
Oleh: Ihza Habib Alfarizi – Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah Kairouan, Tunisia
BPC Kairouan – Cogito, Ergo Sum, (dibaca Ko-gi-to Er-go Sum) dalam bahasa latin memiliki arti “Aku berpikir, karena itu aku ada” merupakan sebuah frasa yang cukup populer dikalangan filsuf modern. Sebuah frasa yang dikemukakan oleh Rene Descartes (1596-1650 M), pelopor aliran filsafat rasionalisme pada abad ke-17 masehi. Aliran filsafat rasionalisme mendasarkan filsafatnya pada akal budi atau Ratio. Menempatkan akal sebagai sumber pengetahuan dan pembenaran yang sah, dengan menafikan bahwa segala sesuatu yang ditangkap oleh panca indra tidak dapat dipastikan kebenarannya. Karena memiliki unsur menipu, dan itulah yang menjadikannya sebagai sumber pengetahuan yang tidak pasti. Oleh karenanya, akal budi akan selalu memberikan kepastian pengetahuan. Sebagai contoh, satu apel ditambah dengan satu apel menjadi dua buah apel, 1+1 akan selamanya tetap dua. Segitiga memiliki tiga sisi, siapapun tidak perlu keliling dunia hanya untuk membuktikan bahwa segitiga itu memiliki tiga sisi. Manusia memiliki ide-ide bawaan sejak lahir yang bersifat pasti, universal, dan tidak bergantung pada pengalaman fisik. Sedangkan panca indra tidak menciptakan pengetahuan, melainkan berfungsi sebagai pembantu akal dalam mengumpulkan bahan mentah yang akan diolah oleh ratio atau akal. Sehingga pengetahuan sejati dan kebenaran hanya dapat diperoleh melalui metode berpikir yang logis, deduktif, dan analisis intelektual. Inilah apa yang diyakini oleh para filsuf dalam aliran filsafat rasionalisme. Apabila aliran filsafat tersebut menempatkan akal budi atau ratio sebagai sumber utama ilmu pengetahuan dan menjadikan panca indra sebagai alat bantu. Lantas muncul sebuah pertanyaan, jika seluruh manusia sejak lahir telah memiliki ide-ide bawaan (A Priori). Bagaimana dengan manusia yang sejak lahir terkurung di dalam goa? Bagaimana dengan manusia yang tidak pernah melihat ataupun merasakan dunia dan alam ini? Atau bagaimana dengan manusia yang sejak lahir panca indranya tidak berfungsi? Apakah ide-ide bawaan tersebut akan tetap ada?
Seiring dengan munculnya aliran filsafat rasionalisme, muncul pula aliran filsafat empirisme. Sebuah gagasan yang cukup menarik dengan menawarkan filsafat dengan kacamata yang berbeda dari sebelumnya. Francis Bacon (1561-1626 M) mengenalkan konsep metode induktif dalam ilmu pengetahuan, dengan mengumpulkan data-data khusus dari sebuah pengamatan untuk menarik kesimpulan umum. Secara sederhana, filsafat empirisme meyakini kebenaran A Posteriori yaitu kebenaran yang hanya diketahui setelah melakukan pengamatan atau eksperimen nyata. Dengan menempatkan pengalaman indrawi sebagai sumber pengetahuan utama dan menganggap akal pikiran layaknya kertas kosong. Salah satu tokoh yang monumental dalam aliran filsafat ini adalah John Locke (1632-1704 M) dengan teori Tabula Rasa, (dibaca Ta-bu-la Ra-sa) dalam bahasa Latin memiliki arti sebuah papan yang dikikis bersih atau sering diartikan dengan kertas kosong, frasa ini sudah diserap dalam bahasa Indonesia dengan makna teori yang menyatakan bahwa setiap individu dilahirkan dengan jiwa yang putih bersih dan suci. Teori ini menyatakan bahwa manusia lahir tanpa memiliki ide bawaan apapun, dan seluruh pengetahuan tersebut baru ada melalui pengalaman dan persepsi indrawi secara bertahap sepanjang hidupnya. John locke menjelaskan bahwa pikiran manusia yang kosong mulai terisi melalui dua jalur pengalaman. Sensasi (Sensation/ pengindraan), ialah proses ketika panca indra manusia menangkap stimulus atau rangsangan dari luar. Sebagai contoh, ketika manusia menyentuh es dan merasakan sesuatu yang saat ini dikenal sebagai dingin, contoh lain ketika manusia melihat matahari dan indranya menangkap informasi tersebut dan memberikan informasi yang saat ini kita ketahui sebagai silau. Selanjutnya refleksi (reflection/ perenungan), ialah proses internal ketika pikiran mengolah, mengingat, membandingkan, dan mengombinasikan ide-ide yang didapat dari sensasi luar. Sebagai contoh, setalah merasakan es yang dingin dan api yang panas, pikiran merefleksikan perbedaan suhu di antara keduanya. Contoh lain setelah merasakan silaunya matahari dan gelap gulitanya malam, pikiran merefleksikan perbedaan intensitas cahaya dan siang-malam.
Pada titik ini, muncul sebuah pertanyaan sederhana. Darimana kita mendapat ilmu pengetahuan yang benar? Salah satu poin yang harus kita ingat dalam pembahasan ini ialah sumber pengetahuan. Kaum rasionalisme meyakini akal budi atau ratio sebagai sumber pengetahuan. Sedangkan kaum empirisme meyakini persepsi indrawi sebagai sumber pengetahuan. Lantas bagaimana masing-masing dari kedua aliran filsafat ini membuktikan hal tersebut?
Aku berpikir, karena itu aku ada. Rene Descartes meragukan segala pengetahuan yang telah dia pelajari selama ini. Karena pengetahuan tersebut tidak memberikan sebuah konklusi pasti dan hanya menjadi alat untuk debat kusir. Akan tetapi, menurutnya mustahil pula jika segala sesuatu diragukan, tetap ada hal-hal yang pasti menurutnya seperti kepastian ilmu matematika. Hingga suatu hari muncul sebuah pertanyaan, bagaimana manusia bisa mengetahui bahwa dirinya tidak sedang bermimpi? Bagaimana jika apa yang ditangkap oleh indranya selama ini merupakan sebuah ilusi? Lantas manakah kebenaran pasti yang bisa dia yakini? Metode ini tidak untuk mejadikan manusia skeptis selamanya, melainkan sebagai penyaring untuk mencari satu hal yang pasti. Dan kebenaran pasti itu telah ditemukan Rene Descartes, yaitu keraguan dia sendiri. Ketika dia meragukan suatu hal, dia menyadari dirinya sedang berpikir. Jika dia berpikir, maka yang berpikir itu haruslah ada. Inilah yang menjadi fondasi utama dalam sistem filsafatnya. Sekarang kita bergeser pada realitas kehendak menurut Baruch Spinoza (1632-1677 M). Keyakinan panteisme Spinoza, dengan meyakini segala sesuatu di alam semesta ini adalah satu kesatuan yang tunggal. Menurutnya Tuhan dan alam semesta adlah satu substansi yang sama. Segala sesuatu yang yang dilihat manusia seperti pohon, bunga, dsb bukanlah ciptaan yang berbeda, melainkan modus atau ekspresi dari subsntansi Tuhan tersebut. Menjadi landasan dalam sistem filsafatnya. Karena alam semesta adalah Tuhan itu sendiri, dan Tuhan bergerak berdasarkan hukum-hukum logika alamiah yang pasti, maka segala sesuatu terjadi karena keharusan mutlak. Ketika manusia sadar akan keiinginannya, dia merasa memiliki kehendak bebas. Akan tetapi, kehendak bebas tersebut hanyalah sebuah ilusi. Spinoza memberikan contoh sederhana dengan menggunakan batu. Di saat seorang anak kecil melemparkan sebuah batu. Jika batu tersebut memiliki kesadaran, ia berpikir dirinya sedang terbang atas kehendaknya sendiri. Begitu pula manusia, dia merasa memiliki kehendak bebas yang sebenarnya dalah ilusi. Dengan melupakan penyebab dasar dari keiinginannya sendiri.
Aku ada, karena itu aku berpikir. Filsafat empirisme sangat kotradiksi dengan filsafat rasionalisme. Aliran ini meyakini keberadaan segala sesuatu yang ditangkap oleh indra manusia. Sebuah pertanyaan dan keyakinan sederhana mengenai pohon di hutan, jika sebuah pohon di hutan tidak ada yang melihat, apakah ia langsung lenyap? Lalu, saat ada orang berjalan ke sana, apakah pohon tersebut mendadak tercipta kembali? John Locke meletakkan fondasi utama dalam aliran filsafat empirisme melalui gagasan tabula rasa. Bahwasanya pikiran manusia saat terlahir bagaikan kertas kosong. Jiwa manusia baru terisi, berwarna, dan memiliki pengetahuan melalui coretan-coretan pengalaman indrawi. Pengetahuan tersebut didapat melalui sensasi dan refleksi, menangkap sensasi dari luar dan memprosesnya secara internal dalam pikiran. George Berkeley (1685-1753 M) menawarkan gagasan yang lebih segar, dia meyakini bahwa keberadaan alam semesta sepenuhnya bergantung pada sejauh mana hal tersebut ditangkap indra manusia dan dipersepsikan akal pikiran. Jika Locke memperkenalkan benda dalam dua sifat, yakni primer seperti ukuran dan gerak. Dan sekunder seperti warna dan rasa. Maka Berkeley menolak itu semua, dan memperkenalkan sifat-sifat benda tersebut sebagai hal yang subjektif. Karena semua sifat hanya ada dalam pikiran. Apa yang Berkeley lihat, apa yang ditangkap oleh indranya, apa yang dipersepsikan oleh pikirannya, belum tentu sama dengan apa yang kita lihat dan dilihat orang lain, dengan apa yang ditangkap oleh indra orang lain, dan dipersepsikan oleh pikiran orang lain. Berkeley pun memeperkenalkan konsep pengamat universal. Dia menjawab kemanakah alam semesta ini ketika tidak ada yang mempersepsikannya? Keberadaan Tuhan sebagai pengamat universal yang mempersepsikan alam semesta dan dipancarkan ke jiwa manusia. Dengan ini dia membagi realitas pada dua hal, jiwa atau pikiran berupa roh manusia dan roh Tuhan. Dan ide-ide yang dialami pikiran tersebut.
David Hume (1711-1776 M) membawa gagasan yang lebih tegas dalam filsafat empirisme. Hume membagi pikiran manusia dalam dua hal, kesan (impressions) yang merupakan pencerapan langsung yang sangat kuat dan hidup ketika kita merasakan atau mengamati sesuatu lewat panca indra atau emosi saat itu juga. Seperti rasa sakit saat jari teriris pisau. Dan ide (ideas) yang merupakan bayangan atau salinan yang lebih kabur dan kurang kuat dari kesan tersebut di dalam memori atau imajinasi kita. Seperti saat mengingat kembali rasa sakit teriris pisau bulan lalu. Hume menegaskan bahwa segala ide yang valid harus berasal dari kesan indrawi. Apabila sebuah ide tidak memiliki kesan indrawi yang mendasarinya, maka ide tersebut hanyalah ilusi atau omong kosong. Selain itu, pandangan Hume terhadap konsep kausalitas memberikan wawasan yang baru dan segar. Menurut Hume, hukum sebab-akibat itu tidak benar-benar ada, melainkan hanyalah dua peristiwa yang terjadi secara berurutan dan berulang-ulang. Hukum kausalitas hanyalah kebiasaan mental manusia, karena sering melihat dua peristiwa berurutan secara berulang-ulang. Sehingga secara otomatis otak manusia mengasumsikan adanya hubungan mutlak. Hanya karena selama sejarah manusia matahari selalu terbit dari timur, tidak ada jaminan mutlak bahwa esok matahari akan terbit lagi dan dari timur. Dan muncullah sebuah gagasan baru bahwasanya manusia bukanlah diri atau jiwa yang utuh. Melainkan, seikat persepsi yang terus berubah dengan cepat dan mengalir tanpa henti seperti teater film.
Sebuah perseteruan diskursus antara kedua aliran filsafat pada abad ke-17 menjadi sebuah titik balik yang luar biasa bagi peradaban manusia. Menjadi salah satu diskursus paling fundamental dalam filsafat modern. Perdebatan ini berpusat pada epistemologi, yaitu cabang filsafat yang mempertanyakan asal-usul, sifat, dan batasan pengetahuan manusia. Rasionalisme berpandangan bahwa akal budi (ratio) adalah sumber utama pengetahuan. Kaum rasionalis percaya bahwa ada kebenaran objektif yang bisa ditemukan tanpa bergantung pada pengalaman indrawi, karena panca indra manusia sering kali menipu. Sedangkan empirisme berpandangan bahwa pengalaman indrawi adalah satu-satunya sumber pengetahuan. Kaum empiris menolak ide bahwa manusia lahir dengan pengetahuan bawaan, dan menegaskan bahwa seluruh pengetahuan kita berasal dari apa yang kita lihat, dengar, sentuh, rasa, dan cium. Perdebatan sengit ini akhirnya menemukan titik temu pada akhir abad ke-18 lewat filsuf Jerman, Immanuel Kant. Kant menjelaskan bahwa kaum empiris benar bahwa pengetahuan dimulai dari pengalaman indrawi. Namun, kaum rasionalis juga benar bahwa akal budi kita memiliki struktur bawaan (seperti konsep ruang, waktu, dan kausalitas) untuk memproses dan mengorganisasi data indrawi tersebut menjadi pengetahuan yang masuk akal. Dan lahirlah gagasannya yang terkenal, pikiran tanpa isi adalah kosong, pengamatan tanpa konsep adalah buta.