
Oleh: Fatimah Azzahra
BPC Kairouan – “Sebenarnya apa sih yang sedang kita kejar? Kita ini sedang hidup, atau sedang mengejar kehidupan yang seharusnya?” Di usia ketika seseorang mulai dituntut untuk mengetahui ingin menjadi apa, justru semakin banyak pertanyaan yang muncul, apakah jurusan yang dipilih sudah benar? Apakah hasilnya akan sesuai harapan? Mengapa teman-teman terlihat lebih unggul? Sebenarnya, ke mana arah hidup ini?” Pertanyaan-pertanyaan semacam ini mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian orang pada usia dewasa awal, pertanyaan tersebut dapat berkembang menjadi kecemasan yang panjang. Masa muda yang seharusnya menjadi ruang untuk bertumbuh justru dapat dipenuhi keraguan tentang hal yang belum tentu terjadi, atau masa depan. Fenomena inilah yang sering disebut sebagai quarter-life crisis, sebuah fase ketika seseorang mengalami kebingungan, kecemasan, dan ketidakpastian mengenai arah hidup, karier, relasi, maupun pencapaian diri.
Di tengah kondisi tersebut, Filosofi Teras karya Henry Manampiring menawarkan perspektif Stoikisme yang menarik untuk direnungkan. Di awal abad ke-3 SM, muncul istilah filsafat Stoa dikota Athena, Yunani. Dalam filsafat ini, ‘kebahagiaan’ bukan menjadi tujuan utama para filsuf Stoa. Tetapi, mereka lebih menekankan pada pengendalian emosi negatif dan mengasah kebajikan (virtue) dalam diri manusia. Stoikisme tidak menjanjikan kehidupan tanpa masalah, tetapi mengajarkan manusia untuk membedakan antara kenyataan dan penilaiannya terhadap kenyataan. Dengan demikian, Stoikisme dapat diinterpretasikan sebagai salah satu perspektif untuk menghadapi quarter-life crisis, terutama melalui pemahaman tentang kendali, pengelolaan interpretasi, serta respon terhadap suatu permasalahan.
Salah satu gagasan yang paling relevan dengan kondisi kecemasan manusia adalah ungkapan Seneca yang juga merupakan salah Satu filsuf stoik, ia mengatakan“We suffer more in imagination than in reality.” Kita sering kali menderita bukan hanya karena apa yang benar-benar terjadi, tetapi karena berbagai kemungkinan buruk yang kita ciptakan dalam pikiran atau bahkan espektasi dan imajinasi kita terhadap suatu hal yang ada diluar kendali kita. Di sinilah Stoisisme mengajarkan pentingnya membedakan ‘peristiwa’ dengan ‘penilaian terhadap peristiwa’. Dalam Filosofi Teras, pembaca diajak untuk menyadari bahwa tidak semua hal berada dalam kendali manusia. Inilah yang dikenal sebagai dikotomi kendali, yaitu ada hal-hal yang dapat kita kendalikan dan hal-hal yang berada di luar kendali kita. Usaha, keputusan, dan respon kita berada dalam ruang kendali, sedangkan penilaian orang lain, respon, dan hasil akhir dari suatu usaha tidak sepenuhnya dapat kita tentukan.
Namun, nyatanya kehidupan tidak selalu sesederhana “bisa dikendalikan” atau “tidak bisa dikendalikan”. Karena itu, konsep trikotomi kendali menjadi relevan. Ada hal yang sepenuhnya berada dalam kendali kita, ada yang berada di luar kendali, dan ada pula hal yang dapat kita pengaruhi tetapi hasil akhirnya tidak sepenuhnya berada di tangan kita. Menjadi pembicara atau pemateri dalam suatu diskusi adalah salah satu contohnya. Kita dapat belajar, mempersiapkan materi, atau latihan presentasi atau penyampaian materi. Akan tetapi, respons dan penilaian audience terhadap performa kita tetap merupakan hal yang di luar kendali kita. Dan yang bisaakita kendalikan pun setelahnya adalah bagaimana kita menerima respons dari orang lain yang ditujukan kepada kita. Dengan memahami batas tersebut, seseorang dapat tetap berusaha tanpa menggantungkan ketenangan dirinya pada hasil yang belum tentu dapat dikendalikan.
Perspektif tersebut kemudian dapat diimplementasikan secara praktis melalui metode yang disebut S-T-A-R: Stop, Think & Assess, Respond. Ketika menghadapi suatu masalah, langkah pertama adalah Stop, yaitu berhenti sejenak dan tidak langsung bereaksi berdasarkan emosi. Kemudian Think & Assess, pikirkan apa yang sebenarnya terjadi, bedakan fakta dari asumsi, dan tentukan bagian mana yang berada dalam kendali dan mana yang sebenarnya diluar kendali. Setelah itu, Respond, berikan respons yang lebih rasional melalui tindakan yang dapat dilakukan.
Pada akhirnya, quarter-life crisis mungkin tidak dapat dihilangkan hanya dengan membaca satu buku atau memahami satu solusi. Perlu diperhatikan juga bahwa Stoikisme bukan ajakan untuk pasrah terhadap keadaan. Justru sebaliknya, ia mengajarkan seseorang untuk bertindak pada sesuatu yang dapat dipengaruhi dan menerima batas terhadap hal-hal yang tidak dapat dikendalikan. Barangkali, menghadapi masa dewasa bukan tentang menemukan seluruh jawaban sekaligus, melainkan belajar hidup dengan pertanyaan-pertanyaan yang belum memiliki jawaban. Sebab, sebagaimana gagasan filsuf Stoik bahwa ketenangan bukan selalu lahir karena keadaan telah menjadi sesuai keinginan kita, tetapi karena kita belajar mengendalikan cara kita merespons keadaan tersebut.