PPI TUNISIA

PPI Tunisia Gelar Kajian Lintas Komunitas: Harmoni Agama dan Alam sebagai Jawaban atas Krisis Ekologis Global

Penulis: Muhammad Fathi Ilmi (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)

Tunisia, 1 September 2025 – Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia kembali menghadirkan Kajian Lintas Komunitas, sebuah forum intelektual yang merangkul mahasiswa lintas disiplin ilmu untuk membicarakan persoalan besar umat manusia. Acara ini mengangkat tema “Harmoni Agama dan Alam: Menjawab Tantangan Krisis Ekologis Global untuk Kehidupan Berkelanjutan.”

Acara dibuka oleh Idris Ahmad Rifai, S.Th.I, MA. Dalam kata pengantarnya, ia menekankan bahwa harmonisasi agama dan alam bukan sekadar wacana spiritual, melainkan kebutuhan nyata dalam menghadapi modernisasi yang kerap diiringi krisis ekologi. Idris menegaskan, agama menghadirkan kesadaran moral untuk merawat bumi, sementara modernisasi menyediakan instrumen teknologis; keduanya harus berjalan seimbang agar kemajuan tidak berujung pada kehancuran.

kemudian hadir para pemateri yang ikut andil menyoroti isu lingkungan dari beragam perspektif.

Di antarnya ialah Naufal Sholahuddin, Lc., MA., yang mengupas gagasan Green Theology, sebuah teologi hijau yang menempatkan hubungan manusia dan alam sebagai bagian dari penghambaan kepada Allah. Ia menegaskan bahwa bumi adalah ayat kauniyyah yang wajib dijaga, sehingga menjaga kelestariannya sama artinya dengan menjaga iman.

Dari sisi penafsiran Al-Qur’an, Deni Kurnia, S.H., S.Pd. turut menawarkan paradigma tafsir ekologi. Baginya, ayat-ayat tentang alam tidak sekadar menunjukkan kebesaran Allah, tetapi juga mengandung pesan etis untuk memelihara keseimbangannya. Ia menegaskan, merusak alam adalah bentuk kedurhakaan, sementara merawatnya adalah ibadah yang bernilai tinggi.

Sementara itu, Raihan Rafid, Lc. juga menyoroti pentingnya ukhuwah insaniyyah—persaudaraan kemanusiaan universal—dalam menjawab krisis ekologis global. Ia menekankan bahwa kerusakan lingkungan tidak mengenal batas negara maupun agama, sehingga solidaritas lintas bangsa mutlak diperlukan. Mengutip QS. Al-Ma’idah [5]: 2, hal ini menegaskan bahwa menjaga lingkungan adalah kebajikan kolektif yang harus dikerjakan bersama-sama.

Melengkapi diskusi, Abbas Hamonangan Harahap, Lc. membawa perspektif maqasid syariah dan ekonomi hijau. Ia menunjukkan bahwa pertumbuhan masyarakat seharusnya tidak mengorbankan kelestarian alam. Dalam kerangka maqasid, hifz al-bi’ah—penjagaan lingkungan—menjadi salah satu tujuan penting syariat. Abbas mengingatkan QS. Al-An’am [6]: 141 sebagai landasan etis agar manusia tidak berlebih-lebihan dalam memanfaatkan sumber daya.

Diskusi mahasiswa pun berlangsung dinamis dengan menyoroti bagaimana modernisasi sering membawa paradoks: di satu sisi menghadirkan inovasi, namun di sisi lain memperparah krisis ekologi. Dari perdebatan itu lahir kesepahaman bahwa agama dan modernisasi tidak boleh saling bertolak belakang, melainkan adanya peran agama memberi arah nilai, sementara modernisasi menyediakan sarana. Tanpa keduanya, manusia akan kehilangan pijakan dan arah dalam membangun peradaban.

Melalui kajian lintas komunitas ini, PPI Tunisia berkomitmen memperkuat kesadaran mahasiswa akan pentingnya harmonisasi agama dan alam di tengah modernisasi. Sebab, menjaga bumi bukan hanya tugas aktivis lingkungan, melainkan ibadah yang menghadirkan kemaslahatan bagi generasi kini dan mendatang.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *