
Penulis: Muhammad Hadi Salim (Mahasiswa S1 Universitas az-Zaitunah, Tunisia)
Tritradisi mungkin terdengar kurang familiar bagi sebagian besar mahasiswa PPI Tunisia. Padahal, konsep ini merupakan norma dasar (ground norm) sekaligus elan vital yang menjadi titik tolak (benchmark) bagi sebuah organisasi kemahasiswaan di tingkat internasional. Tritradisi adalah konsep yang menggabungkan secara sinergis tiga prinsip utama: diskusi, jurnalistik, dan aksi, yang berfungsi sebagai pedoman dalam berorganisasi di kancah global.
Sebagai mahasiswa yang berada di lingkungan intelektual Universitas Az-Zaitunah, penting bagi kita untuk memahami dan menginternalisasi tritradisi ini. Selain sebagai identitas intelektual, tritradisi juga menjadi wahana bagi mahasiswa dalam mengasah daya kritis, meningkatkan budaya literasi, serta mengimplementasikan gagasan melalui aksi nyata. Oleh karena itu, elaborasi lebih lanjut mengenai ketiga prinsip utama tritradisi ini menjadi krusial dalam membangun pemahaman kolektif sekaligus mempromosikannya sebagai karakter khas mahasiswa Zaituny.
Diskusi sebagai Pilar Intelektualitas
Diskusi merupakan pilar utama dari tritradisi, karena ia merupakan aktualisasi dari proses literasi, yakni membaca dan menulis. Mahasiswa yang aktif membaca dan menulis akan memiliki potensi lebih besar untuk terlibat dalam diskusi yang produktif. Lebih dari sekadar ajang bertukar pikiran, diskusi adalah dialog konstruktif yang membuka ruang bagi berbagai sudut pandang dan pemikiran kritis.
Diskusi yang sehat tidak hanya menonjolkan kelebihan masing-masing individu, tetapi juga menjadi media dialog yang menciptakan ruang heteroglossia, yaitu kebersamaan dalam keberagaman (unity in diversity). Hal ini sejalan dengan semangat PPI Tunisia yang beranggotakan mahasiswa dari berbagai latar belakang dan disiplin ilmu. Diskusi yang interaktif dan konstruktif dapat memperkaya wawasan serta meningkatkan pemahaman terhadap isu-isu aktual.
Selain itu, diskusi juga berperan sebagai laboratorium intelektual, tempat mahasiswa melatih argumentasi, mengasah pola pikir kritis, serta membangun jejaring akademik. Dalam konteks organisasi, diskusi menjadi instrumen penting dalam pengambilan keputusan yang berbasis data dan analisis yang mendalam. Dengan demikian, budaya diskusi perlu terus digalakkan agar mahasiswa PPI Tunisia dapat memainkan perannya sebagai agent of change yang membawa perubahan positif bagi masyarakat.
Jurnalistik sebagai Pilar Literasi
Jurnalistik merupakan pilar kedua dari tritradisi yang memiliki peran fundamental dalam membangun budaya literasi. Dalam konteks ini, jurnalistik tidak hanya merujuk pada praktik pemberitaan, tetapi lebih luas lagi mencakup kemampuan menulis sebagai bagian dari proses literasi.
Kemampuan menulis tidak dapat dipisahkan dari membaca. Keduanya merupakan satu kesatuan dalam proses literasi yang memungkinkan seseorang untuk mengolah informasi, menuangkan gagasan, serta menyebarluaskan ide kepada khalayak yang lebih luas. Sebagaimana dikatakan oleh Goenawan Mohamad, “Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Dengan menulis, gagasan kita tidak hanya bertahan dalam jangka waktu yang lama, tetapi juga dapat menginspirasi serta mempengaruhi pemikiran orang lain.
Menulis juga merupakan seni merangkai kata untuk membentuk makna. Seorang penulis yang baik harus mampu menata ide dalam pikirannya, kemudian menyusun dan mengemasnya dalam bentuk tulisan yang sistematis dan mudah dipahami. Oleh karena itu, keterampilan jurnalistik tidak hanya sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga menjadi sarana untuk mengasah kemampuan berpikir logis dan kritis.
Dalam konteks PPI Tunisia, budaya jurnalistik perlu diperkuat agar organisasi ini dapat berperan sebagai pusat informasi yang kredibel dan profesional. Publikasi tulisan dalam bentuk artikel, opini, maupun laporan kegiatan dapat menjadi bagian dari strategi komunikasi organisasi. Dengan demikian, PPI Tunisia tidak hanya dikenal sebagai wadah diskusi akademik, tetapi juga sebagai komunitas yang aktif dalam menyebarluaskan wawasan dan informasi yang bernas serta berimbang.
Lebih jauh, kemampuan jurnalistik juga berperan dalam membangun citra organisasi di tingkat global. Di era transformasi digital saat ini, media menjadi instrumen utama dalam membentuk persepsi publik. Dengan memanfaatkan platform digital seperti website, media sosial, dan jurnal ilmiah, PPI Tunisia dapat meneguhkan eksistensinya sebagai organisasi mahasiswa yang profesional, berdaya saing, serta memiliki dampak yang luas.
Aksi sebagai Aktualisasi Nilai
Aksi merupakan pilar ketiga dari tritradisi yang berfungsi sebagai bentuk implementasi dari nilai-nilai yang telah dipelajari melalui diskusi dan jurnalistik. Aksi dalam konteks ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi lebih jauh merupakan pengabdian yang berbasis kemaslahatan.
Dalam khazanah keilmuan Islam, aksi dapat dikaitkan dengan konsep Tridharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa, sebagai insan akademis, memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya menyerap ilmu, tetapi juga mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata. Aksi nyata dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk, seperti kegiatan sosial, advokasi kebijakan, inisiatif pendidikan, serta gerakan budaya dan keagamaan.
Dalam Islam, terdapat kaidah fikih yang berbunyi:
Tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuthun bi al-maslahah.
“Kebijakan pemimpin atas rakyatnya dilakukan berdasarkan pertimbangan kemaslahatan.
Prinsip ini relevan dalam konteks organisasi kemahasiswaan, di mana setiap kebijakan dan tindakan harus didasarkan pada kemaslahatan bersama. Mahasiswa harus mampu menjadi agen perubahan yang tidak hanya berpikir kritis, tetapi juga bertindak nyata dalam memberikan solusi terhadap permasalahan sosial di sekitarnya.
Dalam konteks PPI Tunisia, aksi dapat berbentuk program-program edukatif, kampanye literasi, serta kegiatan sosial yang berkontribusi bagi masyarakat, baik di Tunisia maupun Indonesia. Dengan mengimplementasikan semangat aksi yang berbasis nilai-nilai substantif, PPI Tunisia dapat memperkuat perannya sebagai organisasi mahasiswa yang tidak hanya berorientasi pada diskusi dan literasi, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat.
Meneguhkan Tritradisi sebagai Identitas Zaituny
Tritradisi bukan sekadar slogan, tetapi merupakan karakter yang harus melekat dalam diri setiap mahasiswa Indonesia di Tunisia. Dengan menginternalisasi prinsip diskusi, jurnalistik, dan aksi, mahasiswa dapat mengembangkan kapasitas intelektual, meningkatkan kesadaran literasi, serta mengimplementasikan gagasan dalam bentuk aksi yang bermanfaat.
Di era transformasi informasi dan revolusi industri saat ini, tritradisi menjadi semakin relevan sebagai landasan dalam menghadapi tantangan global. Mahasiswa yang aktif berdiskusi, menulis, dan beraksi akan lebih siap dalam menghadapi dinamika zaman serta mampu memberikan kontribusi yang signifikan bagi masyarakat. Dengan terus mempromosikan semangat tritradisi sebagai elan vital organisasi, PPI Tunisia diharapkan dapat menjadi garda terdepan dalam membangun ekosistem akademik yang sehat, profesional, dan berdaya saing di tingkat global. Sem