
Penulis: Anisa Amanati (Mahasiswa S1 Universitas Kairouan, Kairouan)
PPI Tunisia – Hari Evakuasi menjadi penanda berakhirnya kolonialisme Prancis di Tunisia dan awal dari bab baru tentang kedaulatan sejati. Setiap tanggal 15 Oktober, suasana Tunisia terasa sedikit berbeda. Bendera merah dengan bulan sabit dan bintang putih itu berkibar lebih tinggi dari biasanya, diiringi lagu kebangsaan yang menggema di berbagai penjuru negeri.
Di ibu kota Tunis, orang-orang berkumpul di lapangan, di sekolah, di jalan-jalan yang berhias umbul-umbul merah putih. Hari itu, seluruh rakyat Tunisia memperingati Hari Evakuasi — sebuah hari yang bukan sekadar libur nasional, melainkan simbol kemenangan sejati atas kolonialisme, dan tanda bahwa kedaulatan bangsa ini telah benar-benar utuh.
Lebih dari enam dekade telah berlalu sejak hari bersejarah itu, tetapi maknanya tak pernah pudar. Hari Evakuasi atau Yaum al-Jalā’, adalah momentum ketika Tunisia menutup lembar terakhir penjajahan Prancis di tanahnya. Momen itu menegaskan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak berhenti pada deklarasi politik, melainkan baru lengkap ketika setiap jengkal tanah terbebas dari kuasa asing.
Untuk memahami arti besar hari itu, kita harus menengok kembali ke Juli 1961 — masa ketika Tunisia masih berjuang menuntaskan bab terakhir dari sejarah kelam kolonialisme. Meski telah memproklamasikan kemerdekaan pada 1956, Tunisia belum sepenuhnya bebas. Kota pelabuhan Bizerte, yang terletak di ujung utara negeri itu masih dikuasai oleh Prancis. Di sanalah berdiri sebuah pangkalan militer penting yang menjadi simpul pertahanan Prancis di Laut Tengah.
Presiden Habib Bourguiba, tokoh nasional yang dikenal visioner sekaligus tegas, menilai bahwa keberadaan pasukan asing di tanah merdeka merupakan bentuk penghinaan terhadap kedaulatan Tunisia. Dengan dukungan rakyat dan semangat nasionalisme yang menyala, pemerintah Tunisia mengambil langkah berani: memblokade pangkalan angkatan laut Prancis di Bizerte.
Langkah itu bukan sekadar aksi politik, melainkan pernyataan harga diri. Namun, keputusan itu juga membawa konsekuensi besar. Prancis, yang saat itu masih enggan melepaskan pengaruh kolonialnya, menanggapi tindakan Tunisia dengan kekuatan militer.
Sekitar 800 pasukan terjun payung dikerahkan untuk merebut kembali kendali atas Bizerte. Bentrok pun pecah. Dentuman meriam dan desingan peluru menggema di udara. Ratusan warga Tunisia: tentara, pelajar, dan penduduk sipil menjadi korban. Kota Bizerte berubah menjadi lautan api. Di tengah kekacauan, rakyat kecil berjuang sekuat tenaga mempertahankan hak atas tanah airnya. Mereka tidak memiliki persenjataan canggih, tetapi mereka memiliki tekad yang lebih kuat dari baja: tekad untuk merdeka sepenuhnya.
Pertempuran itu tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga menorehkan duka mendalam di hati rakyat Tunisia. Namun, di balik kepedihan itu tersimpan kebanggaan. Karena, dari darah dan air mata itulah, lahir kesadaran kolektif bahwa kemerdekaan sejati menuntut pengorbanan tanpa batas.
Selama dua tahun setelah peristiwa itu, Tunisia terus berjuang di medan diplomasi. Presiden Bourguiba memimpin negosiasi keras, menuntut Prancis untuk angkat kaki dari Bizerte. Tekanan internasional pun meningkat, dan dunia mulai memandang Tunisia sebagai simbol keteguhan sebuah bangsa muda yang berani menuntut haknya sendiri.
Akhirnya, pada 15 Oktober 1963, sejarah mencatat momen yang tak terlupakan. Kapal perang terakhir Prancis meninggalkan pelabuhan Bizerte. Di atas geladak kapal itu berdiri Laksamana Maurice Amman, komandan pasukan Prancis terakhir di Tunisia. Ia berlayar menjauh, membawa serta sisa-sisa simbol kekuasaan kolonial yang telah bertahan lebih dari tujuh dekade.
Hari itu, rakyat Tunisia turun ke jalan. Mereka bersorak, berpelukan, dan menitikkan air mata. Di antara gemuruh sorak-sorai itu, ada kebanggaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Yaum al-Jalā’ — Hari Evakuasi — menjadi hari ketika Tunisia benar-benar berdiri tegak sebagai bangsa merdeka.
Sejak saat itu, setiap peringatan Hari Evakuasi menjadi momen refleksi nasional. Di sekolah-sekolah, para guru menceritakan kisah tentang keberanian para pejuang Bizerte. Di lapangan kota, para veteran mengenang sahabat-sahabat mereka yang gugur demi kedaulatan. Di rumah-rumah, para orang tua menuturkan kembali kisah itu kepada anak-anak mereka, agar sejarah tak hilang ditelan waktu.
Kini, di tengah tantangan zaman yang terus berubah, makna Hari Evakuasi tetap relevan. Ia mengingatkan rakyat Tunisia bahwa kemerdekaan bukan hanya peristiwa masa lalu, tetapi juga tanggung jawab masa kini. Kedaulatan harus dijaga bukan dengan senjata, melainkan dengan pengetahuan, solidaritas, dan cinta terhadap tanah air.
Bagi generasi muda Tunisia, Hari Evakuasi bukan sekadar hari libur nasional. Ia adalah pengingat akan keteguhan nenek moyang mereka, yang tak gentar menghadapi kekuatan kolonial demi menegakkan kehormatan bangsa.
Dan setiap kali tanggal 15 Oktober tiba, bendera Tunisia kembali berkibar tinggi di langit biru Afrika Utara. Di bawahnya, rakyat berdiri dengan kepala tegak, mengenang masa lalu dengan rasa hormat, dan menatap masa depan dengan keyakinan bahwa kemerdekaan sejati harus terus dijaga dengan cinta, persatuan, dan semangat yang tak pernah padam.
Lebih dari sekadar peringatan sejarah, Hari Evakuasi kini menjadi cermin bagi Tunisia modern — negeri yang terus berbenah menghadapi tantangan global, namun tak pernah melupakan akar perjuangannya. Semangat Bizerte hidup dalam setiap langkah pembangunan, dalam setiap pemuda yang belajar, bekerja, dan bermimpi untuk bangsanya. Karena bagi Tunisia, kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab untuk terus menjaga arti sejati kebebasan.
Hari Evakuasi bukan sekadar catatan dalam buku sejarah. Ia adalah napas panjang perjuangan, gema dari masa lalu yang terus hidup di hati rakyat Tunisia — bahwa kedaulatan sejati tidak pernah diberikan, tetapi diperjuangkan, dirawat, dan dijaga selamanya.