PPI TUNISIA

Pemuda dan Tanggung Jawab Peradaban: Dari Wacana ke Aksi Nyata

Penulis: Tiara Shafira Ramadina Fitri (Mahasiswi S1 Universitas Az-Zaitunah, Kairouan)

PPI Tunisia – Ketika kehidupan sosial manusia berkembang melalui kerja sama, kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan kemakmuran, maka itu adalah hasil dari apa yang kita kenal dengan peradaban. Ya, begitulah sekilas pandangan Ibn Khaldun, seorang sejarawan, sosiolog, dan pemikir Muslim yang memandang bahwa kunci utama dari terbentuknya peradaban adalah ‘ashabiyyah (solidaritas sosial).

Solidaritas sosial ialah ikatan yang melahirkan tanggung jawab, karena sejatinya tanggung jawab adalah etika yang bukan hanya dinilai dari niat tetapi dari dampak nyata berupa tindakan terhadap masyarakat. Tindakan nyata seyogyanya lahir dari kesadaran dan bukan hanya terkhusus untuk suatu kelompok, melainkan berlaku bagi seluruh makhluk berakal ciptaan Tuhan.

Ketika rasa tanggung jawab membaur menjadi satu pada setiap diri individu, maka rasa sepenanggungan dan rasa kepemilikian atas suatu kebersamaan akan tumbuh dengan sendirinya, baik itu dengan tujuan yang sama atau tidak. Walau dengan adanya sama atau tidaknya tujuan, selama itu masih berdampak dan postif bagi masyarakat, maka tetap akan menghasilkan ikatan solidaritas yang kuat.

Tangga awal yang baik ialah suatu isyarat agar segera menapaki langkah selanjutnya. Ketika solidaritas sosial yang merupakan dasar rasa sudah dipupuk dengan sebaik-baiknya, maka kehidupan sosial manusia akan berkembang, kemudian akan diikuti dengan masa depan yang cukup setidaknya untuk memenuhi kebutuhan dasar, menciptakan stabilitas, dan memberikan ruang bagi pertumbuhan ilmu pengetahuan, moral, dan budaya.

Kekuasaan, ilmu pengetahuan, dan kemakmuran merupakan hal-hal yang tidak hanya segelintir orang menginginkannya, semua menginginkannya, bahkan tak dipungkiri kelompok pemuda pun juga. Terlebih lagi pada hakikatnya mereka adalah harapan bangsa, pengubah suatu keadaan, pemantik peristiwa, dan penggerak suatu sistem. Dari sekian banyak golongan, mereka lah orang-orang yang seharusnya memiliki semangat membara dalam mengajak dan menyuarakan suatu visi.

Korelasi yang jelas pun dapat kita lihat dari sini, yaitu solidaritas sosial yang melahirkan tanggung jawab sehingga dapat memajukan suatu peradaban dengan kelompok pemuda yang kita kenal dengan “jiwa muda yang bersemangat sebagai pengubah keadaan dan penggerak suatu sistem”, seharusnya.

Pada hakikatnya, kehidupan mendatang dari peradaban itu dapat dilihat dari kaum pemudanya. Dan itu adalah beban yang yang harus dijalani. Meskipun sebaliknya, maka tetap akan terkena dampaknya. Oleh sebab itu, tanggung jawab dari ikatan solidaritas sosial akan mematangkan dan menenangkan serta mempersiapkan kaum pemuda atas beban yang harus mereka pikul. Ya, begitu sekilas inti dari perkataan seorang Mahatma Gandhi.

Dr. (H.C.) Ir. Sukarno, seorang ayah dari Megawati Soekarnoputri pernah berkata, “Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”. Perkataan melegenda dan masih sering kita dengar hingga saat ini, namun terkadang masih terasa asing di telinga orang-orang awam. Lontaran kalimat tersebut menjadi salah satu bukti sekaligus isyarat sejak sedari dulu kala, bahwasanya pemuda-pemudi adalah komponen penting bagi suatu peradaban yang ingin maju.

Amara Nwuneli, Seorang remaja berusia 17 tahun yang berasal dari kota Lagos, Nigeria, memenangkan Earth Prize 2025 atas inisiatifnya mengubah tempat pembuangan sampah menjadi taman bermain dan ruang hijau yang aman. Ini adalah contoh tindakan nyata pemuda yang berdampak langsung terhadap kualitas hidup komunitas, memperlihatkan keterkaitan empati, solidaritas sosial, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Jika dirasa terlalu jauh dalam pengambilan contoh tersebut, maka Karang Taruna — Gerakan Sosial Di Tingkat Desa, di Desa Sindanglaya, Karang Taruna Nagasari menunjukkan bagaimana organisasi pemuda di tingkat lokal mewujudkan tanggung jawab sosial generasi muda sebagai gerakan warga negara (civic movement). Mereka terlibat dalam pemberdayaan masyarakat, pelatihan keterampilan, dan berbagai kegiatan produktif yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat.

Peradaban bukan hanya sekedar wadah untuk menaungi kehidupan biotik pun abiotik, melainkan sebagai rumah atau hunian bagi makhluk berakal ciptaan Tuhan di mana jika di singgung kata “rumah” maka setiap individu akan terlintas akan kenyamanan dan kedamaian, seharusnya. Tetapi ya, tak bisa di pungkiri segala sesuatu tak selalu indah dan tenang, namun di sinilah tugas pemuda-pemudi untuk menciptakan ketenangan dan kedamaian itu.

Aksi nyata dan bukti berupa dampak yang dirasa menjadi hasil dari solidaritas sosial, yakni tanggung jawab dan disokong oleh moral berupa rasa empati dan simpati antar individu sosial. Hal ini selaras dengan kalimat “Kewajiban moral kepada sesama adalah dasar solidaritas” yang merupakan pandangan Simone Weil, seorang filsuf, dan aktivis sosial asal Prancis.

Weil berpendapat bahwa kewajiban dan tanggung jawab terhadap orang lain adalah dasar moral pergaulan manusia, bahkan lebih fundamental daripada hak. Juga menurutnya, solidaritas sosial muncul dari kewajiban menghormati kebutuhan orang lain, sehingga mengurangi rasa egois dan kepuasan yang terjadi terhadap diri sendiri. Maka dengan begitu, secara tidak langsung inti yang beliau sampaikan ialah obligasi (kewajiban) lebih mendasar daripada hak.

Walaupun kita semua tau bahwa setiap orang memiliki hak dan kewajiban yang sama, maka hal yang disampaikan oleh Weil harus setara dan terjalin pada setip individu, sehingga tidak terjadi kecenderungan berupa ketidakadilan sebagaimana perlakuan yang berbeda dalam setiap kelompok.

Maka dari sini, walaupun kemajuan suatu peradaban merupakan tanggung jawab kaum pemuda-pemudi, namun tak bisa di pungkiri bahwa dari golongan lain pun harus ikut serta mendukung, berpartisipasi, dan memikul tanggung jawab masing-masing agar tercipta keseimbangan sosial. Dengan hal ini, setiap tindakan yang dilakukan memiliki dampak positif yang nyata bagi pembangunan peradaban.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *