
Penulis: Siti Ruqoyyah (Mahasiswi S1 Jurusan Hadharah Islamiyah, Fakultas Hadharah Islamiyah, Universitas az-Zaitunah)
Istilah anxiety atau kecemasan semakin populer, terutama di kalangan remaja dan dewasa, seiring dengan maraknya penggunaan media sosial. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan perasaan tidak nyaman, kekhawatiran berlebihan, atau bahkan kepanikan yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari. Kecemasan tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga oleh anak-anak dan remaja yang semakin rentan terhadap tekanan psikologis di tengah tuntutan akademik, sosial, dan eksistensi digital. Lingkungan sosial yang kompetitif, ekspektasi tinggi dari keluarga, serta paparan konten digital yang tidak realistis turut memperburuk kondisi mental generasi muda.
Menurut data dari World Health Organization (WHO), satu dari tujuh remaja berusia 10–19 tahun mengalami gangguan mental seperti depresi, kecemasan, dan gangguan perilaku. Bahkan, bunuh diri menjadi penyebab kematian ketiga tertinggi pada kelompok usia 15–29 tahun (WHO, 2021). Fakta ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental perlu ditingkatkan, terutama di kalangan remaja yang masih berada dalam masa perkembangan emosional dan pencarian identitas diri.
Kesehatan mental adalah kondisi emosional, psikologis, dan sosial seseorang yang memengaruhi cara berpikir, merasakan, dan bertindak. Kesehatan mental yang baik ditandai dengan kemampuan untuk mengelola stres, bekerja secara produktif, menjalin hubungan yang sehat, serta memiliki rasa puas terhadap diri sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, stabilitas kesehatan mental memungkinkan seseorang untuk berfungsi secara optimal di lingkungan keluarga, sekolah, maupun pekerjaan.
Beberapa masalah umum dalam kesehatan mental mencakup stres yang disebabkan oleh tekanan tugas atau konflik sosial; kecemasan yang timbul karena rasa takut yang berlebihan; depresi yang ditandai dengan perasaan sedih mendalam dan kehilangan motivasi; kelelahan mental atau burnout akibat beban kerja atau studi yang berlebihan; serta trauma yang muncul akibat pengalaman menyakitkan yang belum terselesaikan.
Gejala-gejala gangguan mental yang sering muncul antara lain jantung berdebar, sakit kepala, kegelisahan, kelelahan, sulit tidur, dan kehilangan nafsu makan. Dampak dari gejala tersebut dapat dirasakan pada berbagai aspek kehidupan, seperti menurunnya konsentrasi dan fokus akibat pikiran yang terus-menerus dihantui skenario negatif; menurunnya kinerja belajar atau kerja karena tugas terasa berat meskipun masih dalam batas kemampuan; dan mudah mengalami kelelahan mental akibat tekanan emosional yang menumpuk.
Salah satu cara yang saat ini banyak dibicarakan untuk mengatasi gangguan mental ringan adalah healing. Dalam konteks ini, healing merujuk pada proses pemulihan mental dan emosional untuk mencapai keseimbangan batin. Proses ini penting agar seseorang mampu kembali menjalani rutinitas dengan energi yang segar dan pikiran yang lebih jernih.
Sayangnya, healing sering disalahartikan sebagai kegiatan liburan mewah yang membutuhkan biaya besar. Padahal, healing dapat dimulai dari aktivitas sederhana dan terjangkau. Beberapa contohnya antara lain beristirahat dan tidur yang cukup, berolahraga ringan untuk meningkatkan hormon endorfin, melakukan meditasi atau menulis jurnal sebagai sarana refleksi diri, mengurangi waktu di depan layar terutama dari media sosial, berbicara dengan orang yang dipercaya atau profesional seperti psikolog, dan menjalani hobi atau aktivitas kreatif yang menyenangkan.
WHO menegaskan bahwa kesehatan mental adalah bagian integral dari kesehatan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pemulihan kesehatan mental bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan setiap individu (WHO, 2022). Healing memiliki sejumlah manfaat, seperti mencegah kelelahan emosional akibat rutinitas yang padat, memperbaiki hubungan dengan diri sendiri dan orang lain, serta meningkatkan produktivitas dan kualitas hidup.
Studi dari American Psychological Association (APA, 2021) juga menunjukkan bahwa waktu istirahat yang cukup dan relaksasi berperan penting dalam mengurangi tingkat stres dan meningkatkan ketahanan mental. Dalam jangka panjang, kebiasaan healing yang sehat dapat memperkuat daya tahan terhadap tekanan hidup dan membantu individu lebih bijak dalam menghadapi tantangan.
Masih banyak mitos keliru tentang healing yang beredar di masyarakat. Misalnya, anggapan bahwa healing hanya dibutuhkan oleh orang yang sakit mental. Padahal, setiap orang, termasuk yang sehat secara mental, tetap memerlukan waktu untuk pulih dan menyegarkan diri.
Ada pula persepsi bahwa healing harus mahal. Faktanya, healing tidak harus berupa perjalanan jauh atau pengeluaran besar. Aktivitas sehari-hari yang sederhana bisa menjadi bentuk healing yang efektif dan bermakna.
Selain itu, ada pandangan bahwa healing adalah bentuk egoisme. Justru sebaliknya, merawat diri bukanlah tindakan egois. Seseorang yang mampu mencintai dan menjaga dirinya sendiri justru akan lebih siap untuk memberikan hal-hal positif kepada orang lain.
Mengubah pola pikir tentang healing menjadi lebih inklusif dan praktis akan membuka ruang bagi lebih banyak orang untuk peduli terhadap kondisi mentalnya. Dalam dunia yang semakin sibuk dan menuntut, healing dapat menjadi jeda yang menyelamatkan.
Kecemasan merupakan tantangan nyata dalam kehidupan modern, terutama bagi generasi muda yang hidup di tengah tekanan sosial dan digital. Memahami pentingnya kesehatan mental dan manfaat healing adalah langkah awal untuk menjaga kualitas hidup. Healing bukan sekadar tren, tetapi kebutuhan emosional yang harus direspons secara bijak.
Dengan pendekatan yang tepat, healing dapat menjadi sarana pemulihan yang menyentuh aspek emosional sekaligus memperkuat ketahanan mental dalam jangka panjang. Menyediakan ruang untuk healing dalam rutinitas harian bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Namun, perlu diingat bahwa healing sebaiknya dilakukan secara bijak dan terencana. Tidak setiap rasa lelah atau bosan harus direspons dengan healing yang bersifat pelarian. Pilihlah waktu yang tepat agar tidak mengganggu tanggung jawab utama seperti belajar, bekerja, atau menjalani komitmen penting lainnya. Efektivitas healing terletak pada ketepatan waktu dan kesesuaiannya dengan kondisi, bukan pada frekuensi semata.