
Penulis: Muhammad Dakhlan Gazali (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis, Tunisia)
PPI Tunisia -El Kram, Tunisia, 2 Mei 2026 — Kawasan El Kram, Tunisia, menjadi saksi kebanggaan tersendiri bagi Indonesia. Dalam gelaran Seminar dan Pameran Buku Internasional Tunisia 2026 yang dihadiri ribuan pengunjung dari berbagai penjuru dunia, Indonesia tampil sebagai tamu kehormatan (guest of honor), menandai pengakuan atas eratnya hubungan intelektual dan budaya kedua negara.
Di tengah momentum bersejarah tersebut, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia tampil bukan sekadar sebagai penonton, melainkan sebagai kontributor gagasan di panggung akademik internasional.
Dalam sesi seminar bertajuk “الشباب: بناء الوطن والحضارة” (Pemuda: Membangun Bangsa dan Peradaban), salah satu kader PPI Tunisia, Hilmy Dzulfiqar Rusydie, dipercaya tampil sebagai pemateri bersama tokoh-tokoh kepemudaan Tunisia — sebuah kepercayaan yang tidak datang begitu saja.
Hilmy berdiskusi bersama Nizar Jaray, aktivis kemahasiswaan Tunisia, dan Iyadh Ben Murod, yang dikenal aktif dalam gerakan kepemudaan. Forum berlangsung dinamis, membahas peran strategis pemuda dalam membangun bangsa dan peradaban.
Dalam pemaparannya, Hilmy menegaskan bahwa ukuran kepemudaan bukan semata usia, melainkan cara berpikir yang mampu memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Pemuda adalah mereka yang mampu memengaruhi lingkungan melalui cara berpikir yang kritis dan konstruktif. Dari situlah perubahan dalam masyarakat dan negara dapat terwujud,” ujar Hilmy di hadapan peserta seminar dari berbagai negara.
Hilmy juga menarik benang merah antara semangat kepemudaan Indonesia dan Tunisia. Ia menyebut bahwa pemuda Indonesia pernah menjadi tulang punggung kemerdekaan, sebagaimana pemuda Tunisia yang berjuang mengakhiri kolonialisme Prancis.
“Mahasiswa Indonesia di luar negeri, termasuk yang tergabung dalam PPI Tunisia, harus menjadi jembatan peradaban. Ilmu dan pengalaman yang diperoleh harus kembali memberikan dampak nyata bagi Indonesia,” tegasnya.
Pesan ini diamplifikasi oleh Duta Besar Republik Indonesia untuk Tunisia, Bapak Zuhairi Mistawi, yang turut hadir dalam forum tersebut. Dengan mengutip Proklamator Soekarno, “Berikan aku sepuluh pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia,” Dubes Zuhairi menegaskan bahwa mahasiswa Indonesia di luar negeri menyimpan potensi besar sebagai agen perubahan, asalkan mampu memaksimalkan ilmu dan pengalaman yang mereka dapatkan.
Diskusi semakin tajam ketika Iyadh Ben Murod menyoroti ancaman terbesar generasi muda: bukan kemiskinan atau konflik, melainkan rasa takut, kemalasan, dan jebakan media sosial.
“Media sosial bisa menjadi alat yang kuat, tetapi juga bisa menjadi penghambat jika tidak digunakan dengan bijak,” ingatnya.
Senada, Nizar Jaray mendorong pemuda untuk tidak menunggu kondisi sempurna sebelum bergerak. “Pemuda tidak boleh menunggu. Mereka harus bergerak dan menciptakan kesempatan. Perubahan hanya lahir dari keberanian untuk bertindak,” serunya.
Keterlibatan PPI Tunisia dalam forum yang dipadati ribuan pengunjung internasional ini bukan sekadar partisipasi seremonial. Ini adalah bukti bahwa pelajar Indonesia di luar negeri hadir sebagai representasi kolektif bangsa — membawa nama Indonesia ke meja diskusi internasional, bukan hanya ke bangku kuliah.
Dengan aktif terlibat dalam diskursus global, PPI Tunisia menunjukkan komitmen membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran dan tanggung jawab peradaban.
Ke depan, kiprah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi seluruh komunitas pelajar Indonesia di luar negeri untuk terus memperluas kontribusi — dalam bidang keilmuan, kebudayaan, dan diplomasi intelektual — demi memperkuat posisi Indonesia di mata dunia.