PPI TUNISIA

Shalat Telah Menjawab, Jauh Sebelum Psikologi Berbicara

Penulis: Arifatun Nasichah (Mahasiswi S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis, Tunisia)

PPI Tunisia – Manusia adalah entitas dengan gumpalan perasaan dan emosi yang melimpah. Terkadang perasaan positif: bahagia, semangat, bangga, tentram; terkadang pula emosi negatif: sedih, kecewa, overthinking, tertekan. Setiap manusia tak luput dari semua ini. Lalu kemana mereka bisa lari dari perasaan negatif? Shalat jawabannya.

Kita hidup di era kebisingan menguar dimana-mana. Informasi berlebih, konflik hubungan, tuntutan keluarga, kecemasan masa depan, semua itu bertumpuk di kepala tanpa jeda. Psikologi modern menyebutnya cognitive overload, kondisi di mana otak tidak mampu berpikir jernih karena adanya beban pikiran yang menumpuk. Shalat memberikan solusi paling efektif dalam mengatasinya. Dari banyaknya solusi yang ditawarkan, penulis akan menguraikan yang paling esensial melalui kacamata psikologi.

Shalat memvisualisasikan teknik grounding yang dipakai dalam terapi psikologis. Hal ini berimplikasi pada penarikan diri dari emosi negatif ke momen sekarang. Praktik ini akan menarik pikiran yang buram akibat cemas atau perasaan lainnya kepada realita dengan kesadaran penuh. Melalui shalat, seseorang dengan kondisi seperti ini cenderung akan terbantu untuk berpikir dengan kepala dingin, sehingga terhindar dari keputusan yang berdasar pada emosi sesaat. Maka dalam hal ini, shalat berperan dalam menstabilkan diri dari gejolak emosional.

Tak hanya itu, shalat juga mengandung elemen mindfulness—sebuah keharusan untuk hadir dan fokus pada momen sekarang, baik perasaan maupun pikiran. Dalam shalat, seseorang telah merepresentasikan mindfulness secara eksplisit. Gerakan, bacaan, dan fokus dalam shalat melatih kesadaran penuh secara berkala. Cara kerjanya dengan observasi pikiran dan perasaan seperti meditasi, seolah shalat sedang memaksa kita untuk melepas masa lalu dan masa depan untuk fokus pada momen saat ini.

Hal ini telah diterapkan langsung oleh Nabi SAW ketika dilanda musibah:

“عن حُذَيْفَةُ بن اليمان رضي الله عنه قَالَ : {كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا حَزَبَهُ أَمْرٌ صَلَّى}”

“Dari sayyidina Hudzaifah RA, dia berkata, “Apabila Baginda Rasulullah SAW menemui suatu kesulitan, maka beliau bergegas mengerjakan sholat.”” (HR Ahmad, Abu Dawud, dari Kitab Durrul Mantsur)

Selain itu, shalat juga dikonseptualisasikan sebagai bentuk teknik flow state dalam bingkai spiritual. Secara psikologis, gerakan shalat mengajak pikiran sepenuhnya hadir dan menikmati momen secara bersamaan. Hal ini memberi kesempatan untuk “pergi sejenak” dari masalah, serta merasakan atmosfer ketenangan yang nyata. Teknik ini unggul di atas mindfulness, dan shalat yang khusyuk bisa menciptakan itu. Dengan demikian, seseorang akan merasakan batas pemisah antara dunia luar dengan dirinya dalam shalat.

Menariknya, konsep-konsep seperti mindfulness, grounding, dan flow state yang kini menjadi topik populer dalam psikologi, sebenarnya telah terkandung dalam sholat yang praktiknya sudah termanifestasi berabad-abad silam. Hal ini membuktikan bahwa sholat telah didesain oleh Sang Pencipta dengan sedemikian rupa sehingga mampu menghadirkan solusi holistik bagi kesehatan mental.

Semua pernyataan ini mengindikasikan praktik shalat sebagai penyejuk jiwa yang autentik. Ketika pikiran sedang kacau dan perasaan diliputi emosi, sholat mampu menenangkan dan mengembalikan kesadaran. Shalat bukan hanya menjadi medium penghubung paling efektif antara manusia dengan Tuhannya, lebih dari itu, ia menawarkan pendekatan pragmatis yang dibalut dalam praktik spiritual. Selaras dengan fakta tersebut, Allah SWT berfirman:

“أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ”

“Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (Q.S. Ar-Ra’d: 28)

Dalam konteks lain, shalat juga menyentuh konsep guilt dan self-forgiveness. Guilt merujuk pada beban psikologis pada diri manusia setelah sadar telah melakukan kesalahan, sedangkan self-forgiveness mendeskripsikan kemampuan manusia untuk memaafkan diri sendiri. Salah adalah fitrah yang melekat dan bagian yang tak terpisahkan dalam diri manusia, sebagaimana hadist Nabi Muhammad SAW:

“كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ”

“Semua anak Adam melakukan kesalahan dan sebaik-baik yang berbuat salah adalah yang bertaubat.” (HR. at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Darimi)

Maka wajar, bahkan menjadi keharusan manusia dirudung dengan rasa bersalah. Bukti empiris menunjukkan bahwa psikologi manusia membutuhkan mekanisme pelepasan rasa bersalah. Disinilah shalat berperan sebagai jembatan pertolongan Allah SWT. Menariknya, secara psikologis manusia akan lebih berani mengungkapkan dosa besar atau “melepas rasa bersalah”, bahkan yang paling berat setelah shalat. Praktik spiritual ini memberi rasa aman untuk jujur kepada Sang Pencipta.

Ini membuktikan bahwa shalat menyimpan solusi yang selama ini dicari dalam ranah psikologi. Pendekatan shalat mengalir secara bertahap, menyentuh lapisan emosional manusia mulai dari penstabilan gejolak emosi, pembangunan kesadaran diri, pemberi ketenangan, hingga menjadi satu-satunya tempat di mana seseorang boleh hancur sepenuhnya dan tetap disambut. Pada akhirnya, shalat adalah psikoterapi yang terbalut dalam ibadah.

Dari sini kita tahu bahwa eksistensi shalat bukan sekedar ibadah, tetapi ia merupakan sistem pemulihan jiwa yang Allah SWT rancang jauh sebelum psikologi modern ada. Ini bukan suatu kebetulan, justru inilah cara Allah SWT menunjukkan hakikat nikmat ibadah yang sesungguhnya. Hal ini menunjukkan bagaimana Allah SWT memberikan kita yang terbaik, bahkan di saat kita menunaikan kewajiban kepada Sang Pencipta.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *