
Penulis: Muhammad Farhan Qurota Yasir (Mahasiswa S2 Universitas Az-Zaitunah, Tunis, Tunisia)
PPI Tunisia – Kadang saya bertanya-tanya, sudah berapa banyak kajian yang saya lihat diposterkan dengan desain begitu indah, dihadiri puluhan bahkan ratusan orang, lalu hilang begitu saja tanpa bekas di dalam kepala siapa pun. Tidak, saya tidak sedang sinis. Saya hanya begitu lelah menyaksikan pengulangan yang sama, dimana anak-anak muda kita di Tunisia – cerdas, berpotensi, penuh semangat – tapi semangat itu dialirkan ke tempat yang keliru. Mereka datang ke majelis ilmu bukan untuk dihantam oleh pertanyaan-pertanyaan yang meruntuhkan kepastian, melainkan untuk memastikan bahwa mereka terlihat hadir.
Lihatlah linimasa media sosial. Satu jam setelah kajian, puluhan unggahan bermunculan. Semua tersenyum. Semua menuliskan takarub yang sama. Namun kalau kita tarik mereka ke sudut ruangan dan bertanya pelan, “Apa satu hal yang paling mengganggu pikiranmu dari materi tadi?” – saya jamin sebagian besar akan terdiam, lalu menjawab dengan kalimat-kalimat aman yang sebenarnya kosong.
Inilah yang Guy Debord sebut sebagai spectacle, masyarakat tontonan. Kita tidak lagi mengalami peristiwa, kita hanya mengalami representasinya. Kajian sudah menjadi pseudo-event, peristiwa semu yang nyata hanya ketika ia berubah menjadi unggahan. Lihatlah betapa banyak mahasiswa yang sibuk merekam pemateri, mengambil foto dari berbagai sudut, tetapi selama dua jam itu tidak satu pun catatan serius yang ditulis. Mereka hadir sebagai content creator, bukan sebagai pencari kebenaran. Dan saya tidak bisa menyalahkan mereka sepenuhnya. Lingkungan sosial kita di perantauan ini, dengan segala dinamikanya, perlahan mengajari mereka bahwa menjadi intelektual adalah soal penampakan, bukan soal pengalaman batin.
Maka mereka pun bertindak sebagaimana pasar tanda menghendaki, menggunakan istilah-istilah rumit secara acak kadut, melontarkan istilah maqāṣid syarī‘ah, istilah dari instrument-instrumen negara, melontarkan apa yang diberitakan breaking news, di tempat yang tidak semestinya, menyelipkan hermeneutika hanya agar dikira mendalam, padahal pemakaiannya yang serampangan justru memperlihatkan kedangkalan mereka sendiri. Bourdieu menyebut ini misrecognition, pengakuan palsu. Mereka mengumpulkan cultural capital tanpa pernah benar-benar memilikinya, seperti orang yang memamerkan perpustakaan tetapi tidak pernah membaca buku-bukunya.
Yang lebih menyedihkan adalah kenyataan bahwa kehadiran di kajian seringkali tidak lebih dari transaksi sosial. Saya melihatnya begitu jelas. Ada yang datang untuk “setor muka” kepada Duta Besar yang hadir, ada yang mendekatkan diri ke ketua organisasi, ada yang sekadar ingin dicatat oleh kakak kelas sebagai “adik yang aktif”.
Pertanyaan yang mereka ajukan di sesi diskusi bukanlah pertanyaan yang lahir dari kegelisahan, melainkan pertanyaan yang dirancang agar wajah mereka diingat. Begitu pertanyaan selesai dilontarkan, perhatian mereka langsung buyar. Gawai kembali diangkat, obrolan samping dilanjutkan, dan jawaban pemateri menguap begitu saja. Ini adalah bentuk willful ignorance yang paling meresahkan – bukan ketidaktahuan yang terjadi karena keterbatasan akses, melainkan ketidaktahuan yang dipilih secara sadar. Mereka tidak peduli bahwa mereka tidak paham. Dan di titik inilah saya merasa paling gamang, apakah kita masih bisa menyebut ini sebagai majelis ilmu, ataukah ini hanya panggung besar tempat semua orang saling memvalidasi kehadiran masing-masing?
Saya ingin berbicara jujur tentang satu ritual yang paling telanjang memperlihatkan krisis ini, sesi makan-makan. Anda tahu persis apa yang saya maksud. Ada peserta yang menunggu detik-detik menuju hidangan dibuka, dan begitu makanan tersaji, fokus mereka sepenuhnya beralih. Piring di tangan, obrolan ringan mengalir, dan materi kajian tenggelam tanpa jejak. Ini bukan soal lapar – saya mengerti bahwa mahasiswa seringkali hidup dengan ekonomi terbatas. Tetapi yang saya soalkan adalah orientasi. Jika gravitasi acara terletak pada konsumsi, validasi, dan gengsi, bukan pada diskusi, maka kita harus berani mengakui bahwa kita sedang menyelenggarakan jamuan makan dengan kedok intelektual, bukan kajian yang sesungguhnya.
Ironi yang paling menusuk adalah ketika kajian yang sepi partisipan ditinggalkan begitu saja, sementara kajian yang ramai – baik karena kehadiran tokoh-tokoh penting atau keramaian sosial atau gengsi yang ditawarkannya – dipadati oleh orang-orang yang sama sekali tidak tertarik pada tema, tetapi sangat tertarik pada kerumunan.
Saya meminjam konsep mimetic desire dari René Girard untuk memahami kegilaan ini. Mahasiswa kita meniru keinginan orang lain. Mereka ingin menjadi intelektual, tetapi yang mereka inginkan sebenarnya adalah citra intelektual, bukan proses menjadi intelektual itu sendiri. Mereka ingin diakui sebagai pemikir tanpa mau mengalami siksaan berpikir. Mereka ingin dihormati sebagai aktivis tanpa mau menanggung risiko mengkritik secara serius. Maka kajian pun berubah menjadi arena pameran portofolio, alat branding, cara untuk popularitas, dan strategi mengisi kekosongan yang ditimbulkan oleh FOMO.
Saya tidak sedang menuduh. Saya sedang membaca gelagat. Dan gelagat ini mengatakan bahwa ada krisis formasi subjek intelektual yang akut di kalangan mahasiswa Indonesia di Tunisia hari ini. Mereka tidak sepenuhnya salah, karena sistem sosial di sekitar mereka tidak pernah menuntut kedalaman. Organisasi-organisasi yang seharusnya menjadi rumah bagi perkembangan pemikiran-pemikiran tajam justru terjebak dalam pragmatisme yang sama dan berpola, kajian diselenggarakan untuk memenuhi kalender, untuk legitimasi laporan ke KBRI, untuk menunjukkan bahwa “kami bergerak di bidang keilmuan”, tanpa pernah berhenti sejenak dan bertanya, apakah semua ini benar-benar mengubah cara berpikir anggota kami?
Saya percaya di dalam pembacaan reflektif ini, terdapat keberanian untuk melihat degradasi kajian bukan sebagai masalah teknis – kurangnya dana, kurangnya pemateri, kurangnya minat – melainkan sebagai masalah filosofis dan kultural yang mandiri. Inilah krisis formasi subjek. Dan krisis ini tidak bisa diselesaikan dengan memperbanyak acara. Memperbanyak acara dalam situasi seperti ini sama dengan menambah panggung di tengah padang pasir, dimana makin banyak yang berdiri, makin sedikit yang benar-benar mendengar.
Yang kita butuhkan adalah revolusi kesadaran, pedagogis dan spiritual. Saya tahu kata-kata ini terdengar muluk. Tapi saya tidak berbicara tentang perubahan kebijakan organisasi. Saya berbicara tentang perubahan cara kita menghayati kegiatan intelektual. Tentang mengembalikan gairah (eros) pengetahuan ke dalam hati setiap mahasiswa yang lelah berpura-pura. Tentang menciptakan ruang-ruang kecil di mana pertanyaan dilontarkan bukan untuk dipamerkan, tetapi karena jiwa benar-benar gelisah mencarikan jawabannya karena benar-benar mengerti sebegitu besarnya nilai dari jawaban tersebut pada kehidupan ini.
Saya sering membayangkan, andai ada satu saja kajian di mana semua peserta benar-benar membaca materi sebelumnya, benar-benar diam selama pemateri berbicara, benar-benar bertanya dengan getar suara yang menunjukkan bahwa mereka tersentuh oleh gagasan, dan masih terus menerus menggali karena mengerti nilai dari apa yang dicarinya dan merasa terus diganggu pikirannya bahkan setelah kajian. Satu kajian saja. Mungkin itu sudah cukup untuk memulai sesuatu yang baru. Sesuatu yang tidak dipamerkan, tidak diunggah dengan takarub kosong, tidak dinilai dari jumlah yang hadir, tetapi meninggalkan bekas yang dalam di dalam batin mereka yang datang. Sebab pada akhirnya, sejarah intelektual tidak dibangun dari berapa banyak acara yang kita selenggarakan, melainkan dari berapa banyak kesadaran yang berhasil kita goncangkan. Dan di Tunisia ini, di negeri yang tanahnya menyimpan debu peradaban besar, sungguh terlalu mahal harga yang kita bayar jika kita hanya menjadikannya latar foto panggung tanpa panggilan.