PPI TUNISIA

PPI Tunisia dan Gusdurian Tunisia Gelar Webinar Bersama Ahmad Fuadi, Tumbuhkan Semangat Kepenulisan Mahasiswa Perantauan

Penulis: Arifatun Nasichah (Mahasiswi Universitas Az-Zaitunah, Tunis)

PPI Tunisia – Mahasiswa Indonesia di Tunisia kembali menunjukkan kiprahnya di ranah literasi. PPI Tunisia berkolaborasi dengan Komunitas Gusdurian Tunisia sukses menggelar webinar inspiratif bersama Ahmad Fuadi, penulis novel Negeri 5 Menara.

Mengusung tema “Menginspirasi Lewat Kata, Mewujudkan Lewat Goresan Pena dan Tinta”, kegiatan ini menjadi ruang refleksi dan motivasi bagi mahasiswa Indonesia untuk terus berkarya melalui tulisan. Kegiatan ini digelar secara online pada Rabu (15/10/2025) dan diikuti sebanyak 65 peserta.

Webinar diawali dengan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Hymne PPI Tunisia, kemudian dilanjutkan dengan sambutan hangat dari Ketua Komunitas Gusdurian, M. Hadi Salim serta Ketua PPI Tunisia, Syarifuddin, Lc. Setelah itu, Ahmad Fuadi menyampaikan materi yang menginspirasi, diikuti oleh sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung penuh antusiasme.

Lebih dari sekadar perayaan literasi, sesi bersama Ahmad Fuadi menghadirkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus membuka wawasan baru bagi para peserta. Ia membuka paparannya dengan berbagi kabar gembira tentang perjalanan karyanya. Ia menampilkan cuplikan film adaptasi dari novel perdananya, Negeri 5 Menara. Ia mengungkap bahwa tahun ini, bertepatan dengan 17 tahun terbitnya novel tersebut dan akan meluncurkan sampul terbaru. Tak hanya itu, ia juga akan merilis buku keempat yang mengisahkan perjalanan Baso, sang penghafal Al-Qur’an, tahun depan.

Dalam penyampaiannya, Ahmad Fuadi menekankan bahwa menulis berawal dari niat dan tekad yang kuat. Ia memperkenalkan empat langkah sederhana dalam proses kreatif menulis: Why, What, How, dan When.

Menurutnya, “Why” berarti alasan dan semangat di balik tulisan; “What” mengajak penulis mengenal dan peduli pada topik yang disukai—seperti dirinya yang memilih tema pesantren karena dekat dengan kehidupannya. “How” berkaitan dengan mencari referensi dari buku, diari, atau catatan lama, sedangkan “When” menegaskan pentingnya menulis sedikit demi sedikit hingga menjadi karya utuh.

Dalam suasana yang akrab, Fuadi juga mengutip pesan gurunya sewaktu di Gontor: “Menulislah, karena dengan menulis kamu akan panjang umur.” Baginya, tulisan adalah warisan abadi yang membuat seseorang terus hidup dalam ingatan banyak orang. Ia menutup sesinya dengan kalimat yang menjadi inti pesannya: “Sesuatu yang dimulai dari hati akan sampai ke hati juga.” Bagi Fuadi, karya yang lahir dari kejujuran dan ketulusan akan memiliki daya sentuh emosional yang melampaui waktu.

Dalam sesi tanya jawab, Ahmad Fuadi menekankan pentingnya menemukan “golden moment” atau waktu terbaik untuk menulis. Setiap orang, katanya, memiliki ritme dan kebiasaan berbeda, sehingga penting bagi penulis mengenali kapan dirinya paling produktif untuk menuangkan ide.

Menanggapi pertanyaan dari salah satu peserta, Muhammad Fathi Ilmy, yang masih belajar menulis, Fuadi bercerita bahwa semangat menulisnya tumbuh dari kombinasi pengalaman masa kecil dan lingkungan keluarga yang mencintai buku. Ia mengenang kakeknya yang memiliki kamar khusus berisi banyak buku, sehingga pemandangan tersebut menumbuhkan rasa kagum sekaligus menyalakan kecintaan pada dunia literasi sejak dini.

Kecintaannya terhadap dunia tulis-menulis semakin terasah ketika berkuliah. Salah satu gurunya aktif di majalah kampus dan mendorong mahasiswa untuk menulis. Dari situlah ia mulai mengenal dunia jurnalistik, yang kemudian membawanya berkontribusi di berbagai majalah dan memperkaya pengalamannya dalam menulis.

Sebelum mengakhiri sesinya, Fuadi menyampaikan pesan sederhana namun bermakna. Ia mengingatkan bahwa kekuatan sebuah tulisan terletak pada ketulusan penulisnya, “Menulislah dengan sepenuh hati agar bisa sampai ke hati para pembaca,” ujarnya.

Seminar kepenulisan bersama Ahmad Fuadi ini menjadi momentum bagi mahasiswa untuk kembali menumbuhkan semangat menulis. Bukan hanya tentang teknik dan teori, tetapi juga soal keberanian untuk mulai menulis dari hal-hal sederhana di sekitar mereka. Dari sesi ini, peserta dapat lebih terdorong untuk menjadikan menulis sebagai cara mengekspresikan pikiran, pengalaman, dan nilai-nilai yang mereka temui selama merantau.

Melalui kegiatan ini, PPI Tunisia dan Komunitas Gusdurian Tunisia berupaya mendorong semangat literasi di kalangan mahasiswa Indonesia di luar negeri. Kolaborasi ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi generasi muda untuk terus berkarya dan menyebarkan inspirasi melalui tulisan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *