Oleh : Muhammad Fahad Azizi
Di tengah perubahan zaman yang serba cepat dan kompleks, dunia pendidikan dituntut untuk menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam satu bidang keilmuan, melainkan juga mampu beradaptasi dengan berbagai tantangan multidisipliner. Hal ini semakin nyata terlihat di Tunisia, di mana dinamika pendidikan tinggi menunjukkan gejala menarik yang patut dicermati. Secara khusus, dengan dibukanya pendaftaran di universitas-universitas seperti Manouba dan 9 Avril yang berada di luar dominasi tradisional Universitas Az-Zaitunah, terlihat adanya peningkatan minat mahasiswa terhadap ragam disiplin ilmu.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting: apakah pendekatan polymath, yakni penguasaan lintas-bidang ilmu, layak dan relevan untuk diinternalisasi dalam kalangan mahasiswa Tunisia? Ataukah pendekatan philomath, yaitu pendalaman terhadap satu bidang ilmu yang dicintai, masih menjadi pilihan ideal? Dalam hemat penulis, pendekatan polymath justru lebih relevan dan bahkan mendesak untuk digaungkan dalam era informasi saat ini, tanpa menegasikan peran penting dari paradigma philomath itu sendiri.
Istilah polymath berasal dari bahasa Yunani, yaitu dari kata polys yang berarti ‘banyak’ dan manthanō yang berarti ‘belajar’ atau ‘mengetahui’. Secara etimologis, polymathēs merujuk pada seseorang yang sangat terpelajar dan memiliki pengetahuan luas dalam berbagai bidang ilmu. Sementara itu, philomath juga berasal dari bahasa Yunani, dari kata philos yang berarti ‘mencintai’ dan manthanō yang berarti ‘belajar’. Oleh karena itu, philomathēs berarti seseorang yang mencintai proses belajar atau ilmu pengetahuan itu sendiri.
Kedua istilah ini, meskipun memiliki akar kata yang berbeda, merepresentasikan dua pendekatan yang sama-sama penting dalam proses pembelajaran. Polymath menekankan pada keluasan wawasan dan kemampuan mengintegrasikan pengetahuan dari berbagai disiplin ilmu, sedangkan philomath menekankan pada kedalaman dan intensitas dalam mempelajari satu bidang ilmu yang dicintai.
Dalam sejarah peradaban manusia, banyak tokoh besar yang menyandang gelar polymath maupun philomath. Di antaranya adalah Leonardo da Vinci, seorang polymath renaisans yang menguasai seni, arsitektur, anatomi, dan teknik. Dalam tradisi Islam, nama-nama seperti Al-Ghazali, Ibn Sina (Avicenna), dan Al-Farabi tercatat sebagai figur polymath yang tidak hanya mendalami ilmu agama tetapi juga filsafat, kedokteran, logika, dan sains. Sebaliknya, tokoh-tokoh seperti Imam Syafi’i atau Al-Nawawi dikenal sebagai philomath yang mendalami ilmu fikih secara mendalam dan konsisten sepanjang hidup mereka. Kedua tipe ini memiliki kontribusi besar dalam kemajuan intelektual peradaban, namun dalam konteks kontemporer, diperlukan reinterpretasi terhadap nilai strategis dari masing-masing pendekatan.
Dalam konteks pendidikan tinggi di Tunisia, khususnya di luar Universitas Az-Zaitunah seperti Universitas Manouba dan Université du 9 Avril, tercatat adanya peningkatan dalam jumlah pendaftar. Tren ini menunjukkan adanya ketertarikan mahasiswa terhadap berbagai disiplin ilmu yang ditawarkan di institusi-institusi tersebut. Hal ini mencerminkan adanya potensi besar bagi berkembangnya pendekatan polymath di kalangan mahasiswa Tunisia.
Namun, realitasnya menunjukkan bahwa kebanyakan mahasiswa Tunisia pada awalnya adalah philomath yang memiliki kecintaan terhadap satu cabang ilmu, baik itu ilmu agama maupun ilmu umum. Sayangnya, kecintaan ini sering kali memudar karena kurangnya dorongan untuk mengeksplorasi lintas disiplin. Tanpa semangat polymath, proses belajar cenderung stagnan dan kehilangan daya inovatif. Banyak mahasiswa yang berakhir sebagai spesialis sempit, bukan seorang philomath sejati, karena tidak dilandasi oleh rasa ingin tahu yang mendalam terhadap berbagai bidang ilmu dan hilangnya cinta belajar. Inilah alasan mengapa, menurut penulis, paradigma polymath perlu digaungkan secara sistemik di kalangan mahasiswa Tunisia.
Perlu ditekankan bahwa pendekatan polymath tidak bertentangan dengan filosofi philomath. Keduanya justru saling menguatkan dan berkontribusi terhadap pembentukan karakter intelektual yang utuh. Polymath mendorong integrasi dan konektivitas antar ilmu, sehingga jika gagal menjadi polymath pun, seseorang tetap memiliki kualitas philomath yang tinggi. Sebab pendekatan polymath justru dapat menumbuhkan rasa cinta belajar yang mendalam.
Penyair Yunani Kuno, Arkhilokhos, pernah berkata: “Seekor rubah tahu banyak hal, tetapi seekor landak tahu satu hal yang penting.” Ungkapan ini menggambarkan dua pendekatan dalam berpikir—rubah yang lincah, serba tahu, dan mudah berpindah dari satu bidang ke bidang lain, serta landak yang fokus, mendalam, dan setia pada satu gagasan inti. Dalam konteks mahasiswa Tunisia, keduanya mencerminkan tipe pembelajar yang sama-sama dibutuhkan di era modern ini. Mahasiswa “rubah” mampu beradaptasi cepat, mengeksplorasi berbagai disiplin ilmu, dan merespons perubahan zaman dengan wawasan luas. Sementara itu, mahasiswa “landak” memberikan kontribusi melalui konsistensi, ketekunan, dan pendalaman atas suatu bidang tertentu yang dianggap fundamental. Tantangan pendidikan tinggi di Tunisia hari ini menuntut integrasi antara keluasan perspektif dan kedalaman analisis—membentuk generasi pembelajar yang tidak hanya tahu banyak, tetapi juga tahu apa yang paling bermakna.
Oleh karena itu, perlu adanya penggaungan semangat polymath di kalangan mahasiswa sebagai strategi kognitif dan akademik untuk membentuk generasi pembelajar yang tangguh, adaptif, dan solutif. Semangat ini bukan hanya tentang menguasai banyak hal secara dangkal, tetapi tentang membangun mindset keterbukaan intelektual, integrasi lintas-bidang, dan kemampuan melihat keterkaitan antara disiplin yang berbeda dalam menjawab kompleksitas masalah kontemporer.
Penting juga untuk menepis anggapan bahwa polymath adalah angan-angan yang berlebihan. Fakta sejarah menunjukkan bahwa tokoh-tokoh besar dalam tradisi intelektual Islam seperti Al-Ghazali, Ibn Sina, dan Al-Farabi mampu menjembatani berbagai disiplin ilmu, sambil tetap menjaga kedalaman dalam masing-masing bidang. Mereka adalah contoh konkret dari polymath sejati yang tetap mengedepankan kualitas spesialisasi. Dalam konteks pendidikan tinggi modern, model semacam ini perlu direvitalisasi untuk menjawab tantangan globalisasi ilmu pengetahuan dan kebutuhan akan inovasi.
Pada akhirnya, upaya membumikan semangat polymath menjadi sangat krusial, karena menjadi polymath merupakan langkah menuju cita-cita yang mulia dan tetap relevan bagi para mahasiswa. Tidak menjadi masalah jika pada akhirnya tidak sepenuhnya tercapai, karena setidaknya mahasiswa akan tumbuh menjadi individu yang “mencintai” proses belajar dan memahami perkembangan ilmu di sekitarnya. Namun, jika berhasil, integrasi semangat polymath dan kedalaman philomath akan menciptakan profil lulusan yang tidak hanya kompeten, tetapi juga visioner dalam membangun masa depan Tunisia yang berbasis pada ilmu pengetahuan serta integrasi nilai-nilai lintas disiplin.