Penulis: Muhammad Azhar Millatarobbi Sofyan, LC.

Israel telah meluncurkan serangkaian serangan udara sejak Senin pagi 23 September 2024. Menewaskan sedikitnya 677 orang dan melukai lebih dari 2 ribu lainnya, menurut otoritas kesehatan Lebanon. Hezbollah dan Israel telah terlibat perang lintas batas sejak dimulainya perang Israel di Gaza yang telah menewaskan 41.400 orang lebih, menyusul serangan dari Hamas pada 7 Oktober lalu.
Konflik antara Israel dan Lebanon, bukanlah konflik yang baru terjadi. Ketegangan antara kedua negara ini telah mewarnai peta geopolitik regional dengan berbagai insiden militer, pertempuran dan krisis kemanusiaan yang belum menemukan solusi hingga saat ini.
Sejarah awal mula konflik kedua negara tersebut terjadi pasca-Perang Dunia ke-II ketika kekuatan kolonial Eropa membagi Timur Tengah tanpa mempertimbangkan kompleksitas etnis dan agama di wilayah tersebut. Berdirinya negara Israel pada tahun 1948 memicu ketegangan luas di kawasan, termasuk dengan Lebanon yang berbatasan langsung di sebelah utara. Munculnya Israel sebagai negara Zionist Yahudi di wilayah yang didominasi oleh populasi Arab menciptakan perpecahan politik dan sosial yang mendalam. Perang Arab-Israel tahun 1948 berdampak pada Lebanon dari pengungsi Palestina yang mencari perlindungan. Kehadiran pengungsi ini mengubah dinamika sosial dan politik di Lebanon serta memperburuk hubungan dengan Israel dan memicu ketidakstabilan dalam negara.
Pada tahun 1982, ketegangan antara kedua negara tersebut semakin meningkat setelah Israel melakukan invasi Lebanon secara besar-besaran dengan dalih ingin menghancurkan Palestine Liberation organization (PLO), sebuah Organisasi Pembebasan Palestina yang bermarkas di Beirut. Invasi ini membawa kehancuran besar di Lebanon yang membawa pertumpahan darah antara milisi lokal, kelompok Palestina, dan pasukan Israel.
Selama 15 tahun, Israel menduduki wilayah Lebanon selatan dan mendukung pasukan setempat seperti Pasukan Lebanon Selatan untuk menduduki wilayah tersebut. Hal ini memicu perlawanan dari kelompok-kelompok perlawanan termasuk Hezbollah, yang kemudian menjadi aktor utama dalam konflik ini.
Hezbollah adalah kelompok yang berasal dari militan Syiah yang didukung oleh Iran dan Suriah, lahir sebagai respon pendudukan Israel di Lebanon. Hezbollah telah berulang kali bentrok dengan tentara Israel, baik melalui roket maupun penculikan terhadap tentara. Untuk memperkuat posisinya, Hezbollah juga memanfaatkan ketidakstabilan politik di Negara Lebanon baik secara militer ataupun politik. Bagi sebagian warga Lebanon dan dunia Arab, Hezbollah dipandang sebagai pahlawan yang melawan invasi Israel. Sebaliknya, bagi Israel dan beberapa negara barat, kelompok ini dianggap sebagai organisasi teroris yang mengancam keamanan regional.
Dampak kemanusiaan atas konflik Israel-Lebanon tidak hanya menjadi masalah politik, tetapi juga mengancam krisis kemanusiaan yang menghantui warga sipil. Kehancuran infrastruktur, hilangnya nyawa, dan trauma psikologis yang dialami warga sipil menjadi luka mendalam yang sulit sembuh. Setiap kali ketegangan meningkat, warga sipil sering kali menjadi sasaran militer, baik dalam bentuk serangan roket, ranjau darat yang bertebaran di perbatasan, bahkan bahan peledak yang ditanam pada alat komunikasi seperti Pager, yang baru-baru ini terjadi dan telah menewaskan lebih dari 40 orang juga melukai hampir 3.500 lainnya di Lebanon. Bahkan, tidak hanya hilang nyawa dan kehancuran infrastruktur, akan tetapi peperangan ini akan menciptakan generasi baru yang tumbuh dengan narasi kebencian dan ketidakpercayaan yang semakin memperkuat siklus permusuhan.
Beberapa upaya pedamaian telah dilakukan, seperti penarikan pasukan Israel dari Lebanon pada tahun 2000 dan Resolusi PBB pasca perang tahun 2006, ketegangan antara kedua negara ini terus berlanjut. Hal ini disebabkan oleh kedua belah pihak yang tidak mampu mencapai kesepakatan yang diterima oleh semua pihak. Masa depan konflik Israel-Lebanon tampaknya masih suram berbarengan dengan konflik Hamas-Israel yang kembali memanas. Terutama dengan dinamika politik yang terus berubah dan faktor-faktor eksternal semakin membesar. Banyaknya intervensi asing tidak hanya memperumit upaya perdamaian, akan tetapi memperburuk kondisi sosial dan ekonomi di Lebanon, yang saat ini tengah mengalami krisis ekonomi yang parah. Invasi Israel dan serangan udara yang menargetkan infrastruktur penting Lebanon semakin merusak negara tersebut, memperburuk ketidakstabilan internal, dan memperpanjang derita rakyat. Akibatnya Lebanon menjadi lemah dan terpecah, menciptakan ruang bagi kelompok-kelompok ekstremis untuk berkembang.
Konflik ini merupakan gambaran dari kerumitan geopolitik timur tengah dan kegagalan dunia untuk menengahi perdamaian yang adil dan bertahan lama. Ketika pertikaian terus berlanjut, risiko ketidakstabilan kawasan dan dampak buruk terhadap dunia akan semakin nyata.
Menurut kanselir Jerman Olaf Scholz, bahwa konflik antara Israel dan Hezbollah tidak boleh meningkat di tengah risiko terjadinya konflik regional.
“Situasi antara Israel dan Hezbollah tidak boleh meningkat lebih jauh. Ada ancaman konflik regional. Jerman siap mendukung negosiasi tentang gencatan senjata. Saya telah menekankan Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati tentang hal ini” kata Scholz di platform X, seraya menekankan perlunya solusi diplomatik bagi konflik tersebut.
“Harapan perdamaian akan tetap ada, selama kedua belah pihak mampu menempatkan kepentingan manusia di atas ambisi politik dan militernya. Walau tantangan besar, hanya melalui pendekatan yang lebih humanis dan saling memahami sejarah konflik ini, kedua negara dapat menemukan titik temu dari perdamaian yang sesungguhnya. Meski tidak dalam waktu dekat, harapan untuk masa depan yang lebih baik harus tetap menyala. Jalan menuju perdamaian memang panjang dan berliku, namun langkah kecil melalui dialog yang inklusif dan upaya diplomasi yang jujur akan menjadi jalan keluar dari bayang-bayang konflik yang terus menghantui” ujar penulis.