PPI TUNISIA

Islam yang Moderat

Oleh: Alief Bintang Pratama

BPC Kairouan – Belakangan ini kerap kali kita jumpai di kanal media sosial berita – berita tentang kekerasan atau aksi protes yang dilakukan oleh sebagian oknum dari organisasi masyarakat Islam, seperti aksi pembubaran kegiatan beribadah di Gereja Misi Sejahtera (GMS) di Bantul, Yogyakarta, pada Minggu (24/05), yang mana aksi tersebut diketahui dimobilisasi oleh sejumlah orang dari Forum Jihad Islam (FJI) Yogyakarta, sebagaimana yang diberitakan oleh BBC News Indonesia.

Pada aksi protes tersebut muncul adanya dugaan intimidasi, ancaman fisik dan verbal yang dilakukan oleh oknum – oknum tersebut, kejadian – kejadian seperti ini kerap kali terjadi dan dilakukan oleh orang-orang yang mengatasnamakan dirinya sebagai anggota dari salah satu organisasi masyarakat Islam, dan ini dapat menjadi bumerang bagi masyarakat Islam secara keseluruhan dan akan memunculkan stigma di kalangan masyarakat non-muslim bahwa Islam adalah agama yang suka memerangi penganut agama lain.

Namun yang menjadi pertanyaan yang mendasar bagi kita adalah apakah yang melatar belakangi munculnya kelompok ekstrimis di dalam Islam ? Dan apakah Islam mengajarkan penganutnya untuk tidak memberikan ruang bagi agama lain ?

Munculnya kelompok ekstrimis dan fanatis di dalam tubuh masyarakat Muslim bukanlah suatu permasalahan yang baru terjadi belakangan ini, akan tetapi kelompok tersebut telah menjadi bagian dari sejarah perkembangan dunia Islam sejak era awal setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW (632M).

Kerap kali kelompok ini muncul untuk mendukung seseorang baik itu secara personal atau secara pemikiran dan pandangan, sebagaimana kemunculan kelompok Syi’ah yang dipelopori oleh orang – orang yang fanatik kepada Ali RA atau munculnya kelompok yang fanatik kepada Mu’awiyyah RA, kefanatikan mereka kepada dua tokoh tersebut menyebabkan munculnya perselisihan dan pertikaian yang disulut oleh oknum – oknum yang tidak bertanggung jawab hingga mengakibatkan perpecahan yang kian semakin nyata, lantas mengapa fanatisme dan ekstrimisme dapat muncul ?

Prof. Mahmoud Hamdy Zaqzuq menjelaskan dalam bukunya Religious Thought and Contemporary Issues tentang tujuan awal dari penciptaan manusia di alam semesta ini adalah sebagai pemimpin dan untuk membangun sebuah peradaban, sebagaimana firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah ayat 30: “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” akan tetapi pada waktu yang bersamaan Allah SWT juga mengabarkan kepada kita bahwa manusia adalah makhluk yang lemah jika dibandingkan dengan ciptaan-Nya yang lain sebagaimana dinyatakan di dalam Surat An-Nisa ayat 28: “Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan (bersifat) lemah.” lantas bagaimana manusia dapat menjadi pemimpin di alam semesta jika ia lemah ?

Tuhan menganugerahkan kepada manusia akal pikiran yang ia titipkan kepada kita agar dapat menjadi kompas dalam mengarungi kehidupan di alam semesta ini, dalam banyak kesempatan di dalam ayat – ayat Al-Qur’an Allah SWT mengisyaratkan kepada manusia untuk menggunakan akal mereka sebagai alat untuk berpikir, seperti firman Allah di dalam Surat Ya Sin ayat 68: “Dan barangsiapa kami panjangkan umurnya niscaya kami kembalikan dia kepada awal kejadian(nya). Maka mengapa mereka tidak mengerti / berpikir ?” dan masih banyak lagi ayat – ayat yang mengisyaratkan kepada manusia untuk menggunakan akalnya dalam berpikir dan bertindak.

Namun yang menjadi masalah adalah ketika manusia sudah mulai meninggalkan kemampuannya dalam menggunakan akalnya untuk berpikir dalam setiap langkah dan tindakannya maka kita akan melihat munculnya sikap Taqlid atau menerima yang kerap kali dibarengi dengan penerimaan mutlak tanpa dibarengi pencarian dan verifikasi kebenaran, sikap Taqlid Buta ini yang kerap kali menjadi titik awal dari munculnya kelompok – kelompok yang memiliki fanatisme dan ekstrimisme tinggi.

Akal yang diciptakan oleh Tuhan memang dirancang sedemikian rupa agar dapat digunakan oleh manusia untuk menjalankan amanah yang telah diberikan oleh Tuhan, yaitu membangun peradaban, kita dituntut untuk bertahan hidup dengan segala sumber daya yang telah disediakan oleh alam, munculnya peradaban besar di Mesopotamia, Yunani, Kartago, Andalusia, Nusantara dan lain sebagainya telah menjadi bukti bahwa penggunaan akal sebagai alat untuk berpikir telah berhasil membawa manusia untuk merealisasikan pesan Tuhan.

Perkembangan, pembaharuan dan penemuan yang terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia dipengaruhi oleh keaktifan manusia dalam berpikir, tidak hanya itu kehumanisan seseorang juga dapat kita lihat akan tumbuh seiringan dengan munculnya pola berpikir yang baik pada diri orang tersebut, maka tidak mengherankan jika kita katakan di antara sebab – sebab dari munculnya kelompok ekstrimis dan awal mula dari hancurnya peradaban adalah kurangnya peran akal dalam menerima dan memahami suatu peristiwa atau berita, karena itu Allah SWT dalam Surat Al-Hujurat ayat 6 memperingatkan kepada kita untuk selalu memverifikasi setiap hal yang kita terima agar kita tidak terjerumus ke dalam lubang penyesalan: “Wahai orang – orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”

Islam mengajarkan kepada para pengikutnya untuk selalu menggunakan akal dalam setiap kesempatan tidak hanya dalam urusan kehidupan di dunia akan tetapi dalam urusan beragama, baik hubungan antara sesama manusia atau hubungan antara dirinya dan sang pencipta, karena akal yang baik akan membawa manusia menuju sosok yang humanis dan moderat.

Al-Qur’an mengabarkan kepada kita bahwa Allah SWT menjadikan ummat Islam sebagai ummat yang berada di tengah, sebagaimana yang Allah SWT firmankan di dalam Surat Al-Baqarah ayat 143: “Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) “umat pertengahan” agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. Kami tidak menjadikan kiblat yang (dahulu) kamu (berkiblat) kepadanya melainkan agar Kami mengetahui siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik ke belakang. Sungguh, (pemindahan kiblat) itu sangat berat, kecuali bagi orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sungguh, Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang kepada manusia.”

Di sini dapat kita saksikan bahwa Allah SWT mengisyaratkan kepada hambanya untuk bersikap moderat, yang mana Syaikh Muhammad At-Thahir Ibn A’syur (1973) di dalam bukunya Ushul An-Nidhzom Al-Ijtimai’ Fi Al-Islam menjelaskan bahwa sikap moderat adalah sikap yang tidak mengurang-ngurangi atau melebih-lebihkan sesuatu atau dapat kita pahami sebagai sikap adil, adil dalam menilai, adil dalam bertindak dan adil dalam setiap perilaku, sikap ini lah yang kerap kali luput dari setiap tindakan kita.

Terkadang kita terlalu mudah menjustifikasi suatu masalah tanpa mempertimbangkan segala aspek kemungkinan secara menyeluruh dan sering kali kita menilai sesuatu secara tidak adil, oleh karena itu Islam juga tidak hanya mengajarkan kepada para pengikutnya untuk memiliki sikap yang moderat saja atau adil, akan tetapi jauh dari itu Islam juga mengajarkan setiap penganutnya untuk memiliki sikap toleransi antar sesama, tidak hanya kepada sesama Muslim akan tetapi Islam mengajarkan kepada para pengikutnya untuk memiliki sikap toleransi kepada selain Muslim dan ini sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika di Madinah, ummat Islam dan non-islam (Yahudi Yatsrib) hidup berdampingan tanpa adanya diskriminasi dari kaum Muslim dan tanpa adanya paksaan untuk menerima ajaran Islam.

Allah SWT di dalam Al-Qur’an juga memberikan kesempatan kepada manusia untuk memilih akan apa yang mereka yakini, Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-Kahfi ayat 29: “Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” lebih lanjut lagi Allah SWT berfirman di dalam Surat Al-Kafirun ayat 6: “Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”.

Dua hal ini, sikap moderat dan toleransi, merupakan salah satu pondasi untuk menuju tatanan masyarakat yang ideal dan harmonis yang dimana perbedaan tidak lagi dipandang sebagai sebuah ancaman akan tetapi perbedaan adalah sebuah keniscayaan di dalam kehidupan bermasyarakat, sikap toleransi mengajarkan kita untuk memberi ruang kepada orang lain untuk berekspresi, karena toleransi bukan berarti kita menerima secara mutlak sebagaimana yang dijelaskan oleh Prof. Quraish Syihab di dalam buku Toleransi Ketuhanan, Kemanusiaan dan Keberagamaan, dan sikap moderat mengajarkan kita untuk adil dalam setiap tindakan.

Maka jika kita menemukan kelompok-kelompok ekstrimis di dalam Islam sesungguhnya bukan Islam lah yang salah sebagai sebuah ajaran agama, karena kita sudah melihat bahwa Islam justru mengajarkan kepada para pengikutnya untuk memiliki sifat yang moderat dan toleransi, karena Islam sesungguhnya datang sebagai Rahmat untuk alam semesta bukan datang untuk memerangi seluruh kelompok yang berselisih paham dengan nya, maka yang perlu kita benahi adalah cara pandang dan pemahaman kita terhadap nilai-nilai budi pekerti yang luhur yang dibawa oleh Islam dan mengaitkannya dengan realitas sosial serta mengaktualkannya melalui bukti nyata.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *