PPI TUNISIA

Andalusia sebagai Cermin Maqaṣid Kehancuran Umat: Ketika Ilmu Hilang dan Persatuan Mulai Pudar

Penulis: Muhammad Alfian Lathif (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)

PPI Tunisia – Andalusia pernah menjadi mutiara dunia Islam di Barat, simbol keagungan ilmu pengetahuan, keadilan, dan kebudayaan yang tiada tanding pada zamannya. Di bawah panji Bani Umayyah, terutama masa pemerintahan Abdur Rahman III, Islam Spanyol menjelma menjadi pusat kemajuan yang menandingi Baghdad dan Kairo.

Kota Kordoba bersinar dengan lebih dari tujuh puluh perpustakaan, ratusan madrasah, serta taman-taman ilmu yang memikat hati setiap pencari pengetahuan. Namun, sebagaimana hukum sejarah yang diungkapkan oleh Ibn Khaldun dalam al-Muqaddimah, “Setiap kekuasaan yang didirikan di atas kekuatan manusia semata, tanpa nilai ruhani dan syariat, akan hancur dengan sendirinya.” Inilah yang akhirnya menimpa Andalusia peradaban yang begitu tinggi, tetapi perlahan runtuh oleh tangan umatnya sendiri.

Kejayaan Andalusia dimulai dari perjuangan seorang tokoh besar, Abdur Rahman ad-Dakhil, keturunan Umayyah yang lolos dari pembantaian Abbasiyah dan membangun kekuasaan baru di Spanyol pada tahun 138 H/ 755 M. Dari tangan dialah lahir kerajaan yang kuat dan mandiri, berlandaskan politik cerdas dan ekonomi makmur.

Namun puncak kegemilangan justru terjadi pada masa Abdur Rahman III, yang berhasil menaklukkan Elvira, Jain, dan Sevilla, serta menahan ekspansi Dinasti Fatimiyah dari Afrika Utara. Di bawah kepemimpinannya, Andalusia mencapai tingkat kemakmuran luar biasa.

Jalan raya dibangun, air mengalir di setiap rumah, dan ilmu pengetahuan berkembang pesat. Seorang sejarawan Barat bahkan mengakui bahwa pada saat Eropa masih gelap gulita, Cordova telah bersinar dengan cahaya ilmu dan kebudayaan Islam.

Namun, sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali dalam Iḥya’ ‘Ulum ad-Din, “Ketika cinta dunia telah bersemayam di hati penguasa dan rakyat, maka Allah akan cabut keberkahan dari ilmu, harta, dan kekuasaan.” Begitulah penyakit yang menular di kalangan penguasa Andalusia setelah wafatnya Al-Hakam II.

Persaingan keluarga, ambisi politik, dan perebutan tahta menjadi racun yang menghancurkan fondasi kekuasaan. Hisyam II yang masih anak-anak dijadikan boneka politik oleh wazir Muhammad ibn Abi Amir (Al-Mansur Billah). Meskipun Al-Mansur sempat membawa Andalusia pada kejayaan militer, wafatnya meninggalkan kekosongan kepemimpinan yang memunculkan perang saudara berkepanjangan.

Perpecahan ini melahirkan masa yang dikenal dengan Muluk ath-Thawa’if raja-raja kecil yang saling berebut wilayah dan kehormatan. Setiap penguasa membangun istananya sendiri, namun melupakan istana Islam yang sejati, yaitu nilai keimanan dan semangat persaudaraan.

Syekh Abul Hasan an-Nadwi pernah menulis, “Ketika umat kehilangan misi dakwah dan sibuk dengan kemewahan, maka Allah menugaskan kaum lain untuk menggantikan peran sejarahnya.” Kata-kata ini menjadi cermin atas nasib Andalusia: bangsa yang lupa pada risalah, dan akhirnya digantikan oleh bangsa lain yang lebih disiplin dan bersatu.

Dari sisi eksternal, dendam Kristen terhadap kejayaan Islam tidak pernah padam. Mereka menunggu saat yang tepat untuk membalas kekalahan berabad-abad lamanya. Ketika Andalusia terpecah, kerajaan-kerajaan Kristen seperti Castile, Aragon, dan Leon bersatu di bawah semangat Reconquista.

Kota Toledo jatuh pada tahun 1085, disusul Saragossa (1118), Sevilla (1248), hingga akhirnya Granada benteng terakhir Islam ditaklukkan pada 1492 M oleh pasukan Ferdinand dan Isabella. Jatuhnya Granada menandai berakhirnya kekuasaan Islam di Eropa Barat.

Pada hari itu, Abu Abdillah Muhammad, raja terakhir Bani Ahmar, menyerahkan kunci istana Alhambra dengan air mata, sementara ibunya berkata tajam: “Tangisilah seperti wanita, atas kerajaan yang tidak mampu engkau pertahankan seperti lelaki.”

Setelah kemenangan Kristen, tragedi kemanusiaan menimpa umat Islam. Mereka dipaksa memeluk agama lain atau diusir dari tanah kelahirannya. Bahasa Arab dilarang, kitab-kitab Islam dibakar, dan masjid-masjid dijadikan gereja.

Sejarawan Philip K. Hitti menulis bahwa pada masa Raja Philip III (1609), umat Islam diberikan dua pilihan: “masuk Kristen atau meninggalkan Spanyol selamanya.” Maka berakhirlah sejarah Islam di Andalusia dengan pilu dan darah.

Namun, sebagaimana dikatakan oleh Imam Ibn Hazm al-Andalusi, “Islam mungkin hilang dari tanah kami, tetapi tidak dari hati kami; karena hati yang telah mengenal Allah takkan pernah tunduk kepada selain-Nya.”

Peristiwa ini tidak sekadar kisah masa lalu, tetapi pelajaran abadi bagi umat Islam. Allah berfirman dalam surah Al-Hasyr ayat 2:

“Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.”

Asy-Syatibi mengingatkan bahwa tujuan syariat bukan hanya menegakkan hukum, tetapi menjaga agama, akal, dan kemaslahatan umat. Ketika umat melupakan maqaṣid ini, maka keruntuhan pasti datang. Andalusia hancur bukan semata karena kekuatan musuh, tetapi karena hilangnya kesadaran akan nilai-nilai maqaṣid syar‘iyyah keadilan, ilmu, dan ukhuwah yang dahulu menjadi tiang kejayaan mereka.

Syaikh Thahir Bin Ashur juga menulis dalam Maqaṣid asy-Syari‘ah al–Islamiyyah: “Umat yang melupakan tujuan syariatnya akan kehilangan arah dalam sejarah.” Andalusia menjadi contoh nyata dari peringatan ini. Ketika ilmu pengetahuan tidak lagi diarahkan untuk menegakkan nilai Islam, ketika kekuasaan dijadikan alat bermegah-megahan dan berfoya-foya, maka kehancuran hanyalah menunggu waktu.

Kini, reruntuhan istana Al-Hambra berdiri sebagai saksi bisu atas keagungan yang pernah ada dan kehancuran yang tak terelakkan. Namun di balik kehancuran itu tersimpan pelajaran agung bahwa kejayaan sejati hanya akan lahir dari iman yang kokoh dan persatuan yang tulus. Andalusia mengajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak adalah kesombongan, kekuasaan tanpa iman adalah tirani, dan kemajuan tanpa ukhuwah adalah kehancuran.

Sebagaimana ditulis Ibn Khaldun, “Sejarah tidak berputar sia-sia. Ia akan mengajarkan kebijaksanaan bagi mereka yang mau berpikir.” Andalusia bukan sekadar masa lalu, tetapi cermin masa depan bagi umat yang ingin bangkit. Selama nilai-nilai Islam dijaga dalam keikhlasan dan kesatuan, cahaya Andalusia akan tetap hidup bukan di tanah Spanyol, tetapi di hati setiap Muslim yang beriman dan berilmu.

Andalusia bukan sekadar lembar sejarah yang telah usang, melainkan cermin tajam yang memantulkan wajah umat ketika kehilangan arah. Ia mengajarkan bahwa kejayaan tidak dibangun hanya dengan kekuatan militer atau kemegahan istana, melainkan dengan ilmu yang hidup, ukhuwah yang kokoh, dan syariat yang dijadikan kompas peradaban. Ketika ilmu ditinggalkan, persatuan diabaikan, dan tujuan syariat dilupakan, maka kehancuran bukanlah kemungkinan—melainkan keniscayaan.

Kini, reruntuhan Alhambra berdiri bukan hanya sebagai saksi bisu masa lalu, tetapi sebagai pengingat abadi bahwa kejayaan sejati hanya akan lahir dari iman yang tulus, ilmu yang bermanfaat, dan persatuan yang dijaga.

Andalusia telah pergi, tetapi pelajarannya tetap hidup. Dan selama umat Islam menjadikan maqāṣid syar‘iyyah sebagai fondasi perjuangan, cahaya Andalusia akan terus menyala—bukan di tanah Spanyol, tetapi di hati setiap Muslim yang beriman, berilmu, dan bersatu.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *