
Penulis: Arifatun Nasichah (Mahasiswi S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)
Sejak wahyu pertama diturunkan, Al-Qur’an menjadi pusat perdebatan dan penentangan. Banyak musuh Islam yang menentang ajaran Al-Qur’an dan menyangkal kebenarannya. Tetapi, upaya mereka selalu berakhir buntu dengan keindahan bahasa, kedalaman makna, dan ketepatan logikanya yang tak tertandingi.
Ketika logika dan sastra gagal membantahnya, para penentang memilih tuduhan lama: bahwa Nabi Muhammad belajar Al-Qur’an dari seorang guru manusia. Tuduhan ini telah muncul sejak masa Quraisy dan terus diwariskan hingga kini, padahal sejarah dan realitas kehidupan beliau sendiri membantahnya dengan jelas. Artikel ini akan mengulas pemikiran Dr. Muhammad Abdullah Darraz dalam kitabnya An-Naba’ al-‘Adhim, yang membahas penolakan terhadap kenabian Muhammad melalui pendekatan logika dan realitas sejarah.
Secara logis, seseorang yang memberikan suatu pengetahuan bersumber pada dua hal: lahir dari pemikiran sendiri atau hasil dari belajar kepada orang lain. Kaum kafir Quraisy yang tidak menemukan ciri-ciri seorang filsuf atau penyair besar dalam diri Nabi Muhammad SAW beralih menuduh bahwa beliau belajar dari seorang guru.
Padahal, sejarah menunjukkan bahwa Rasulullah adalah seorang yang ummi—tidak membaca, tidak menulis, dan tidak pernah duduk di majelis ilmu sebelumnya. Maka, satu-satunya kemungkinan yang tersisa bagi para penentang hanyalah dugaan bahwa ada seseorang yang mengajarinya secara lisan.
Siapa sebenarnya “guru” Muhammad itu?
Menilik pada lingkungan Nabi pada masa jahiliyah, apakah tuduhan Quraisy masuk akal ketika seorang yang hidup dalam masyarakat tanpa tradisi keilmuan mampu melahirkan sebuah kitab yang membentuk peradaban dengan ilmu, bahasa, dan petunjuk yang melampaui batas zaman? Bangsa Arab pra-Islam tidak tahu-menahu secara rinci mengenai kisah nabi terdahulu ataupun umat-umat terdahulu, sehingga mustahil ilmu sebesar Al-Qur’an diajarkan oleh seseorang dari lingkungan yang kosong ilmu.
Sedangkan, menilik pada para Ahli Kitab, menurut catatan sejarah tidak ada satu pun riwayat shahih yang menjelaskan bahwa Nabi pernah belajar kepada seorang rahib atau pendeta sebelum masa kenabiannya.
Memang, dalam perjalanan hidupnya, beliau pernah bertemu dengan rahib Bahira ketika ikut berdagang bersama pamannya, Abu Thalib. Tetapi pada pertemuan itu, Bahira justru mengenali tanda-tanda kenabian pada diri beliau bukan mengajarkan ilmu apa pun. Setelah dewasa, beliau juga sempat berbicara dengan Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah yang memeluk agama Nasrani. Namun, Waraqah tidak mengajari beliau, sebaliknya ia mengakui bahwa wahyu yang datang kepada Muhammad adalah wahyu yang sama yang pernah turun kepada Musa. Dengan demikian, pertemuan itu bukan berbentuk pembelajaran, melainkan pengakuan seorang alim terhadap kebenaran kenabian beliau.
Sikap Al-Qur’an terhadap Para Ahli Kitab
Menariknya, isi Al-Qur’an sendiri menunjukkan sikap yang sangat kritis terhadap para Ahli Kitab. Kitab ini tidak meniru ajaran Yahudi atau Nasrani, melainkan menegur dan mengoreksikesalahan mereka dalam hal sejarah dan akidah. Al-Qur’an, misalnya, membantah klaim mereka bahwa Ibrahim termasuk penganut agama mereka. Padahal, baik Taurat maupun Injil baru diturunkan setelah masa Ibrahim. Karena itu, Al-Qur’an menegaskan:
“Wahai Ahli Kitab, mengapa kalian berdebat tentang (agama) Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidaklah diturunkan melainkan setelahnya? Tidakkah kalian berakal?” (QS. Ali ‘Imran: 65)
Sikap ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak mengambil sumber dari mereka, justru meluruskan kesalahan dengan argumentasi rasional dan historis. Kitab ini bahkan menegur mereka karena mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan serta menyembunyikan wahyu yang mereka ketahui kebenarannya:
“Wahai Ahli Kitab, mengapa kalian mencampuradukkan yang benar dengan yang batil dan menyembunyikan kebenaran padahal kalian mengetahuinya?” (QS. Ali ‘Imran: 71)
Maka jelas bahwa posisi Nabi Muhammad bukanlah murid yang menyalin ajaran terdahulu, melainkan guru yang diutus untuk mengoreksi dan memurnikan kebenaran wahyu. Sehingga secara logis, tidak mungkin Al-Qur’an yang membantah dan memperbaiki ajaran-ajaran manusia dianggap berasal dari mereka sendiri.
Di sisi lain, kaum Quraisy yang kehabisan argumen untuk menolak kerasulan Nabi Muhammad SAW, menuduh bahwa beliau belajar dari seorang budak Romawi. Ia merupakan tukang besi yang tinggal di Mekah dan beragama Nasrani. Tuduhan itu dijawab oleh Al-Qur’an:
“Bahasa orang yang mereka tuduh itu adalah asing, sedangkan Al-Qur’an ini berbahasa Arab yang jelas.” (QS. An-Nahl: 103)
Ayat ini menampik tuduhan mereka secara rasional. Mustahil seorang budak asing yang tidak fasih berbahasa Arab menjadi sumber kitab dengan keindahan dan keagungan bahasa dalam sejarah Arab. Seperti yang diungkapkan Dr. Darraz, tuduhan itu sama tidak masuk akalnya dengan mengatakan bahwa manusia belajar berbicara dari burung beo.
Kelemahan Logika Para Penentang
Seandainya tuduhan bahwa Nabi Muhammad diajari manusia benar adanya, tentu orang-orang sezamannya mudah membuktikannya. Mereka mengenalnya sejak kecil, mengikuti setiap langkah hidupnya, dan berusaha keras menjatuhkan dakwahnya. Namun, tidak satu pun dari mereka mampu menunjukkan siapa, kapan, dan di mana beliau belajar. Bahkan, mereka sendiri menjulukinya Al-Amīn—orang yang paling dapat dipercaya. Maka tuduhan bahwa beliau memalsukan wahyu hanyalah cerminan keputusasaan, bukan argumentasi.
Dr. Muhammad Abdullah Darraz menyimpulkan dengan kalimat tajam: “Diamnya sejarah adalah bukti yang paling fasih.” Artinya, jika benar ada guru yang mengajarkan Al-Qur’an kepada Nabi, sejarah pasti mencatatnya. Namun kita tahu, sejarah justru diam. Maka keheningan itu sendiri menjadi saksi bahwa sumber ilmu beliau bukan manusia, melainkan wahyu dari Tuhan semesta alam.
Setiap upaya menjelaskan Al-Qur’an dengan sebab duniawi akan berujung pada jalan buntu. Kitab ini bukan karya jenius manusia atau salinan dari kitab sebelumnya, melainkan wahyu ilahi yang menuntun manusia dari jalan gelap menuju cahaya.
“Dan tidaklah dia berbicara menurut hawa nafsunya. Ucapannya tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.” (QS. An-Najm: 3–4)
Maka kesimpulan akhirnya jelas di sini: tidak ada guru bagi Nabi Muhammad SAW selain Allah SWT sendiri.