PPI TUNISIA

Abdul Aziz Al-Tsa’alabi : Bapak pendiri Tunisia modern sekaligus Pahlawan Pembebasan Tunisia dari Kolonialisme Prancis. 

Abdul Aziz Al-Tsa’alabi adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam perjuangan kemerdekaan Tunisia. Beliau  lahir pada tahun 1876 di Tunis, berasal dari keluarga Aljazair yang berimigrasi ke Tunisia setelah kolonial Prancis menduduki Aljazair pada

1830 (Jejak Islam di Dunia; Masyarakat Arab Bergaya Eropa) . Kakeknya, Abdurrahman Al-Tsa’alabi adalah seorang pejuang yang melarikan diri dari penjajahan Prancis, sehingga semangat perlawanan terhadap kolonialisme telah mengalir dalam darahnya sejak kecil.  

Sejak dini, Al-Tsa’alabi menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Beliau mampu menghafal Al-Qur’an dan menempuh pendidikan pada tahun 1890-1896  di Universitas Zaitunah, pusat keilmuan Islam terkemuka di Tunisia. Di sana beliau  mempelajari berbagai disiplin ilmu  yangmana  fikih, tafsir, hadis, dan sejarah. Tak hanya itu, beliau  juga melanjutkan pendidikannya di Madrasah Khalduniyah yang baru didirikan pada 22 Desember 1896, yang merupakan sebuah sekolah modern yang mengkolaborasikan kurikulum Islam dengan sains Barat seperti matematika, fisika, dan kimia dan ketika semasa sekolah beliau bertemu guru dan pembaharu Islam yaitu Salim Bou Hajib dan Ali Basyusyah.

Disamping itu kolonial Prancis tidak hanya menjajah Tunisia secara politik dan ekonomi, tetapi juga berusaha menghancurkan identitas budaya dan keislaman rakyat Tunisia. Bahasa Prancis dipaksa gunakan  dalam pendidikan dan administrasi, sementara bahasa Arab dikesampingkan. Melihat hal ini, Al-Tsa’alabi tergerak untuk melawan melalui tulisan dan organisasi. 

Ketika beliau beranjak dewasa,16 tahun. Beliau sudah aktif menulis di koran AlMubasyir, dan di usia 19 tahun, Beliau mendirikan majalah berbahasa arab berjudul  Sabil ar-Rasyad, yang menyuarakan kritik terhadap penjajahan serta gagasan pembaruan Islam. Majalah ini dengan cepat dilarang oleh pemerintah Prancis karena dianggap membahayakan stabilitas kolonial.  Karena berisi tentang gagasan-gagasan pembaharuan. 

Pada 1907, Beliau mendirikan Harakat Syabab at-Tunisi (Gerakan Pemuda Tunisia) dan Jamiyat al-Adab, organisasi yang berfokus memperjuangkan pengembangan  penggunaan bahasa Arab sebagai bentuk perlawanan kultural. Beliau  terinspirasi oleh pemikiran Jamaluddin al-Afghani dan Muhammad Abduh, dua tokoh Pan-Islamisme yang menyerukan persatuan umat Islam melawan imperialisme Barat.  

Al-Tsa’alabi pun menerbitkan buku di tahun  1919, yang berjudul ”Tunis asy-Syahida” (Tunisia yang Teraniaya),sebuah buku dari dari hasil analisisnya  ditambah adanya solusi serta nilai kemanusian seperti kebebasa toleran,dan keadilan selain itu juga mengkritik keras penjajahan Prancis dan menyerukan kemerdekaan. Buku ini menjadi inspirasi bagi gerakan-gerakan perlawanan di Tunisia. Akibatnya, ia ditangkap dan dipenjara oleh otoritas Prancis.  

Setelah dibebaskan, beliau bersama para tokoh nasionalis lainnya mendirikan ” Hizb ad-Dusturi at-Tunisi”(Partai Konstitusional Tunisia) pada 1920, yang menjadi sorot  perjuangan kemerdekaan. Partai ini menuntut otonomi penuh dan penghapusan dominasi Prancis di Tunisia.   Al-Tsa’alabi pun terpaksa kabur dari Tunis dan merantau selama kurun waktu 4 tahun. Tahun 1906, Al-Tsa’alabi terfitnah atas provokasi kolonial. Tak lama mereka menyadari atas terfitnahnya Al-Tsa’alabi, mereka pun menyesal dan melawannya. Pada tahun 1912, Perancis diusir dari Tunisia. Rakyat Tunis juga sempat mendorong hukum mati al-Tsa’alabi yang dituding  bersekongkol dengan kolonial.

Pada tahun 1920-1923, gerak diplomatiknya tidak disukai dengan kaum kaum muda yang ingin cepat merdeka, karena pergerakan beliau lebih condong dengan gaya diplomatik kaum tua. Karena alasan, beliau banyak menghabiskan usianya dalam perjalanan. Pada tahun 1898, ia pergi ke Tharablisi, kemudian Benggasi, lalu menuju Astana melalui Yunani dan Bulgaria. Beliau juga berhubungan dengan Daulah Turki Usmani untuk menjelaskan kondisi keadaan Tunisia. Setelah itu beliau pergi ke Mesir dengan tujuan mencari dukungan politik. 

Singkatnya,Abdul Aziz al-Tsa’alabi wafat pada 1944 tepatnya pada umur 70 tahun ,sayangnya beliau belum bisa  menyaksikan kemerdekaan Tunisia. Namun, perjuangannya tidak sia-sia. Berkat kegigihannya beliau dinobatkan sebagai Tokoh Pahlawan Nasional Tunisia. 12  tahun setelah kematiannya, akhirnya Tunisia merdeka pada 1956. Telah tecatat karya beliau lainnya – karya Islami seperti Mu’jiz Muhammad

Rasulullah dan kitab fenomenal Ruh at-Taharrur fil Quran ‘ruh pembebasan dalam Al-Qur’an yang menuai   banyak pro-kontra di kalangan umat Muslim. Pemikirannya tentang  Pan-Islamisme, nasionalisme, dan pendidikan terus memengaruhi gerakangerakan anti-kolonial di dunia Islam.  

Beliau membuktikan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak hanya dilakukan dengan senjata, tetapi juga melalui pemikiran, tulisan, dan organisasi politik yang kuat.  

Bisa disimpulkan bahwasanya Abdul Aziz al-Tsa’alabi adalah simbol perlawanan intelektual melawan kolonialisme. Beliau  menggabungkan keilmuan Islam, nasionalisme, dan strategi politik untuk membangun kesadaran rakyat Tunisia. Meski tidak sempat melihat negaranya merdeka, jasanya tetap abadi dalam sejarah perjuangan Tunisia dan dunia Islam.  

Artikel ini diringkas dari Tunis asy-Syahidah karya Abdul Azizi Ats-Tsa’alabi 

”Kemerdekaan bukan hanya tentang mengusir penjajah, tetapi juga tentang mempertahankan identitas dan martabat bangsa.” —Abdul Aziz al-Tsa’alabi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *