PPI TUNISIA

Polemik Eksistensi Dakwah Gus Dur dan Ideologi Global: Transformasi Metode Pendekatan atau Konfrontasi Peradaban

Penulis: Muhamad Fathi Ilmy (Mahasiswa S1 Universitas az-Zaitunah, Tunis)

“Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah manusia yang dilecehkan martabatnya” -Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

PPI Tunisia – Kalimat tersebut hadir bukan sebatas langkah simbolis akan pentingnya dakwah, melainkan peran strategis yang memberikan seruan global dengan sistematika pendekatan, serta paradigma inklusif yang tidak memarginalkan, tidak terkesan menghakimi suatu golongan, dan mendiskriminasikan suatu kalangan sebagai wadah terwujudnya keharmonisan peradaban.

Diketahui bahwa implementasi nilai-nilai dakwah bukan konfrontasi teologis, akan tetapi selaras, serta membimbing ideologi pemikiran suatu kalangan memahami akan keanekaragaman karakteristik yang lahir di tengah derasnya arus dimensi sosial. Dakwah datang untuk menyatukan berbagai pandangan, bukan sebagai pemecah persatuan. Dakwah ialah merangkul perbedaan, bukan sebagai alat untuk merusak jalinan kemanusiaan, baik jalinan antarsuku, budaya, bahasa, maupun agama yang tidak boleh termarginal yang akan memicu kesenjangan sosial.

Dakwah dalam sejarah Islam sering dipahami sebagai seruan moral dan spiritual yang bertujuan mengubah kehidupan masyarakat menjadi lebih baik. Namun, eksistensi dakwah saat ini sering kali disalah gunakan sebagai alat penghakiman atas suatu kesalahan, disalah artikan sebagai seruan teologis belaka dalam kehidupan, bahkan sebagai perantara pemicu konflik dan permusuhan. Dalam praktiknya, dakwah tidak pernah steril dari polemik, baik dari internal umat Islam secara lokal, maupun dalam interaksi pluralisme secara global.

 Apalagi dalam histori panjang bangsa Indonesia, dinamika-dinamika moral sosial, terutama konflik identitas  yang menjadi salah satu sumber timbulnya perpecahan. Perbedaan agama, etnis, maupun politik menjadi suatu ranah yang dipertajam oleh pihak-pihak yang ingin menguasai ruang sosial dengan menebarkan narasi kebencian. Di tengah pusaran ini Abdurrahman Wahid atau kerap dipanggil dengan sebutan Gus Dur memberikan peran sistematis, bukan hanya berdiri di atas mimbar, tetapi juga mengekspresikan nilai-nilai dakwah transformatif yang menawarkan dakwah kultural dan pluralisme.

Maka, Gus Dur hadir sebagai salah satu tokoh muslim Indonesia yang meluruskan pernyataan dakwah yang disalahartikan. Dakwahnya tidak datang dengan menghakimi, diskriminasi, bahkan konfrontasi, melainkan dengan menjalin keberagaman relasi dengan humor-humornya. Ia membangun rasa cinta antarsesama dengan canda dan tawanya, serta memberikan dialog terbuka terhadap kaum minoritas dengan kebijakannya. Sehingga beliau menjadi sosok figur yang menawarkan corak pendekatan unik dan sering kali dianggap ‘nyeleneh’ oleh sebagian kalangan, namun justru memberi arah baru bagi wajah Islam di Indonesia maupun dunia.

Gus Dur juga memahami dakwah bukan sekadar menyampaikan moral pesan agama, tetapi sebagai usaha membangun jembatan antar peradaban. Bagi beliau, dakwah bukan ritual penyampaian ceramah, melainkan metode pembebasan, penghormatan terhadap pernyataan plural, dan penghargaan terhadap hal asasi manusia.

Di sinilah letak polemik eksistensi dakwah ala Gus Dur – apakah model dakwah beliau yang mengedepankan dialog terbuka, menghormati keberagaman dengan pluralisme dan sekularisme dapat dianggap sebagai bagian dari “dakwah” dalam arti klasik hingga dalam lingkup global, atau justru melemahkan identitas Islam, maupun golongan lokal?

Seiring dengan perkembangan modernisasi, ideologi dunia menimbulkan suatu dinamika baru, seperti kapitalisme, sosialisme, liberalisme, hingga fundamentalisme agama. Semua ideologi ini memengaruhi paradigma dasar umat beragama mengenai cara mereka memandang dunia. Gus Dur – sosok yang memiliki latar belakang sebagai seorang anak dari ulama besar, KH. Wahid Hasyim, sekaligus dari pengalaman historisnya beliau – seseorang intelektual kosmopolit yang pernah belajar di berbagai belahan dunia, menyadari bahwa dakwah tidak bisa lagi hadir dalam ruang yang kaku dan hanya bersifat tradisional.

Dalam kacamata beliau, dakwah seharusnya tidak terjebak pada tindakan konfrontasi agamis, melainkan menghadirkan Islam sebagai rahmatan lil alamin. Dengan kata lain, transformasi metode dakwah lebih penting dari pada mempertahankan bentuk konfrontatif yang justru memperlebar jarak antar peradaban.

Adapun jika sebagian orang menilai mimbar masjid atau majelis ta’lim adalah pusat dakwah, maka Gus Dur memperluas ruang dakwah hingga ke panggung budaya, media sosial, ruang politik, diplomasi akademik, hingga forum internasional. Beliau sering menggunakan humor, kebudayaan lokal, dan pendekatan sosial untuk membumikan nilai Islam. Hal ini merupakan sistem transformasi metode dakwah – dari monolog menjadi dialog, dari eksklusivitas lokal menuju keterbukaan global, dari konfrontasi menuju dakwah cinta dengan kolaborasi.

Berkaitan dengan dakwah cinta beliau, menunjukkan bagaimana dakwah dapat diwujudkan dalam ranah kebangsaan dan merangkul kalangan majemuk secara inklusif. Di antara sekian banyak cara dakwah cinta beliau ialah mencabut Inpres No. 14 Tahun 1967 yang melarang keras ekspresi budaya Tionghoa di ruang publik. Dengan langkah demikian, Gus Dur meruntuhkan tembok diskriminasi etnis dan membuka jalan bagi kebebasan identitas budaya dan agama. Cara dakwah cinta beliau juga direfleksikan oleh kebijakan beliau membela hak masyarakat Papua dengan mengganti istilah “Irian Jaya” menjadi “Papua” dan mendorong dialog damai sebagai jalan keluar konflik.

Selain itu, ia juga mengembalikan hak-hak politik kelompok minoritas, termasuk membuka dialog bagi agama-agama lokal yang selama ini dikucilkan, bahkan tidak dianggap keberadaannya. Terakhir, ketetapan Gus Dur menjadikan Pancasila sebagai ruang bersama, baik menjadi poros moral, maupun etika berideologi. Ketetapan ini yang selalu Gus Dur serukan. Dengan pandangan ini, dakwah tidak lagi dimaknai sebagai usaha mempersempit ruang kebangsaan dengan identitas tertentu, melainkan memperluas agar semua kalangan merasa memiliki Indonesia.

Mengenai kemunculan polemik tersebut, dikarenakan sebagian kelompok menilai dakwah Gus Dur terlalu kompromistis terhadap ideologi dunia. Mereka menganggap dialog yang terlalu terbuka bisa mencairkan identitas keislaman. Namun, Gus Dur menegaskan bahwa Islam Justru semakin kuat ketika ia berdialog dengan dunia luar, sebab nilai-nilainya bisa menginspirasi dan memperkaya peradaban global. Dalam pandangan ini, konfrontasi peradaban hanya akan melahirkan konflik berkepanjangan. Sebaliknya, transformasi dakwah mampu menjadikan Islam sebagai kekuatan moral dunia.

Di tengah meningkatnya polarisasi politik, konflik identitas, serta benturan antar ideologi global, pemikiran dakwah Gus Dur semakin relevan. Ia mengingatkan bahwa dakwah bukan medan pertempuran, melainkan ruang untuk menghadirkan keadilan, persaudaraan, dan penghormatan terhadap perbedaan.

Dengan demikian, eksistensi dakwah Gus Dur tidak berhenti pada retorika, melainkan menjadi tawaran model dakwah yang lebih membumi dan lintas batas. Polemik memang tidak bisa dihindari, tetapi justru dari polemik itu akan lahir dinamika yang dapat menghidupkan pemikiran Islam dalam perjumpaan dengan ideologi dunia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *