
Penulis: Muhammad Fither (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)
PPI Tunisia – Di era yang telah dipenuhi oleh isu-isu kontemporer, terlebih lagi mengenai dinamika pendidikan. Tidak sedikit dari masyarakat yang hingga saat ini masih belum memiliki akses pendidikan yang layak, seperti di daerah terpencil. kualitas pendidikan yang rendah akan menghasilkan lulusan yang kurang siap untuk terjun ke dunia pekerjaan.
Perjalanan waktu yang panjang, menunjukkan kepada kita kompleksitas masalah dan tantangan yang berhadapan dengan bangsa Indonesia untuk menuju 100 tahun kemerdekaannya, juga melukiskan dengan jelas mengenai masa depan bangsa Indonesia yang diharapkan akan menjadi negara maju dengan kesejahteraan bangsa yang semakin baik.
Dalam catatan kompas, kata kunci “Indonesia 2045”, pertama kali muncul pada 2 Januari 1994, pada halaman yang menampilkan tinjauan buku karya Prof. Dr. Soehadirman, S.E., Selanjutnya mengulas tahun 2045, seperti yang dimaksudkan kondisi negeri ini pada 100 tahun kemerdekaannya, sebagai titik penting dari sisi demografi. Jumlah penduduk Indonesia pada 2045 diperkirakan akan berjumlah 319 juta orang. Mungkin saat itu, Indonesia akan menjadi negara kelima dengan jumlah penduduk terbesar di dunia.
Bonus demografi ibarat pedang bermata dua, jika kita bisa mengelola dengan baik, maka Indonesia akan menjadi negara maju. Sebaliknya, jika kita tidak bisa mengelola dengan baik, kita akan terjebak dalam masalah yang kompleks baik dalam segi ekonomi dan juga dalam segi sosial keagamaan.
Tidak terasa, Indonesia 2045 hanya tersisa 20 tahun lagi. Indonesia diprediksi dapat menjadi negara maju selain dengan nilai ekonomi yang tinggi, menguasai teknologi canggih, dan mampu meningkatkan produktivitas karena bonus demografi Indonesia juga memiliki akulturasi budaya-agama sehingga menciptakan lingkungan yang memiliki potensi untuk menjadikan bonus demografi tersebut sebagai pionir ter realisasinya Indonesia emas 2045. Tetapi, untuk mencapai cita-cita tersebut masih banyak hal yang harus dibenahi, seperti ekonomi, pendidikan, politik, hukum, kesehatan, pemerintahan, dan bidang lainnya.
Jika kita bahas, apa yang harus disiapkan untuk menuju Indonesia 2045 kita harus memperhatikan perkembangan ekonomi yang berpotensi bagi pendapatan negara, pendidikan generasi muda dan perhatian terhadap mereka pun harus berjalan seimbang, serta perlu diperhatikan juga akulturasi budaya-agama yang menjamur kuat pada masyarakat Indonesia. Karena agama di Indonesia sudah menjadi bagian integral pada masyarakat sejak lama. Indonesia emas 2045 merupakan cita-cita luhur bangsa, yang menuntut kita untuk membangun kesiapan dalam segala bidang tak terkecuali dalam kehidupan beragama.
Dalam konteks menuju Indonesia emas 2045, peran agama akan semakin strategis apabila nilai-nilai keagamaan menjadi landasan moral dan spiritual dalam membangun bangsa yang lebih baik. Beberapa penguatan nilai-nilai moral dan etika harus dilakukan agar supaya bonus demografi Indonesia bisa menjadi keuntungan untuk cita-cita Indonesia emas 2045.
Pertama, agama mengajarkan pentingnya integritas dan kejujuran dalam semua perilaku. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Imam muslim, Rasulullah bersabda: “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga”. Hadist ini dapat digunakan sebagai aktualisasi kejujuran khususnya di lingkungan generasi muda, kejujuran sebagai salah satu nilai prioritas untuk menyongsong Indonesia emas 2045.
Kedua, tentu penting kerukunan dan toleransi antarumat beragama di Indonesia. Dalam masyarakat agama yang plural seperti Indonesia, yaitu menjadi kunci utama toleransi antarumat untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa yang mengantarkan pada Indonesia emas 2045. Lalu, nilai gotong royong yang diajarkan agama dapat memperkuat spirit kebersamaan dan kerjasama untuk membangun bangsa Indosesia yang lebih baik. Lebih dari itu, penguatan nilai-nilai luhur keagamaan dapat menjadi wadah dalam pengembangan pendidikan karakter yang komprehensif. Secara umum, beragama maslahat merupakan ikhtiar untuk mewujudkan Indonesia Maju dalam rangka menyongsong Indonesia Emas 2045.
Istilah beragama secara maslahat ala Indonesia ada pada rancangan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025–2045 yang digagas oleh Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Beragama maslahat ala Indonesia adalah beragama maslahat yang selaras dengan konsensus bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Dengan kata lain, agama yang selaras tersebut adalah agama yang mendukung keutuhan bangsa dan negara, agama yang ajarannya menganjurkan cinta terhadap agama sekaligus cinta terhadap negara, agama yang hubbul wathon minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman), agama yang menjadi solusi atas berbagai persoalan bangsa, dan bukan sebaliknya.
Beragama secara maslahat bukan hanya menjalankan ibadah secara individual saja. Beragama secara maslahat yaitu pendekatan beragama yang mengedepankan nilai-nilai kebaikan bersama, atau common good. Dalam hal ini, tentang bagaimana agama dapat berkontribusi positif bagi masyarakat dan negara.
Beragama secara maslahat tentunya penting untuk mengapai cita-cita Indonesia emas 2045, sebagaimana halnya pada penjelasan diatas, dengan mengkedapankan nilai-nilai agama seperti kejujuran, keadilan, integritas, dan gotong royong serta toleransi antar umat beragama, maka dapat membangun karakter bangsa yang kuat. Beragama secara maslahat juga dapat mendorong pembangunan bangsa, agama tentu dapat menjadi motivasi untuk berkontribusi dalam pembangunan bangsa, baik dalam bidang ekonomi, ataupun dalam bidang sosial.
Lebih dari itu, beragama secara maslahat dapat menyelesaikan masalah sosial yang terjadi pada masyarakat di Indonesia.Karena prinsip-prinsip agama tentu dapat digunakan sebagai solusi berbagai masalah sosial, seperti ketidakadilan, korupsi, maupun konflik. Implementasi dari beragama secara maslahat contohnya dengan pendidikan agama yang holistik, moderasi beragama, dan kerjasama antarumat beragama.
Pendidikan agama dapat dipastikan tidak hanya mengajarkan tentang doktrin, tetapi juga tentang nilai-nilai kemanusiaan dan kewarganegaraan. Adapun moderasi beragama tentunya dapat menengahkan penafsiran beragama untuk menghindari ekstremisme dan radikalisme. Kerjasama antarumat beragama tentu dapat membangun sinergi antar berbagai umat untuk mencapai cita-cita Indonesia emas 2045.
Sebagaimana diutarakan oleh Muhammad Thohir ibnu Ashur di dalam kitabnya Ushul nidzom al ijtima’i fil Islam, sesungguhnya Islam menyerukan reformasi umat manusia dalam segala aspek kehidupanya. Karena dengan mereformasi individu manusia maka akan membuahkan reformasi sistem tatanan dunia, karena manusia merupakan entitas yang memiliki otoritas tertinggi dalam kehidupan.
Syekh Thohir juga menjelaskan bahwa reformasi umat manusia itu terjadi dengan mereformasi individu masyarakat yang dapat mereformasi bangsanya ketika umat manusia itu bersatu. Reformasi umat manusia, atau reformasi sosial adalah tujuan akhir agama Islam sebagaimana dinubuatkan dalam Qur’an surat Al-baqarah ayat 205 sehubungan dengan kebalikan dari reformasi sosial: “Apabila berpaling (dari engkau atau berkuasa ), dia berusaha untuk berbuat kerusakan di bumi serta merusak tanaman-tanaman dan ternak, dan sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Dengan penjelasan diatas, tentunya implementasi dari reformasi umat manusia, atau sosial adalah kemaslahatan dalam beragama. Syekh Thahir ibnu Ashur menyebutkan dalam kitabnya Maqasidu syariat Islamiyat, bahwasanya maslahat terbagi menjadi dua. Pertama adalah maslahat umat, yaitu untuk kemaslahatan seluruh bangsa atau masyarakat, dan tidak memperhatikan kemaslahatan individu kecuali merupakan bagian dari keseluruhan bangsa. Kedua adalah kemaslahatan individu yaitu kemaslahatan individu perorangan dimana kemaslahatan itu tercipta dari reformasi dirinya sendiri, sehingga tercapai kebaikan masyarakat yang muncul dari individu tersebut.
Oleh karena itu, dengan reformasi umat manusia, atau sosial dan beragama secara maslahat tentunya menjadi kunci dan jembatan emas dalam menunjang paradigma maupun tantangan seperti ekstremisme, radikalisme, dan intoleransi dalam beragama, bahkan beragama secara maslahat dapat menjadi solusi yang komprehensif untuk momentum bonus demografi Indonesia emas 2045. Beragama secara maslahat juga merupakan investasi penting untuk generasi muda, membekali generasi muda dengan nilai-nilai luhur agama yang akan menjadi pilar dan berkontribusi untuk kemajuan bangsa.