
Penulis: Ahmad Fawwaz Haqqi (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Kairouan)
PPI Tunisia – Tepat satu hari setelah perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, BPC kairouan mengadakan rihlah wisata yang diikuti oleh 26 peserta pada Senin, 18 Agustus 2025. Dengan destinasi menuju kota Bizerte, sebuah kota yang secara resmi menjadi lokasi titik paling utara di benua Afrika. Di sana terdapat berbagai keindahan semesta. Dari daratan hingga lautan, keduanya siap memanjakan setiap pasang mata yang memandanginya.
Kota Kairouan menjadi titik awal perjalanan. Ketika berbagai persiapan dirasa telah rampung, pukul 05:00 CET, beberapa mahasiswa Indonesia yang terdiri dari panitia dan peserta rihlah mulai masuk ke dalam bus. Udara sejuk khas waktu subuh merasuk dari ventilasi bus yang sengaja dibuka, radio speaker dinyalakan, lantunan merdu ayat suci Al-Qur’an berhasil menciptakan nuansa paling syahdu di sepanjang perjalanan. Sampai-sampai Tidak sedikit yang tertidur karenanya.
Setelah menjemput beberapa peserta rihlah yang sedang berada di ibukota Tunisia, Tunis, perjalanan kembali berlanjut. Hingga sekitar pukul 10:00 CET, rombongan rihlah BPC kairouan sampai di tempat penginapan Dar Chabab dekat Mozza Beach, Bizerte. Para peserta turun dari bus, bergotong royong membawa berbagai macam kelengkapan acara, seperti peralatan, konsumsi, dan kebutuhan lainnya.
Berbagai perlengkapan telah rampung diturunkan dari bus. Sambil menunggu proses check-in, beberapa peserta menghabiskan waktunya menjelajah hutan dan pantai yang terdapat di sekeliling Dar Chabab, beberapa lainnya memilih untuk berbincang hangat di bawah rimbunnya pepohonan. Meski cuaca terbilang terik, akan tetapi udara di tempat penginapan terasa sejuk. Semilir angin sepoi-sepoi, ditambah suara burung yang saling bersahutan satu dengan yang lainnya, membuat suasana menjadi serasi dan harmonis.
Beberapa jam kemudian, para peserta dipersilahkan untuk masuk dan beristirahat di kamar penginapan. Setiap kamar dilengkapi oleh pendingin ruangan, satu kamar mandi, dan empat ranjang tidur. Cukup nyaman untuk sekadar dijadikan tempat menginap. Tidak lama setelah itu, para panitia dengan cekatan menyediakan makan siang untuk seluruh peserta rihlah.
“Nasinya oke, ayamnya biasa aja karena cuma digoreng. Tapi yang paling mantap menurut ana sih kentang baladonya, cuy — asin dan gurihnya pas, cuma kurang banyak aja. Salut juga buat panitia bagian konsumsi; meskipun cuma beberapa orang, mereka bisa nyediain makanan buat semua peserta. Salut!” ujar Reval Vanggalih Gumilang, salah satu peserta rihlah BPC Kairouan.
Sore hari menjelang matahari terbenam, para peserta kembali menaiki bus untuk pergi menuju Vieux port, atau dermaga lama kota Bizerte. Dermaga itu dibangun oleh bangsa Fenisia berabad-abad yang lalu, dan sempat dijadikan pangkalan militer angkatan laut Prancis pada tahun 1881. Kini, dermaga itu digunakan oleh para nelayan untuk memarkir kapal, serta dijadikan sebagai tempat wisata kuliner.
Para peserta diizinkan untuk berjalan mengitari dermaga. Genangan air kehijauan yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan klasik, memberikan panorama yang sekilas mirip dengan sungai Arno, Florence, Italia. Tak lama kemudian, langit senja semakin menghitam. Tergantikan oleh gelap malam yang siap menyelimuti. Aroma lezat dari berbagai masakan kuliner pun semakin terhirup.
Sepulang mengunjungi dermaga, para peserta dihimbau oleh panitia bagian acara untuk bersiap-siap, membantu mensukseskan agenda puncak pada acara rihlah kali ini, yaitu Malam Keakraban (Makrab). Agenda puncak ini akan diselenggarakan di Mozza beach, yakni pantai yang terpaut sekitar lima menit perjalanan kaki dari tempat penginapan.
Jam yang telah ditentukan tiba, para panitia dan peserta mulai beranjak dari kamar penginapan untuk pergi berpartisipasi. Sebagian peserta ada yang mencari kayu bakar di hutan, sebagian lagi menunggu di pantai, sambil berusaha mulai menghidupkan api unggun. Sedangkan panitia konsumsi, mereka sudah sibuk untuk menyiapkan makanan, bahkan sebelum semua orang bergegas dari penginapan. Angin pantai berhembus kencang di sepanjang hamparan pasir malam hari itu.
Kayu bakar lambat laun terkumpul, api pun perlahan membesar, menyala. Beberapa orang mulai ramai mengerumuni api unggun, mereka sangat antusias untuk mengikuti agenda Makrabkali ini. Malam yang tadinya terasa dingin, seketika berubah menjadi malam yang penuh kehangatan. Beberapa saat kemudian, tatkala seluruh peserta rihlah dirasa telah lengkap, dan dengan teratur telah duduk melingkari api unggun, acara pun dimulai.
Alif Bintang Pratama, yang merupakan panitia bagian acara, sekaligus moderator pada malam hari itu, menjelaskan kembali rundown agenda yang akan dilaksanakan. Dimulai dari sambutan para petinggi organisasi, kemudian dilanjutkan dengan sesi curhat bersama, yang akan diutarakan oleh seluruh peserta satu per-satu.
Acara tersebut berlangsung penuh khidmat dan rasa erat akan ikatan persaudaraan. Satu persatu berbicara dari hati ke hati, jiwa ke jiwa. Diawali dengan sambutan ketua panitia rihlah BPC Kairouan 2025, Sheva Maulaya Zuhdi.
“… Sekali lagi, saya ucapkan terimakasih sebesar-besarnya, terkhusus kepada saudara kita, Aditya Nur Maulana yang rela mengikuti acara rihlah kali ini padahal beliau sudah sekitar lima kali pergi ke Bizerte. Sehingga darinya kita dapat belajar, bahwa perjalanan bukan sekadar tentang tempat dan tujuan, melainkan dengan siapa kita bersama di tempat dan tujuan tersebut,” ujarnya.
Dalam sambutannya, ketua terpilih BPC Kairouan masa bhakti 2025-2026, Arjunnaja Naufal Adiwara juga ikut serta menyumbangkan seuntai dua untai kalimat penggugah jiwa.
“… Karena seperti kata pepatah; ‘Kejahatan yang terorganisir, akan lebih berbahaya dari kebaikan yang tidak terorganisir’. Maka mudah-mudahan, dari acara rihlah kali ini (yang sudah sangat terorganisir dengan baik), dapat melahirkan berbagai hal positif, berupa kebaikan-kebaikan untuk masa depan BPC Kairouan kedepannya,” ungkapnya dengan penuh semangat.
Begitulah agenda tersebut berlalu. Sinergi hangat dari rasa kekeluargaan, bersatu padu dengan malam syahdu beratapkan langit dan bintang-bintang. Adapun bulan, ia baru muncul dan terlihat di ufuk timur ketika acara berada di penghujungnya, acara makan bersama.
“Ikannya enak, crunchy, mantap,” ucap salah satu peserta saat sedang lahap menyantap hidangan bersama.
Keesokan harinya. Perjalanan berlanjut menuju destinasi selanjutnya, titik nol benua Afrika. Wilayah tersebut merupakan bioma tanjung laut yang dikelilingi oleh bukit-bukit pasir dan tebing bebatuan. Penduduk sekitar menamainya dengan sebutan ‘Cap Angela’. Titik ujung tanjung ini, dinamakan ‘Ras Ben Sakka’ dan secara resmi ditetapkan sebagai titik paling utara benua Afrika pada tahun 2014.
Panorama indah laut Mediterania yang bergradasi antara biru dan tosca, serta cakrawala langit yang membentang luas tanpa batasan, seakan menjadi wujud metafora dari permata chrysocolla yang berkilau, memukau retina siapapun yang menangkap cahayanya. Dan jika ada sesuatu yang lebih berkilau dari pemandangan tersebut, maka itu adalah raut wajah para peserta rihlah saat itu.
Mereka segera asyik mengabadikan momen-momen indah dengan berbagai cara; foto bersama, menjelajah bersama, hingga duduk-duduk bersama sambil menikmati derauan suara ombak dan playlist musik galau.
“Rihlah BPC Kairouan 2025! Merdeka! Merdeka! Merdeka!” seru seluruh partisipan rihlah dengan kompak saat sesi foto bersama.
Perjalanan ditutup dengan mengunjungi dermaga Port Veux sekali lagi, lantas kembali pulang menuju Tunis dan Kairouan pada malam harinya. Sekitar pukul 00:05 CET, bus kembali ke Kairouan. Semua peserta selamat sampai ke tempat pulang. Rihlah berakhir, dengan ceritanya yang mudah-mudahan abadi dalam tulisan singkat ini.