PPI TUNISIA

Komunitas TANWIR Gelar Debat Dialog Epistemologis: antara Iluminasi Al-Ghozali dan Rasionalisme Ibn Rusyd

Penulis: Muhammad Fither Ahladzikri (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)

PPI Tunisia – TANWIR, komunitas pengkaji literatur pemikiran dan peradaban menggelar kegiatan Debat Akademik dengan mengusung tema “Dialog Epistemologis: antara Iluminasi Al-Ghozali dan Rasionalisme Ibn Rusyd” bersama para mahasiswa Indonesia di Tunisia, pada Senin (25/11/2025).

Kegiatan yang bertempat di Sekretariat PPI Tunisia ini, berlangsung sangat meriah dengan antusias para mahasiswa Indonesia yang tersebar di seluruh kampus yang ada di seantero Tunisia yang ingin mengetahui pemikiran filsuf Islam, Al-Ghozali dan Ibn Rusyd.

Selain para mahasiswa Indonesia yang kebanyakan berkuliah di Universitas Az-Zaitunah, El Manar, Manouba, dan 9 Avril, kegiatan ini turut dihadiri oleh Ketua PPI Tunisia beserta para jajaran Kabinet Sahakarya PPI Tunisia. Hal ini, menunjukan antusias para mahasiswa Indonesia di Tunisia dalam mempelajari sejarah dan pemikiran filsafat Islam.

Kegiatan ini, bertujuan untuk membuka kembali wawasan filsafat Islam, terutama menyelami perdebatan fenomenal antara Al-Ghozali dan Ibnu Rusyd, salah satunya yaitu mengenai hukum kausalitas.

Aktivis komunitas TANWIR, Fadhilah Irsyad Lc. (mahasiswa Magister Universitas Az-Zaitunah) memaparkan pendapat Al-Ghazali yang termuat dalam karya Maqashid Al-Falasifah. Dalam karya tersebut, Al-Ghazali tidak sedang mengkritik para filsuf, melainkan memaparkan secara netral dan jelas bagaimana filsuf memandang ketuhanan.

Fadhil juga menjelaskan tentang konsep epistemologi iluminasi Al-Ghozali: sintesis rasionalitas dan spiritualitas, “Pendekatan tersebut memposisikan tasawuf sebagai komponen penting dalam epistemologi Islam, di mana pengetahuan tidak hanya diperoleh dari observasi dan analisis rasional, tetapi juga dari pengalaman spiritual yang dianggap sebagai wahyu atau ilham langsung dari tuhan. Dengan cara ini, epistemologi Al-Ghazali membangun hubungan yang erat antara akal dan wahyu sehingga menciptakan sebuah paradigma yang menekankan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan spiritualitas dalam Islam,” ujar mahasiswa Jurusan Peradaban Islam tersebut.

Di sisi lain, Robith Marzuban (Mahasiswa Jurusan Filsafat, Universitas 9 Avril, Tunis) menerangkan bahwa Al-Ghazali dalam konteks ini gagal memahami filsafat. Menurutnya, filsafat pada dasarnya adalah jalan menuju kebenaran. Dalam kerangka rasionalisme klasik, seperti yang dianut oleh Ibnu Rusyd, kebijaksanaan (hikmah) adalah hasil dari penyelidikan rasional terhadap realitas berbasis logika, observasi dan deduksi. Ini sejalan dengan tradisi Aristotelian yang menempatkan akal sebagai instrumen utama pencapaian kebenaran.

Ia menyebutkan, bahwa Al-Ghazali menganggap ada pengetahuan yang tidak dapat diraih hanya dengan akal, yaitu pengetahuan mukasyafah (penyingkapan batin) yang muncul melalui penyucian jiwa dan pengalaman mistik. Namun, di sinilah terdapat kritik: apakah yang bersifat batiniah itu bisa dijadikan standar umum bagi kebijaksanaan? Sebab, jika nilai spiritual itu berasal dari pengalaman personal yang subjektif dan tidak bisa diuji ulang secara rasional, maka ia justru membuka celah terhadap dogma, kekeliruan dan manipulasi. Maka dari itu, banyak pemikir rasional, termasuk Ibn Rusyd, melihat bahwa spritualisme seperti ini tidak cukup untuk dijadikan pijakan universal dalam membangun pengetahuan.

“Pemikiran Al-Ghazali, meskipun di satu sisi sangat penting dalam memberikan kritik terhadap spekulasi metafisis para filsuf, tetapi di sisi lain malah menunjukan kecenderungan skeptisisme epistemologis yang berbahaya jika diterapkan secara absolut. Pada gilirannya, pandangan ini akan membungkam inovasi pemikiran. Sebaliknya, Ibnu Rusyd menawarkan metodologi yang lebih terbuka, dengan semangat zaman modern yang menuntut rasionalitas dan plularisme interpretasi. Oleh karena itu, dalam konteks kontemporer, pemikiran Ibnu Rusyd lebih relevan sebagai dasar teologis bagi dialog antar peradaban, reformasi pendidikan Islam, dan Pembangunan masyarakat ilmiah,” pungkas penulis buku Menyusuri Nalar Kosmis tersebut.

Di tengah dinginnya suhu kota Tunis, Tunisia. Pada kegiatan debat ilmiah ini, berlangsung secara khidmat. Sehingga, terasa kehangatan ketika menikmati minuman teh susu panas yang disediakan oleh panitia, dibarengi dengan lontaran argumen ilmiah dari kedua kubu debat.

Di akhir, Hilmy Dzulfiqar Lc.,M.A. mengungkapkan, meskipun para peserta dalam forum debat ini kerap kali adu argumen dan berbeda perspektif. Namun, hal itu tidak menjadi refleksi bahwa hubungan dan relasi sosial antara para peserta di luar forum juga akan saling bertentangan.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *