
Penulis: Hilmi Juandika (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)
PPI Tunisia – Kebangkitan sebuah bangsa atau masyarakat selalu menjadi momen penting yang patut dirayakan sekaligus direnungkan. Dalam konteks ini, Zaytuni, yang berakar di Afrika Utara atau tepatnya di Tunisia, memiliki sejarah panjang serta nilai-nilai luhur yang tertanam didalamnya. Dan kini, ia menunjukkan tanda-tanda kebangkitannya kembali.
Setiap Kawasan memiliki keotentikan peradabannya masing-masing, seperti wilayah Timur Tengah dan Afrika yang lebih mengedepankan turats-nya dalam melihat kacamata keilmuan berkembang, atau Jazirah Arab bagian Selatan yang mengagungkan tanahnya yang di dominasi oleh para habaib atau dzurriyah para rasul, bahkan terkenal akan sebutan tanah para wali. Tak kalah, Negri Pelangi, Afrika Selatan, membanggakan inovasinya dalam mengembangkan teknologi berkembang ataupun yang terbarukan.
Sekarang sudah saatnya peradaban Zaytuni mengepakkan sayapnya dan mengabarkan kepada dunia atas kesiapannya menempati posisi strategis di tengah-tengah kerelevanan peradaban maju saat ini, serta menjadi garda terdepan dalam konsolidasi kejumudan taqlid buta terhadap turats dan liberal terhadap produk barat dan pemikiran para orientalis. Dengan literasi ini, harapan akan kebangkitan Zaytuni akan lebih relevan dengan cara kita memahami sejarah, nilai-nilai, serta gagasan baru dalam menciptakan pondasi untuk memperkenalkan identitas kita kepada dunia luar.
Sejarah dan Nilai-Nilai Zaytuni
Tunisia kaya akan sejarah peradabannya, baik sebelum atau sesudah masuknya Islam ke wilayah Afrika. Letaknya yang sangat strategis menjadi gerbang utama masuknya pengaruh Barat, terutama melalui Kekaisaran Romawi yang mendirikan koloni pertamanya disana setelah Perang Punisia melawan Kartago. Lokasi geografisnya di Afrika Utara yang berbatasan dengan Eropa dan Mediterania juga membuatnya menjadi titik pertemuan berbagai budaya dan perdagangan sepanjang sejarah, bahkan hingga saat ini.
Tunisia, yang dulu dikenal dengan nama Ifriqiyah, juga termasuk wilayah pertama yang dimasuki Islam. Penaklukkan wilayah ini dimulai melalui ekspedisi militer dari mesir dibawah komando Amr bin Ash pada abad ke-7 masehi, yang menjadi tanda dimulainya ekspansi islam di afrika utara. Kekuasaan dan pengaruh Islam semakin menguat di wilayah Afrika Utara melalui penaklukkan yang dilakukan oleh Dinasti Umayyah dan dinasti-dinasti selanjutnya, seperti Dinasti Muwahhidun. Kesinambungan antara dinasti-dinasti ini akhirnya memperkuat perpaduan antara pengaruh politik, budaya, dan agama, serta melanjutkan ekspansi Islam ke Eropa dan wilayah Afrika lain. Termasuk mengintegrasikan suku-suku lokal, seperti Berber dengan kebudayaan Arab dan slam, serta membentuk struktur administrasi yang maju, termasuk bahasa arab sebagai bahasa resmi, terciptalah peradaban Zaytuni yang moderat dengan tidak condong pada barat ataupun timur “La Syarqiyyah Wala Gharbiyyah”
Zaytuni dikenal sebagai simbol dari integritas, kebijaksanaan, dan kearifan tradisional. Nama Zaytuni berasal dari Masjid Al-Zaytuna, yang didirikan sejak abad ke-8 di jantung kota Tunis. Masjid ini berkembang pada abad ke-13 dan menjadi pusat pendidikan Islam yang menjadi salah satu universitas tertua di dunia. Al-Zaytuna tidak hanya melahirkan ulama-ulama terkemuka, tetapi juga menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan di berbagai bidang seperti filsafat, sains, hukum, dan agama.
Selama berabad-abad, Al-Zaytuna berfungsi sebagai mercusuar peradaban yang menjembatani tradisi keilmuan klasik dengan tantangan modernitas. Institusi ini juga memainkan peran penting dalam membentuk identitas budaya dan politik Tunisia, terutama selama masa kolonial Prancis ketika ia menjadi simbol perlawanan budaya dan perjuangan kemerdekaan.
Tanda-Tanda Kebangkitan di Tunisia
Zaytuni merupakan entitas peradaban khas Tunisia yang menjadi kebanggaan kaum lokal ataupun pelajar asing yang tinggal di dalamnya, dengan mengideologikan tidak condong terhadap turats dan juga pemikiran Barat. Alih-alih condong, peradaban Zaytuni lebih memilih untuk lebih selektif dalam mengambil pelajaran dari turats, dan diterapkan terhadap kehidupan modern seperti sekarang. Zaytuni mulai menunjukkan indikasi kuat akan kebangkitannya di Tunisia itu setelah merdeka pada tahun 1956, yang mengkonsolidasikan pengaruh Prancis terhadap adat lokal Tunisia. Ini dapat dilihat dari beberapa aspek, antara lain:
Pertama, revitalisasi Pendidikan. Salah satu pilar utama kebangkitan Zaytuni adalah fokus mereka pada pendidikan. Universitas Zaytuna kembali menjadi pusat intelektual yang mempromosikan pemikiran kritis, pembelajaran mendalam, dan dialog antarbudaya. Dengan menghidupkan kembali tradisi intelektual mereka, Zaytuni berhasil menciptakan generasi baru yang tidak hanya memahami sejarah tetapi juga siap menghadapi tantangan masa depan.
Kedua, penguatan peran agama dalam kehidupan modern. Zaytuni di Tunisia berupaya mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan kebutuhan dunia modern. Mereka mendorong interpretasi agama yang inklusif, relevan, dan berfokus pada perdamaian.
Ketiga, kesadaran budaya dan sejarah. Upaya untuk melestarikan warisan budaya Tunisia juga menjadi bagian dari kebangkitan ini. Dengan melestarikan tradisi, seni, dan arsitektur Islam yang khas, Zaytuni membantu menjaga identitas budaya mereka sambil tetap relevan di era globalisasi.
Kebangkitan Zaytuni di Tunisia mengajarkan kita beberapa hal penting, yaitu kebangkitan membutuhkan fondasi nilai yang kuat. Nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, dan solidaritas menjadi bahan bakar utama dalam proses ini. Lalu, kebangkitan tidak terjadi secara instan; ia memerlukan waktu, strategi, dan kolaborasi. Serta, inovasi dan adaptasi terhadap perubahan adalah kunci untuk bertahan di dunia yang terus berkembang.
Masa depan Zaytuni di Tunisia terlihat cerah jika mereka terus mempertahankan momentum kebangkitannya. Dengan memadukan tradisi dan inovasi, Zaytuni memiliki potensi untuk menjadi inspirasi bagi bangsa lain, baik di dunia Islam maupun di luar itu. Namun, mereka juga harus waspada terhadap tantangan yang mungkin muncul, seperti tekanan globalisasi, dan polarisasi sosial.
Sebagai penutup, refleksi atas kebangkitan Zaytuni di Tunisia bukan hanya tentang merayakan kemajuan mereka, tetapi juga tentang merenungkan bagaimana nilai-nilai universal dapat diterapkan untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Zaytuni adalah pengingat bahwa dengan kerja keras dan tekad, kebangkitan selalu mungkin, bahkan dari masa-masa paling sulit.