PPI TUNISIA

Kajian Tasawuf: Jalan Kembali bagi Jiwa yang Lupa Arah Pulang

Penulis: Ahmad Fawwaz Haqqi (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah)

Kita tidak dapat memungkiri bahwa kemajuan teknologi, globalisasi, serta arus informasi yang tak terbendung—terutama pada awal dekade abad ini—sering kali membuat kehidupan yang pada hakikatnya luas terasa sempit. Hiruk-pikuknya seakan tampak dalam waktu yang serba cepat, ditambah dengan semakin ketatnya persaingan ego antarmanusia. Akibatnya, tidak jarang muncul krisis identitas, haus validasi, stres mental, kesenjangan sosial ekonomi, degradasi moral, hingga hilangnya lingkungan yang sehat.

Dalam situasi ini, kita sebagai makhluk sosial dituntut mampu beradaptasi dengan arus perubahan yang tak terbatas tanpa mengabaikan nilai dan moralitas sebagai manusia yang berakal dan berbudi pekerti. Maka dari itu, tasawuf sebagai bagian dari ajaran Islam yang datang dengan semangat rahmatan lil ‘alamin, senantiasa hadir memberikan solusi dan jawaban atas berbagai permasalahan umat manusia dari masa ke masa, lintas generasi.

Tasawuf: Hening di Tengah Kebisingan Dunia

Tasawuf adalah ajaran dalam Islam yang menuntut seseorang untuk senantiasa istiqamah dalam beribadah kepada Allah Swt. dan menyandarkan seluruh urusannya hanya kepada-Nya (tawakal). Tasawuf mendorong umat Muslim untuk menjauhkan diri dari kegemerlapan duniawi berupa ketamakan terhadap harta, pangkat, dan jabatan. Dalam praktiknya, tasawuf berfokus pada kehidupan akhirat, bukan dunia yang fana.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan:

“Ilmu ini (tasawuf) adalah ilmu syariat yang baru dikenal dalam beragama. Pada dasarnya, tasawuf bersumber dari ajaran para salaf dan tokoh-tokoh dari kalangan sahabat dan tabi’in yang meniti jalan kebenaran. Dasar ajarannya adalah menetapi ibadah dan berserah diri kepada Allah, menghindari gemerlap nafsu duniawi, serta menyendiri demi memperoleh kenikmatan beribadah kepada-Nya. Ajaran ini telah umum dilakukan para sahabat dan salaf. Namun, pada akhir abad kedua Hijriah, ketika umat Islam mulai larut dalam urusan dunia, muncullah istilah sufi dan tasawuf bagi mereka yang tetap tekun beribadah kepada Allah.”

Seperti yang telah disinggung, era modern tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga memunculkan tantangan serius, terutama dalam ranah kesehatan mental. Arus informasi yang cepat dan tanpa batas melalui media sosial kerap kali menyebabkan gangguan seperti haus validasi, krisis identitas, dan depresi.

Generasi Z—mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012—adalah contoh nyata generasi yang tumbuh dalam ekosistem digital. Berbagai survei menunjukkan bahwa mereka mengalami tingkat stres dan kecemasan yang lebih tinggi dibanding generasi sebelumnya. Sebuah survei oleh Harmony Healthcare IT pada 2022 menyebutkan bahwa 42% dari Gen Z telah didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental. Sementara laporan American Psychological Association (APA) menyebutkan bahwa hampir 90% Gen Z di Amerika Serikat mengalami setidaknya satu gejala stres.

Tasawuf sebagai Obat Jiwa

Di tengah isu mental yang kian mengemuka, tasawuf dapat menjadi pelipur lara bagi jiwa yang letih oleh kerasnya kehidupan modern. Tasawuf mengajak kita untuk kembali ke dalam keheningan batin, menyadari napas sebagai anugerah, dan menghadirkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan. Melalui zikir, muhasabah, serta sikap tawakal, seseorang dapat belajar untuk bersyukur atas nikmat sekecil apa pun dan bersabar atas ujian seberat apa pun.

Allah Swt. berfirman dalam Surah Ar-Ra’d ayat 28:

ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ

(Artinya: (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram).

Mujahadah dan Mahabbah: Bahagia dalam Disiplin dan Cinta

Mujahadah adalah latihan jiwa yang mengajarkan kita untuk melawan hawa nafsu, menjaga hati, dan mendekatkan diri kepada Allah. Praktik ini mencakup khalwat (menyepi), zikir, dan tafakur (merenung), yang membantu manusia untuk “berjeda” dari hiruk-pikuk dunia. Mujahadah membutuhkan konsistensi dan kesabaran agar seseorang tidak mudah tergoda oleh kenikmatan sesaat, seperti kecanduan media sosial.

Mahabbah, dalam konteks tasawuf, berarti cinta kepada Allah secara total dan tulus. Ibnu al-Qayyim rahimahullah berkata: “Cinta tidak mengenal batas. Batasan hanya dibuat untuk mencegah adanya cinta. Cinta diwujudkan melalui cinta. Manusia hanya menyebutkan sebab, tanda-tanda, bukti, manfaat, dan hukumnya. Oleh karena itu, logika mereka tentang cinta dibangun atas enam pilar ini, dan setiap orang menafsirkannya sesuai dengan persepsi, kondisi, dan pemahamannya.”

Cinta yang baik akan menuntun ke arah yang baik pula. Sebaliknya, cinta yang keliru dapat menjerumuskan seseorang dalam kegelisahan dan penyesalan. Dalam tasawuf, cinta menjadi orientasi utama bagi para pencari kedamaian sejati—yakni cinta kepada Tuhan.

Kembali Menjadi Manusia Seutuhnya

Menjadi manusia berarti menyadari bahwa kita makhluk yang memiliki kekurangan. Tugas kita adalah menerima keterbatasan itu. Mengutip penulis Tere Liye: “Terkadang, dalam kasus patah hati, bukan melupakan yang jadi masalah, tapi menerima. Barang siapa bisa menerima, ia akan melupakan. Sebaliknya, yang tak bisa menerima, tidak akan pernah bisa melupakan.”

Kita hanya perlu menjalani peran sesuai porsi kita. Sisanya, serahkan kepada Allah Swt. Inilah konsep tawakal dalam tasawuf yang sangat relevan dengan kehidupan modern.

Konsep-konsep tasawuf yang telah diuraikan di atas hanyalah secuil dari luasnya khazanah spiritual Islam. Namun, dari pemaparan singkat ini, kita bisa memahami bahwa tasawuf tetap relevan sepanjang manusia masih ada. Tasawuf membentuk jiwa yang bening dan tak mudah rapuh oleh komentar manusia. Ia adalah cinta personal kepada Tuhan, di tengah dunia yang sibuk mengejar citra dan validasi. Tasawuf adalah pelatihan hati untuk tulus tanpa pamrih di tengah zaman yang penuh kepentingan pribadi.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *