
Penulis: Aqila Rahma Nayyara (Mahasiswa S1 Universitas Manouba, Manouba)
PPI Tunisia – Jejak diplomasi Indonesia di panggung global kian terukir melalui peran krusial para pemudanya. Sebanyak empat mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh studi di Tunisia di bawah naungan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia, baru-baru ini menorehkan prestasi gemilang dengan menjadi duta global dalam konferensi bergengsi The 2nd Edition of the African Diplomatic League (ADL).
Acara yang berlangsung megah di Hotel Golden Tulip El-Mechtel, Tunis, dari 16 hingga 19 Oktober 2025, ini menjadi mimbar penting bagi delegasi muda dari berbagai negara untuk memperluas cakrawala diplomasi dan jaringan internasional mereka. Konferensi ini mengusung tema sentral: ‘Climate Change: Impacts, Challenges, Policies, and International Agreements’, dengan fokus mendalam pada ‘kontribusi global dalam menanggapi dan menghadapi perubahan iklim’.
Kehadiran perwakilan Indonesia di kancah Afrika ini bukan sekadar partisipasi biasa. Ini adalah sebuah manifestasi komitmen tinggi pelajar Indonesia untuk tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga aktif mengambil bagian dalam isu-isu hubungan internasional dan mempromosikan peran strategis Indonesia di mata dunia.
African Diplomatic League didirikan dengan tujuan utama yang mulia, yakni mendukung proses pengembangan pemuda-pemudi di bidang diplomasi. Meskipun berfokus pada pengembangan diplomat muda dari benua Afrika dan sekitarnya, forum ini secara inklusif mengundang perwakilan dari kawasan lain untuk menciptakan dialog global.
Namun, peran yang diemban oleh keempat mahasiswa Indonesia, yakni Robith Marzuban, Keysa Amalia Rizqina, Aditya Nur Maulana, dan Hakiki Delviano Avianto yang berasal dari berbagai universitas di Tunisia, berbeda dan lebih istimewa dibandingkan delegasi negara-negara lain. Mereka tidak hanya hadir sebagai perwakilan resmi yang bertugas memaparkan solusi kebijakan negara, melainkan mereka juga diakui sebagai Brand Ambassador (BA) atau Duta Acara oleh pihak penyelenggara. Status ini menunjukkan pengakuan terhadap potensi, jaringan, dan semangat partisipasi global pelajar Indonesia di kawasan tersebut.
“Sementara kami fokus sebagai perwakilan negara untuk menyampaikan solusi, tugas utama kami sebagai BA adalah mempopulerkan acara ini, menyebarkan informasinya, dan menunjukkan semangat partisipasi global agar menarik minat lebih banyak pihak,” ujar Robith Marzuban, salah satu perwakilan delegasi dari mahasiswa Indonesia.
Konferensi ini dirancang secara komprehensif, menampilkan serangkaian diskusi panel, seminar mendalam, dan simulasi diplomatik yang melibatkan para aktor kunci dalam hubungan internasional.
Selama acara berlangsung, delegasi Indonesia menunjukkan keaktifan yang luar biasa. Selain berpartisipasi dalam sesi utama yang membahas Perubahan Iklim dan Dinamika Diplomasi Internasional, mereka secara khusus menyoroti dua isu krusial: integrasi nilai etika lingkungan dan peran Kecerdasan Buatan (AI).
Robith menyimpulkan pandangan filosofis terkait tema utama acara, “Hidup bersama bumi tidak hanya di atas bumi. Alam itu kan selalu berubah, dan kita hidup sebagai manusia berdampingan dengan alam, maka kita sebagai manusia harus menyelarasi perubahan itu.”
Lebih lanjut, delegasi Indonesia secara progresif mengangkat isu peran AI dalam menanggapi bencana lingkungan. “Isu yang paling aktif kami bahas adalah apakah AI mampu menjadi jawaban fundamental terhadap isu bencana lingkungan yang semakin sering terjadi,” tambah Robith.
Diskusi ini tidak hanya bersifat teoretis, tetapi juga praktis, sebab di dalamnya terdapat sesi pelatihan penanggulangan bencana dan strategi mitigasi. Fokus pada teknologi mutakhir ini menunjukkan bahwa delegasi Indonesia memiliki pandangan yang antisipatif terhadap tantangan masa depan.
Tujuan utama kehadiran delegasi adalah memperluas wawasan diplomasi dan membangun jaringan (networking). Konferensi ADL menyediakan platform yang kaya akan interaksi lintas benua. Meskipun terdapat tantangan unik terkait perbedaan budaya dan bahasa, terutama sebagai perwakilan pelajar dari luar kawasan Afrika, delegasi Indonesia berhasil menciptakan suasana interaksi yang produktif dan saling mendukung.
Manfaat nyata yang paling terasa bagi delegasi Indonesia adalah pengalaman praktis dalam simulasi diplomatik. Selain itu, kegiatan hari-hari konferensi juga diisi dengan agenda pengembangan diri yang menggugah. Sesi lokakarya inspiratif, seperti “The Palaver Tree” tentang resolusi konflik, serta “Un jour je me suis choisi” yang dibawakan oleh motivator internasional Michael Vincent, memberikan dampak emosional yang mendalam.
“Pesan itu sangat membekas bagi saya. Ia mengajarkan bahwa perubahan sejati dimulai dari keberanian untuk memilih diri sendiri, untuk bangkit dan memperbaiki arah hidup,” ujar Keysa Amalia Rizqina, salah satu delegasi Indonesia, mengenai pesan dari Vincent: “Je me suis choisi” — “Aku memilih diriku sendiri.”
Pada hari kedua, selain forum Model United Nations (MUN), para peserta juga mengikuti pelatihan bersertifikat mengenai Corporate Social Responsibility (CSR), Sustainable Development, dan Environmental, Social, and Governance (ESG), yang membuka wawasan tentang tanggung jawab etis dunia bisnis terhadap lingkungan.
Secara umum, kesan delegasi mengenai kualitas penyelenggaraan dan relevansi acara ini bagi diplomasi Indonesia ke depan sangat positif. Kesempatan untuk duduk bersama para diplomat dan akademisi dari berbagai latar belakang meninggalkan jejak mendalam.
Robith mengenang, “Ini sangat berkesan dan merupakan sebuah pengalaman yang sangat berarti untuk saya. Apalagi saya dulu seorang santri, dan ketika saya bisa duduk di forum internasional, saya merasa bangga dan menjadi paham tentang banyak hal yang sebelumnya saya tidak tahu.” Ia juga menyimpulkan pandangan filosofis terkait tema utama acara, “Hidup bersama bumi tidak hanya di atas bumi. Alam itu kan selalu berubah, dan kita hidup sebagai manusia berdampingan dengan alam, maka kita sebagai manusia harus menyelarasi perubahan itu.”
Forum seperti African Diplomatic League ini memberikan pelajaran berharga bagi mahasiswa diaspora. Mereka menyadari bahwa peran mereka tidak hanya terbatas pada pencapaian akademik di negara tempat mereka belajar, tetapi juga sebagai duta bangsa yang membawa nama baik Indonesia.
Sebagai penutup, Robith menyampaikan pesan kunci yang kuat mengenai pentingnya keterlibatan mahasiswa Indonesia dalam forum diplomasi internasional: “Sebagai mahasiswa diaspora harus tetap bersinergi dan menjadi wajah Indonesia dengan sebaik-baiknya. Keterlibatan di forum diplomasi internasional ini adalah langkah nyata bahwa pemuda Indonesia siap menjadi aktor global yang bertanggung jawab, tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga pada kontribusi nyata bagi perdamaian, pembangunan, dan keberlanjutan dunia.”
Kisah delegasi mahasiswa Indonesia di Tunisia ini menegaskan bahwa diplomasi tidak lagi dimonopoli oleh pemerintah, melainkan telah menjadi gerakan inklusif yang melibatkan akademisi dan, yang terpenting, generasi muda sebagai penentu arah kebijakan luar negeri di masa depan.