PPI TUNISIA

“Menulis dari Hati untuk Hati”: Ahmad Fuadi Inspirasi Mahasiswa Indonesia di Tunisia Lewat Webinar Kepenulisan

Penulis: Aqilah Firyal Haya (Mahasiswi S1, Universitas az-Zaitunah, Tunis)

PPI Tunisia – Pada hari Rabu, 15 Oktober 2025, telah diselenggarakan kegiatan Webinar Pelatihan Kepenulisan bertema “Menginspirasi Lewat Kata, Mewujudkan Lewat Goresan Pena dan Tinta” oleh Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Tunisia bekerja sama dengan Komunitas Gusdurian Tunisia. Acara ini dibuka untuk umum dan berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting mulai pukul 19.00 hingga 21.15 WIB atau 13.00 hingga 15.15 CET dan menghadirkan penulis terkenal Ahmad Fuadi, pengarang trilogi Negeri 5 Menara, Ranah 3 Warna, dan Rantau 1 Muara, sebagai narasumber utama.

Webinar dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Hymne PPI Tunisia, serta sambutan dari Ketua Komunitas Gusdurian, M. Hadi Salim, dan Ketua PPI Tunisia, Syarifuddin, Lc. Setelah sesi dokumentasi, kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Ahmad Fuadi yang berlangsung selama kurang lebih 45 menit, kemudian diikuti sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung interaktif hingga akhir acara.

Dalam pemaparannya, Ahmad Fuadi mengangkat tema “Menulis, dari hati untuk hati”. Ia membagikan pandangannya tentang proses menulis, disertai refleksi pribadi dan motivasi yang menginspirasi peserta untuk mulai menulis dari hal-hal paling sederhana. Ia menggambarkan menulis sebagai karpet terbang, yakni sesuatu yang memiliki daya magis dan keajaiban, karena melalui tulisan, seorang penulis bisa menembus batas ruang dan waktu serta menyapa pembaca di berbagai tempat, bahkan setelah dirinya tiada. Selain itu, tulisan juga memberinya kesempatan untuk “terbang” ke berbagai belahan dunia dan menceritakan karya-karyanya.

Ia mengutip pesan gurunya ketika sedang menimba ilmu di Pondok Pesantren Gontor: “Menulislah, karena dengan menulis kamu akan panjang umur (dikenang selamanya).” Baginya, tulisan adalah warisan abadi yang membuat seseorang hidup dalam ingatan banyak orang. Ia kemudian menambahkan kalimat yang menjadi ruh tema materinya, “Sesuatu yang dimulai dari hati, akan sampai ke hati juga”. Dengan kata lain, karya yang lahir dari kejujuran, kemurnian, dan ketulusan, akan memiliki daya sentuh emosional yang tidak mudah hilang dan sampai ke dalam relung hati para pembaca.

Fuadi menegaskan bahwa ide dalam menulis tidak harus lahir dari hal-hal besar atau jauh. Justru ide terbaik sering kali berangkat dari pengalaman pribadi, dari hal-hal sederhana yang akrab dengan keseharian kita. “Yang penting adalah otentik, orisinal, dan berkualitas,” tegasnya. Keotentikan menjadi ruh utama dalam karya tulis. Dengan mengenali alur dan konteks kehidupan yang dekat dengan dirinya, seorang penulis akan lebih mudah melahirkan cerita yang hidup dan bermakna, serta membuat alur cerita mengalir dengan alami.

Menurutnya, menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan imajinasi atau perasaan, namun juga dibutuhkan keseimbangan antara rasa, data, dan logika. Ia menuturkan, “Agar tulisan memiliki kemampuan untuk mengisi dan menggerakkan hati para pembaca, maka tulisan itu harus diisi dengan rasa, data, dan logika.” Rasa menghadirkan sentuhan emosional yang menyentuh hati pembaca, data memberikan kekuatan faktual yang memperkuat isi tulisan, dan logika memastikan alur cerita tetap rasional, runtut, serta mudah diikuti.

Lebih lanjut, Fuadi menjelaskan bahwa menulis fiksi sekalipun tidak bisa dilepaskan dari unsur riset dan keakuratan. Ia mencontohkan bagaimana dalam menulis novel, seorang penulis perlu melakukan observasi, membaca referensi, dan memahami latar sosial budaya yang menjadi bingkai cerita. Tulisan yang baik bukan hanya hasil dari luapan perasaan, tetapi juga buah dari ketelitian berpikir dan keluasan wawasan penulis itu sendiri.

Dalam proses kreatif menulis, Fuadi menjelaskan pentingnya memperhatikan 5W+1H (What, Why, Who, When, Where, How) agar ide dan alur cerita tetap jelas serta mudah dipahami pembaca. Ia juga memberikan tips jika menghadapi kebuntuan ide, di antaranya dengan membaca ulang tulisan, melakukan riset tambahan, dan menulis di waktu terbaik (golden time) masing-masing penulis.

Dalam sesi tanya jawab, salah satu peserta menanyakan bagaimana cara agar tidak mudah terdistraksi oleh ide baru saat sedang menulis cerita yang sedang digarap. Menanggapi pertanyaan tersebut, Fuadi menyarankan untuk membuat main mapping atau peta ide sederhana. Ia menceritakan pengalamannya sendiri dalam menulis, di mana ia sering kali menempelkan peta ide di dinding ruang kerjanya. “Saya biasa buat main mapping dari cerita yang sedang saya kerjakan, sederhana saja tapi bercabang banyak. Itu membantu saya tetap fokus pada ide utama dan memberikan referensi visual yang jelas,” tuturnya. Dengan begitu, ketika muncul ide baru yang tidak sejalan dengan cerita utama, ide tersebut tidak perlu dihapus, melainkan bisa kita masukan ke dalam main mapping untuk dikombinasikan dengan cerita yang sedang kita tulis atau dibuat main mapping lain dan disimpan untuk proyek tulisan berikutnya. Menurutnya, cara ini efektif menjaga penulis agar tidak keluar jalur dan tetap fokus, tanpa harus kehilangan peluang dari ide-ide segar yang datang di tengah proses menulis.

Menurut Fuadi, menulis merupakan pekerjaan pribadi yang dapat memberikan dampak besar bagi orang lain. “Menulis memiliki keajaiban: ia pekerjaan sunyi, tapi bisa memotivasi dan menginspirasi banyak orang,” ujarnya. Menulis bukan hanya sarana berekspresi, tetapi juga bekal hidup yang membantu seseorang berpikir kritis, menenangkan hati, dan memperkaya pemahaman tentang kehidupan.

Menutup pemaparannya, Fuadi menyampaikan pesan penuh makna kepada seluruh peserta: “Kita punya kemewahan untuk bisa menulis, karena modalnya sudah ada. Bagi perantau seperti kita, berbagai pengalaman suka dan duka di rantauan adalah sumber cerita yang luar biasa. Olahlah itu menjadi kisah yang menginspirasi. Menulislah dengan sepenuh hati agar bisa sampai ke hati para pembaca.”

Webinar yang diikuti oleh 65 peserta ini berlangsung lancar dan interaktif. Para peserta menunjukkan antusiasme tinggi sepanjang acara, aktif bertanya dan berbagi pandangan selama sesi diskusi. Banyak peserta mengaku termotivasi untuk mulai menulis kembali setelah mendengar pengalaman dan pandangan inspiratif dari narasumber. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan semangat literasi dan kreativitas di kalangan mahasiswa Indonesia khususnya di Tunisia, serta dapat menjadi sarana inspiratif yang mendorong peserta untuk terus mengembangkan kemampuan menulis dan memberikan kontribusi positif melalui karya tulis bagi masyarakat luas.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *