PPI TUNISIA

Tanggal yang Mengubah Tunisia: 17 Desember

Penulis: Arjunnaja Naufal Adiwara (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Kairouan)

PPI Tunisia – Gerakan Arab Spring di awal abad ke-21 sangat berpengaruh dalam mengubah peta politik di Timur Tengah dan Afrika Utara. Banyak negara yang mengalami perubahan besar karena gelombang revolusi ini. Revolusi ini berhasil mengganti beberapa pemerintahan yang sudah lama berkuasa dengan cara yang otoriter. Hal yang menarik adalah bahwa pemicu dari peristiwa besar ini bukanlah seorang pemimpin politik atau seorang yang berpengaruh. Mohamed Bouazizi, seorang pedagang kecil di Tunisia, memulai semua ini. Ia sudah merasa putus asa dan melakukan tindakan yang menjadi simbol dari kemarahan masyarakat terhadap ketimpangan sosial, korupsi, dan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah selama bertahun-tahun.

Mohamed Bouazizi kala itu berusia 26 tahun. Pria ini bekerja sebagai pedagang buah dan sayur tanpa izin di pinggir jalan kota Sidi Bouzid, daerah pedalaman Tunisia. Sejak ayahnya meninggal, dialah yang menanggung hidup keluarga. Setiap hari, Bouazizi berjuang keras. Ia membeli barang dagangan dini hari di pasar grosir, lalu berjualan dari pagi sampai sore. Namun, hidup dalam ekonomi informal itu sangat rentan. Tanpa izin resmi, dia jadi sasaran empuk bagi polisi dan oknum pejabat setempat untuk minta uang “damai”. Kalau menolak, maka dagangannya sering disita. Ini adalah salah satu contoh kecil dari korupsi yang sudah mengakar lama selama pemerintahan Presiden Zine El Abidine Ben Ali. Korupsi semacam ini sangat merugikan masyarakat dan menghambat kemajuan negara.

Puncaknya terjadi tanggal 17 Desember 2010. Saat itu, polisi kembali menyita timbangan milik Bouazizi karena ia berjualan liar. Bouazizi merasa diperlakukan semena-mena dan harga dirinya diinjak-injak. Ia mencoba mengadu ke kantor gubernur Sidi Bouzid, tapi sama sekali tidak dilayani dan diusir begitu saja.

Dalam keadaan frustasi dan merasa tidak ada jalan keluar lagi, Bouazizi memutuskan melakukan pembakaran diri di depan kantor pemerintahan tersebut. Aksi nekat ini adalah bentuk protes terakhir Bouazizi terhadap negara yang dianggapnya tuli terhadap keluhan rakyat kecil.

Kejadian itu diabadikan dan diunggah ke media sosial oleh sepupunya, Ali Bouazizi. Penyebaran video tersebut sangat cepat dan langsung menyulut kemarahan masyarakat luas. Banyak orang melihat diri mereka dalam sosok Bouazizi karena ia mewakili jutaan warga yang terjepit tekanan ekonomi dan politik. Saat Bouazizi masih terbaring koma di rumah sakit, gelombang demonstrasi sudah menjalar ke berbagai kota di Tunisia. Ia akhirnya meninggal pada empat Januari dua ribu sebelas karena luka bakar parah. Bouazizi tidak pernah tahu bahwa pengorbanannya telah membangkitkan seluruh negeri Tunisia.

Protes yang terjadi karena kematian Bouazizi semakin besar dan berubah dari tuntutan tentang ekonomi menjadi tuntutan tentang politik yang lebih kuat. Orang-orang Tunisia mendesak Presiden Ben Ali, yang sudah memimpin negara selama 23 tahun dengan cara yang sangat kuat, untuk segera turun dari jabatannya. Banyaknya liputan dari media internasional membuat pemerintah kesulitan mengendalikan informasi. Akhirnya, pada tanggal 14 Januari 2011, Presiden Ben Ali melarikan diri ke luar negeri. Kejatuhan Presiden Ben Ali membuat Tunisia menjadi negara Arab pertama yang berhasil mengganti pemerintahan otoriter melalui tekanan dari rakyat. Peristiwa ini juga menjadi pemicu utama bagi terjadinya Arab Spring di negara-negara Arab lainnya.

Efek domino dari Tunisia segera terasa. Di Mesir, jutaan orang turun ke jalan dan berhasil memaksa Presiden Hosni Mubarak lengser setelah 30 tahun berkuasa. Di Libya, unjuk rasa berubah jadi perang saudara dengan intervensi Barat yang berakhir dengan tewasnya Muammar Gaddafi. Di Yaman, Presiden Ali Abdullah Saleh akhirnya rela menyerahkan kekuasaan setelah lebih dari tiga dekade. Namun, hasilnya tidak seragam. Di Bahrain, protes dipadamkan dengan kekerasan brutal. Sementara di Suriah, demonstrasi damai malah berubah menjadi konflik saudara berkepanjangan yang dampaknya masih terasa sampai sekarang.

Tunisia sering disebut sebagai contoh yang berhasil dari Arab Spring karena mereka berhasil membangun sistem demokrasi setelah revolusi. Sekarang, orang di Tunisia lebih bebas untuk mengungkapkan pendapat dan memiliki banyak pilihan dalam politik, tidak seperti saat Presiden Ben Ali masih berkuasa. Namun, harapan mereka untuk perbaikan ekonomi tidak terjadi. Banyak orang masih menganggur, harga barang terus naik, dan kemiskinan masih menjadi masalah besar. Bahkan, beberapa orang nekat bunuh diri atau membakar diri karena putus asa dengan kehidupan mereka. Banyak warga Tunisia merasa bahwa perbedaan antara apa yang mereka impikan saat revolusi dengan kenyataan hidup sehari-hari sangat jauh. Mereka merasa bahwa cita-cita revolusi yang mulia belum terwujud dalam kehidupan sehari-hari yang tetap sulit.

Memasuki periode 2024–2025, Tunisia justru menunjukkan kemunduran dalam proses demokrasinya. Presiden Kais Saied mengambil langkah-langkah yang memusatkan kekuasaan, melemahkan parlemen dan sistem peradilan, serta membatasi gerakan oposisi dan kebebasan pers. Situasi ini membuat banyak pengamat berpendapat bahwa semangat Arab Spring di Tunisia mulai memudar, meskipun bentuk otoritarianisme yang muncul sekarang berbeda dengan era sebelumnya. Di level regional, Arab Spring sering dilihat sebagai revolusi yang belum tuntas, bahkan gagal di beberapa tempat.

Namun, warisan dari Mohamed Bouazizi tetap tidak terlupakan. Ia bukan pahlawan dari kalangan elite, melainkan rakyat biasa yang menginginkan martabatnya diakui. Aksi nekatnya membuktikan pada dunia bahwa ketidakadilan yang menumpuk bisa meledak menjadi perubahan besar-besaran. Dalam konteks global hari ini, di mana ketimpangan sosial dan kecenderungan otoriter makin kuat di banyak negara, kisah Bouazizi tetap relevan. Ia mengingatkan kita bahwa suara rakyat kecil, sekecil apa pun, punya kekuatan untuk menggetarkan sejarah.

Sebagai mahasiswa diaspora Indonesia di Tunisia, sudah selayaknya kita merefleksikan peristiwa 15 tahun yang lalu ini. Hari ini, 17 Desember diperingati sebagai Hari Revolusi dan Pemuda. Pemerintah menetapkan tanggal ini sebagai hari libur nasional untuk menghormati perjuangan rakyat Tunisia, khususnya peran pemuda, dalam menuntut kebebasan, martabat, dan keadilan sosial. Refleksi sejarah tersebut sesuai dengan kalimat Bung Karno yang sangat terkenal, “JAS MERAH”, Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah!

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *