PPI TUNISIA

Dari Nusantara Ke Kairouan: Cerita Adaptasi Mahasiswa Di Kota Tersuci ke-4

Penulis: Daffa Maulid Nugroho (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Kairouan)

PPI Tunisia – Kairouan adalah sebuah kota kecil nan bersejarah di Tunisia Tengah yang memiliki posisi istimewa dalam dunia Islam. Ia diakui sebagai kota tersuci keempat setelah Makkah, Madinah, dan Yerusalem.

Kairouan juga merupakan tempat berdirinya salah satu masjid tertua di Afrika Utara, yaitu Masjid Uqbah Ibn Nafi. Selain menjadi pusat ibadah, Kairouan juga pernah menjadi pusat keilmuan Islam yang terkenal pada masa klasik. Tak heran jika kota ini menjadi magnet bagi para pencari ilmu dari berbagai penjuru dunia, termasuk mahasiswa asal Indonesia.

Namun, di balik pesona dan warisan intelektualnya, belajar di Kairouan bukan tanpa tantangan. Bagi mahasiswa Indonesia—terutama yang pertama kali ke luar negeri—adaptasi budaya menjadi ujian awal yang menentukan kelangsungan studi dan kehidupan sosial mereka.

Adapun Kairouan merupakan salah satu kota paling bersejarah di Tunisia, bahkan di seluruh dunia Islam. Ia memiliki peran penting dalam perkembangan agama, ilmu, dan peradaban Islam di Afrika Utara. Kota ini didirikan pada tahun 670 M (50 H) oleh panglima Arab, Uqbah Ibn Nafi, saat penaklukan wilayah Maghrib oleh Kekhalifahan Umayyah. Lokasi ini dipilih karena cukup strategis – jauh dari pantai (untuk menghindari serangan Bizantium) dan dekat dengan jalur dagang penting.

Nama “Kairouan” berasal dari kata Persia karvan, yang berarti “tempat singgah kafilah,” mencerminkan peran kota ini sebagai titik persinggahan penting dalam jalur perdagangan dan militer.

Adapun pada masa Dinasti Aghlabiyah (abad ke-9), Kairouan berkembang menjadi pusat ilmu dan agama Islam yang sangat berpengaruh di dunia Islam Barat. Di sinilah berdiri Universitas Zaytuna dan Masjid Agung Kairouan, yang menjadi simbol kejayaan intelektual. Kota ini juga melahirkan banyak ulama besar dalam bidang fikih, hadis, dan kedokteran, termasuk Imam Sahnun, tokoh penting dalam mazhab Maliki.

Kairouan telah diakui sebagai Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO sejak 1988. Meskipun bukan pusat politik atau ekonomi, ia tetap menjadi simbol penting dalam sejarah Islam dan menarik banyak peziarah serta mahasiswa dari berbagai belahan dunia.

Di balik emasnya sejarah Kairouan, tak terlepas pula berbagai macam tantangan yang membelenggu kerasnya perjuangan diaspora Indonesia yang sedang belajar di sana. Di antara banyaknya tantangan yang sering dialami oleh mereka ialah tantangan berkomunikasi dengan bahasa asing, baik berbahasa Arab, Darija, maupun bahasa Prancis.

Salah satu tantangan paling nyata yang dihadapi adalah masalah berbahasa. Mahasiswa Indonesia umumnya hanya fokus untuk belajar bahasa Arab fusha (formal) di pesantren atau kampus di dalam negeri sebelum keberangkatan mereka menuju Tunisia. Namun ketika tiba di Tunisia, seketika mereka menghadapi dialek lokal Tunisia (Darija) yang bercampur antara Arab, Prancis, bahkan sisa-sisa bahasa Latin yang notabene-nya cukup asing di telinga para mahasiswa.

Dalam konteks ini, bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga sistem simbol yang mencerminkan budaya. Maka, belajar bahasa berarti juga menyelami cara berpikir masyarakatnya.

Sebagian besar perguruan tinggi di Tunisia memang menggunakan bahasa Arab klasik dan Prancis dalam pengajaran. Namun, dalam interaksi sosial sehari-hari seperti di pasar, toko, atau bahkan transportasi umum, pengguna bahasa Darija lebih mendominasi.

Hal ini sering membuat mahasiswa kebingungan karena di antara apa yang dipelajari di pondok dan di Tunisia sangatlah berbeda, terlebih lagi dalam pelafalannya orang Tunisia terbilang cukup cepat. Oleh sebab itu, penting bagi mahasiswa Indonesia untuk tidak hanya fokus pada kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan bahasa praktis.

Tantangan lain pun muncul dari sistem pendidikan yang diterapkan di Tunisia. Banyak perguruan tinggi di Kairouan menerapkan sistem manhajiyah, yaitu model ujian berbasis penulisan esai panjang, analisis mendalam, dan argumentasi yang tersusun rapi. Ini berbeda dengan sistem ujian Indonesia yang cenderung lebih banyak menggunakan pilihan ganda atau soal langsung.

Namun di sisi lain, sistem seperti ini mampu menuntut mahasiswa untuk berpikir kritis dan tidak hanya menghafal materi. Sayangnya, bagi mahasiswa Indonesia yang belum terbiasa, sistem ini bisa menjadi tekanan tersendiri, apalagi jika keterbatasan bahasa masih menjadi penghalang.

Di antara tantangan lain yang cukup sering dialami oleh kalangan mahasiswa ialah culture shock – ia adalah suatu perasaan cemas, bingung, dan rasa tertekan yang dialami seseorang saat berada di lingkungan baru dan realitas lain yang budayanya sangat berbeda, baik dari perbedaan waktu antara Indonesia dan Tunisia (selisih enam jam), hingga iklim yang kering dan musim dingin yang menusuk, semuanya memengaruhi adaptasi awal.

Namun, yang sering tidak disadari adalah shock yang muncul dari interaksi sosial. Orang Tunisia cenderung berbicara dengan suara keras dan ekspresif. Mahasiswa Indonesia yang terbiasa dengan budaya santun bisa salah paham dan menganggapnya sebagai bentuk kemarahan atau ketidaksopanan. Padahal dalam budaya Arab, berbicara dengan lantang justru dianggap wajar dan menandakan kejujuran serta antusiasme.

Meski banyak tantangan, bukan berarti mahasiswa Indonesia tidak bisa menyesuaikan diri. Banyak dari mereka justru berhasil dan mampu menjadikan pengalaman di Kairouan sebagai modal hidup yang luar biasa.

Kuncinya adalah keterbukaan, kesiapan mental, dan kemajuan untuk belajar. Seperti yang dikatakan oleh tokoh pendidikan Ki Hajar Dewantara, “Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah.” Di Kairouan, bukan hanya kampus yang menjadi tempat belajar, tetapi juga jalanan, masjid, pasar, dan percakapan sehari-hari.

Berinteraksi dengan masyarakat lokal, aktif di komunitas pelajar Indonesia, serta memanfaatkan waktu luang untuk memperdalam bahasa dan budaya lokal adalah strategi-strategi yang efektif. Bahkan, belajar dari kegagalan atau kesalahpahaman bisa menjadi bagian dari proses pertumbuhan yang penting. Dengan hal inilah, belajar di Kairouan adalah pengalaman yang tidak hanya memperkaya secara intelektual, tetapi juga membentuk karakter dan mentalitas.

Tantangan dalam bahasa, budaya, hingga sistem pendidikan bisa terasa berat di awal, tetapi seiring waktu dan dengan sikap adaptif, semua itu bisa diatasi. Dengan semangat yang kuat dan tekad yang tulus, mahasiswa Indonesia di Kairouan bukan hanya mampu bertahan, tetapi juga dapat berkembang dan memberi kontribusi bagi dirinya sendiri, komunitasnya, dan kelak bagi tanah air.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *