
Oleh: Balqis Chumairah Qurratu’Ain
BPC Kairouan – Sejak kapan menjadi mandiri berubah menjadi keharusan untuk tidak membutuhkan siapapun?
Ada orang-orang yang terlihat begitu kuat. Mereka terbiasa menyelesaikan semuanya sendiri, jarang meminta bantuan, dan hampir selalu mengatakan, “Aku bisa.” Dari luar, kemandirian itu terlihat seperti sebuah kekuatan. Namun, setelah membaca Being A Hyper Independence Person karya Bayu Herkuncahyo, aku mulai mempertanyakan sesuatu: bagaimana jika sebagaian dari ”kekuatan” itu sebenarnya merupakan cara seseorang melindungi dirinya?
Being A Hyper Independence Person merupakan buku karya Bayu Herkuncahyo yang membahas tentang hyper-independece dan bagaimana kecendrungan untuk selalu mengandalkan diri sendiri dapat memengaruhi hubungan seseorang dengan orang lain maupun dengan dirinya sendiri. Buku ini di terbitkan pada Juli 2022.
Sebelum berbicara lebih jauhh tentang hyper-independence atau rasa mandiri yang berlebihan, kita harus faham akan definisi kata “mandiri” itu sendiri. Mandiri merupakan sikap percaya pada kemampuan diri sendiri untuk melakukan sesuatu hal atau memecahkan permasalahan berdasarkan inisiatif diri sendiri, tanpa bantuan atau campur tangan orang lain. Biasanya, sebagian besar orang mengganggap bahwa menjadi mandiri adalah suatu kelebihan dan merupakan hal yang baik, sedangkan bergantung pada orang lain merupakan kelemahan.
Hal ini tidak sepenuhnya salah, tapi tidak sepenuhnya benar juga. Menjadi orang yang mandiri itu memang suatau kelebihan, tetapi mandiri yang berlebihan dalam jangka waktu panjang bisa menghancurkan kita secara perlahan dan kejam.
Rasa mandiri yang berlebihan atau dalam bahasa inggris disebut “hyper independence” adalah suatu keadaan di saat seseorang kehilangan kemampuan untuk membutuhkan atau bergantung pada orang lain, menolak segala bentuk pertolongan dari orang, meskipunn dia menyadari bahwa pertolongan itu sangat membantunya. Bahkan, ia tetap menolaknya meskipun dia tahu bahwa penolakan itu bisa berdampak negatif baginya.
“Aku bisa melakukannya sendiri” dan “Aku harus melakukannya sendiri”
Di sini, bisa dibedakan dari seorang independence dan hyper-independence. Menurutku, perbedaan keduannya bukan terletak pada kemampuan seseorang untuk berdiri sendiri,tetapi bagaimana seseorang memandang kebutuhan terhadap orang lain. Menjadi mandiri berarti memiliki kemampuan untuk mengurus diri sendiri. Namun, hyper-independece dapat membuat seseorang merasa bahwa membutuhkan bantuan merupakan hal yang dihindari.
Sikap yang sering ditampakan dari seorang yang hyper-independence adalah ke mandiriannya, kuatnya menghadapi masalah, tidak ingin merepotkan dan tidak ingin berantung pada orang lain. Tapi, apakah aku melakukan semuanya sendiri karena aku memang aku mampu, atau karena aku takut bergantung pada seseorang? Hal yang menarik tentang konsep hyper-independence adalah kenyatan bahwa perilaku yang terlihat positif dari luar tidak selalu lahir dari kondisi emosional yang positif. Seorang mungkin terlihat sangat mandiri bukan karena dirinya tidak membutuhkan orang lain, tetapi karena ia telah belajar bahwa mengandalkan orang lain terasa tidak aman.
Rasa tidak aman itu bisa dijumpai di beberapa hal kecil seperti dalam siklus pertemanan, sejauh ini saya mulai melihat bahwa meminta bantuan bukan hanya persoalan “gengsi”. Bisa jadi ada ketakutan untuk merepotkan, mengecewakan, atau bahkan ditolak. Mungkin hal ini menjadi salah satu acuan dari trauma berinteraksi dengan ingkungan sekitar yang menyebabkan seseorang akan menjadi pemalu dan menutup diri sehingga segala urusan yang berkaitan dengannya akan diurusnya sendiri. Dan ini yang ditangkap oleh hyper-independence adalah respon dari lawan bicaranya, daripada dia merasa kecewa karena tertolak maka ia lebih memilih untuk menangani urusannya sendiri.
Ada kalanya kita bisa menjumpai hal ini dalam siklus hubungan romansa seperti membahas tentang bagaimana seseorang bisa mencintai orang lain tetapi tetap kesulitan membiarkan dirinya membutuhkan pasangan. Misalnya ada perbedaan antara mencintai seseorang dan membiarkan seseorang itu hadir ketika kita tidak sedang baik-baik saja. Seorang yang hyper-independence biasanya akan mencoba melarikan diri dari suatu hubungan. Karena apa? Karena mungkin saja ada trauma secara psikis yang dialaminya.
Terlebihnya rasa hyper-independence ini sering terjadi dalam keluarga. Membahas tentang dimulainya kebiasaan menyimpan masalah sendiri, tidak menceritakan kesulitan, kurangnya support keluaraga atau merasa harus selalu terlihat baik-baik saja, biasanya hal ini sering dirasakan seorang anak, terlebihnya anak perempuan pertama yang merasa ia bisa mengatasi seluruh urusannya dan tidak ingin menyulitkan orang lain atau bahkan ia tidak ingin orang lain tau apa yang sedang ia kerjakan dan rasakan.
Setelah membaca buku ini, saya sebagai anak perempuan pertama pun merasa hal yang sama lalu saya mulai bertanya kepada diri sendiri “Selama ini, apakah aku benar-benar mandiri, atau aku hanya tidak terbiasa meminta bantuan.” “Kenapa meminta bantuan terkadang terasa lebih sulit daripada memberikan bantuan.” “ Haruskah aku merasa terlihat selalu kuat?.” “Apa yang sebenarnya aku takutkan ketika harus bergantung kepada seseorang?.” “Apa yang aku takutin hanya respon dan jawaban penolakan mereka saja?.”
Membaca buku ini membuatku menyadari bahwa selama ini aku mungkin terlalu mudah menganggap kemampuan untuk melakukan semuannya sendiri sebagai sesuatu yang positif. Ada rasa bangga ketika berhasil menyelesaikan sesuatu tanpa meminta bantuan siapapun. Namun, buku ini membuatku melihat dari sisi lain dari kebanggaan tersebut.
Mungkin masalahnya bukan pada kemampuan untuk diri sendiri. Masalahnya muncul ketika aku merasa bahwa aku harus selalu berdiri sendiri, bahkan ketika sebenarnya ada seseorang yang bersedia menopangku. Buku ini menyadariku akan mengenal beberapa kecendrungan dalam diriku yang sedikit memiliki kemiripan dengan pola hyper-independence.
Menariknya dari buku Being A Hyper Independence Person ini adalah topiknya relateable dikalangan gen z bahkan milenial, banyak sekali diantara mereka yang mungkin pernah mengatakan “aku bisa sendiri” tanpa menyadari alasan emosional di baliknya. Mengubah cara pandang terhadap kemandirian, buku ini mampu mengubah pandangaanku yang awalnya “seberapa aku mandiri” menjadi “mengapa aku merasa harus selalu mandiri”.
Membukanya ruang intropeksi diri, seperti menempatkan kemandirian itu dengan mengesampingkan gengsi atau berani meminta bantuan tanpa takut akan respon tertolak itu, karena tidak semua orang akan menolak permintaan bantuanmu banyak orang yang bersedia membantumu, memberimu bantuan bahkan menyandarkan bahunya untukmu.
Jika kamu adalah seseorang yang terbiasa mengurus semuanya sendiri, sulit meminta bantuan, atau merasa tidak nyaman ketika bergantung kepada orang lain, aku rasa buku ini patut diberi kesempatan. Bukan untuk membuatmu merasa bahwa kemandirianmu adalah sesuatu yang salah, tetapi untuk mengajakmu memahami alasan di baliknya.
Mungkin menjadi kuat bukan berarti tidak membutuhkan siapapun.
Mungkin menjadi dewasa bukan berarti selalu mampu menyelesaikan semuanya sendiri.
Dan mungkin, justru salah satu bentuk kemandirian yang paling sulit adalah menyadari kapan kita membutuhkan orang lain lalu cukup berani untuk mengatakan “ I need your help, please”
Mungkin setelah merefleksi diri dengan membaca buku ini, mungkin aku tidak akan memakai kalimat “aku bisa sendiri” dengan cara yang sama. Terkadang, di balik kalimat tersebut bukan hanya ada seseorang yang sedang menunjukan kekuatannya, tetapi jugaseseorang yang sedang belajar bagaimana caranya merasa aman ketika membutuhkan orang lain.