan justru merupakan bagian penting dari proses berpikir. Seseorang tidak akan dapat memperbaiki pemahamannya jika ia selalu menganggap dirinya benar. Dalam hal ini, pemikiran Descartes mengingatkan kita bahwa pencarian kebenaran membutuhkan kerendahan hati. Kita harus bersedia meninjau kembali apa yang telah dipercaya, sekalipun keyakinan itu sudah lama menjadi bagian dari cara kita memahami dunia.

Untuk menjalankan pencarian tersebut, Descartes merumuskan cara berpikir yang sistematis. Ia menekankan pentingnya tidak menerima sesuatu sebagai benar sebelum memiliki alasan yang jelas, membagi persoalan yang rumit menjadi bagian-bagian yang lebih sederhana, menyusun pemikiran dari hal yang paling mudah dipahami menuju hal yang lebih kompleks, serta memeriksa kembali keseluruhan proses agar tidak ada bagian penting yang terlewat. Cara ini menunjukkan bahwa berpikir bukan sekadar kegiatan menghasilkan pendapat, melainkan juga proses menguji bagaimana pendapat tersebut dibangun.

Metode itu relevan karena manusia sering kali mengambil kesimpulan terlalu cepat. Kita melihat satu peristiwa, mendengar satu pendapat, lalu merasa telah memahami keseluruhan persoalan. Padahal, kenyataan sering kali jauh lebih rumit daripada kesan pertama kita. Dengan memeriksa persoalan secara bertahap, kita memiliki kesempatan untuk menemukan bagian yang belum dipahami, membedakan fakta dari dugaan, dan menghindari kesimpulan yang tidak didukung alasan memadai.

Pencarian Descartes kemudian membawanya pada gagasan yang terkenal: cogito, ergo sum, atau I think, therefore I am yang berarti “aku berpikir, maka aku ada.” Ketika ia meragukan berbagai hal, ia menyadari bahwa tindakan meragukan itu sendiri merupakan kegiatan berpikir. Selama ia berpikir, keberadaannya sebagai subjek yang berpikir tidak dapat disangkal begitu saja. Keraguan yang semula digunakan untuk menggoyahkan keyakinan justru membawanya menemukan suatu pijakan bagi pemikirannya.

Gagasan ini menarik bukan hanya karena kedudukannya dalam sejarah filsafat, melainkan juga karena menunjukkan bahwa keraguan tidak selalu berakhir pada kebingungan. Jika dilakukan dengan terarah, keraguan dapat membantu kita memahami batas pengetahuan sekaligus menemukan alasan yang lebih kuat untuk mempercayai sesuatu. Kita tidak harus menerima semua hal yang datang kepada kita, tetapi kita juga tidak perlu menolak semuanya. Yang diperlukan adalah kemampuan membedakan mana yang memiliki dasar kuat dan mana yang masih perlu diperiksa.

Dalam kehidupan sekarang, sikap semacam ini semakin penting. Informasi datang dari berbagai arah, mulai dari buku dan ruang kelas hingga media sosial dan percakapan sehari-hari. Banyaknya informasi tidak selalu membuat kita semakin memahami sesuatu. Terkadang, kita justru lebih mudah percaya pada informasi yang sesuai dengan pandangan sendiri dan menolak informasi yang bertentangan dengannya. Kita juga dapat terjebak dalam kebiasaan membagikan sesuatu sebelum memeriksa kebenarannya.

Di tengah keadaan seperti itu, semangat Descartes mengajak kita berhenti sejenak sebelum mengambil kesimpulan. Siapa yang menyampaikan informasi tersebut? Apa alasan yang mendukungnya? Apakah ada bukti yang dapat diperiksa? Adakah kemungkinan bahwa kita memahami persoalan secara keliru? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak menjamin bahwa kita akan selalu benar, tetapi dapat membantu kita menghindari kesalahan yang sebenarnya bisa dicegah.

Meski demikian, pemikiran Descartes tidak harus dipahami sebagai ajakan untuk mencurigai semua orang atau meragukan segala hal tanpa batas. Keraguan yang tidak disertai usaha untuk mencari jawaban hanya akan membuat kita berputar-putar dalam ketidakpastian. Sebaliknya, keraguan yang sehat perlu diikuti dengan pemeriksaan, penalaran, dan kesediaan menerima hasil yang diperoleh. Tujuannya bukan menjadi orang yang selalu menentang, melainkan menjadi orang yang memiliki alasan ketika menerima atau menolak suatu pendapat.

Ada perbedaan antara seseorang yang meragukan sesuatu karena tidak ingin percaya dan seseorang yang meragukannya karena ingin memahami. Yang pertama mungkin berhenti pada penolakan, sedangkan yang kedua terus mencari penjelasan. Perbedaan ini penting, sebab keberanian berpikir tidak diukur dari seberapa sering kita membantah orang lain, tetapi dari seberapa jujur kita memeriksa pemikiran sendiri.

Pada akhirnya, pelajaran yang dapat kita ambil dari Descartes bukanlah bahwa semua kepastian harus dihancurkan, melainkan bahwa kepastian yang tidak pernah diperiksa dapat membuat kita berhenti mencari. Kita perlu memberi ruang bagi pertanyaan, membuka kemungkinan untuk berubah pikiran, dan tidak menjadikan keyakinan pribadi sebagai ukuran mutlak kebenaran. Apa yang kita ketahui hari ini mungkin masih dapat diperbaiki esok hari. Kesadaran itu bukan kelemahan, melainkan bagian dari proses belajar.

Mungkin kita memang tidak selalu dapat menemukan jawaban yang sempurna. Ada persoalan yang membutuhkan waktu, penelitian, dan pertimbangan lebih panjang. Namun, ketidakmampuan menjawab semuanya bukan alasan untuk berhenti berpikir. Justru di sanalah pentingnya kesabaran dalam mencari pengetahuan: memahami apa yang sudah diketahui, mengakui apa yang belum dipahami, dan terus berusaha membedakan kebenaran dari sekadar keyakinan.

Hancurkan kepastian, temukan kebenaran bukanlah seruan untuk hidup tanpa pegangan. Ia adalah ajakan untuk memeriksa pegangan yang kita miliki, memastikan bahwa ia berdiri di atas alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, terkadang hal yang paling menghalangi kita menemukan kebenaran bukanlah kurangnya pengetahuan, melainkan keyakinan bahwa kita sudah mengetahui segalanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *