
Penulis: Hendro Alfansyah Khuluk (Mahasiswa S1 Universitas Az-Zaitunah, Tunis)
“Leiden is lijden” sebuah ungkapan singkat namun sarat makna yang dilontarkan oleh Haji Agus Salim, salah satu tokoh besar Indonesia yang dikenal sebagai diplomat ulung, cendekiawan Muslim, dan pejuang kemerdekaan. Frasa dalam bahasa Belanda ini, jika diterjemahkan secara harfiah, berarti “memimpin adalah menderita”. Namun, di balik kesederhanaan katanya, tersimpan filosofi kepemimpinan yang mendalam, menggambarkan betapa beratnya tanggung jawab yang harus dipikul oleh seorang pemimpin sejati.
Makna di Balik “Leiden is Lijden”
Haji Agus Salim, yang pernah menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Indonesia pertama, memahami betul bahwa memimpin bukan sekadar tentang kekuasaan atau kemewahan, melainkan pengorbanan, keteguhan hati, dan kesediaan untuk menderita demi tujuan yang lebih besar. Dalam konteks perjuangan kemerdekaan, ia sendiri mengalami bagaimana seorang pemimpin harus rela melewati berbagai rintangan, tekanan, dan pengorbanan tanpa pamrih.
Konsep “leiden is lijden” sejalan dengan nilai-nilai kepemimpinan dalam banyak tradisi, baik dalam Islam, pemikiran Barat, maupun falsafah Timur. Nabi Muhammad SAW, misalnya, mengajarkan bahwa pemimpin adalah pelayan umat (khadimul ummah), bukan penguasa yang menindas. Socrates, filsuf Yunani kuno, juga menekankan bahwa pemimpin sejati harus berani menghadapi ketidaknyamanan demi kebenaran.
Memimpin dengan Pengorbanan
Sejarah telah membuktikan bahwa pemimpin besar tidak lahir dari kemudahan, melainkan dari kesulitan. Bung Karno dan Bung Hatta harus menghadapi pengasingan, penjara, dan tekanan kolonial demi mempertahankan cita-cita kemerdekaan. Tan Malaka mengembara dari satu negara ke negara lain, hidup dalam pelarian, demi memperjuangkan Indonesia merdeka. Haji Agus Salim sendiri, meski berasal dari kalangan terpelajar dan mampu hidup nyaman, memilih jalan perjuangan yang penuh liku.
Dalam konteks modern, prinsip “leiden is lijden” tetap relevan. Seorang CEO yang memimpin perusahaan harus siap menanggung risiko kegagalan, seorang kepala daerah harus berani membuat keputusan sulit yang mungkin tidak populer, dan seorang guru (sebagai pemimpin di kelas) harus sabar menghadapi berbagai tantangan dalam mendidik murid-muridnya.
Kepemimpinan yang Tidak Egois
Salah satu ciri pemimpin sejati adalah kemampuannya untuk menempatkan kepentingan orang banyak di atas kepentingan pribadi. Banyak pemimpin terjebak pada godaan kekuasaan: korupsi, nepotisme, atau kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang. Namun, filosofi “leiden is lijden” mengingatkan bahwa kepemimpinan seharusnya tidak mencari kemewahan, melainkan berani menanggung beban.
Contoh nyata adalah kisah Nelson Mandela, yang menghabiskan 27 tahun di penjara sebelum akhirnya memimpin Afrika Selatan menuju perdamaian. Atau Mahatma Gandhi, yang hidup sederhana dan rela dipenjara berkali-kali demi kemerdekaan India. Mereka adalah bukti bahwa kepemimpinan sejati memerlukan keteguhan, kesabaran, dan kesediaan untuk menderita.
Ujian Seorang Pemimpin
Ujian terberat seorang pemimpin adalah ketika ia harus membuat keputusan yang tidak disukai banyak orang, tetapi diperlukan untuk kebaikan bersama. Misalnya, kebijakan menaikkan harga BBM yang kerap memicu protes, atau keputusan memotong anggaran proyek tertentu demi alokasi yang lebih penting. Di sinilah “leiden is lijden” terasa: seorang pemimpin harus siap dicaci, dikritik, bahkan dikhianati, selama ia yakin bahwa yang dilakukannya adalah demi kemaslahatan bersama.
Haji Agus Salim sendiri pernah menghadapi situasi sulit ketika berdiplomasi dengan Belanda dan dunia internasional. Ia harus berdebat dengan pihak kolonial, meyakinkan dunia tentang hak Indonesia merdeka, sekaligus menjaga persatuan di antara sesama pejuang yang terkadang berbeda pendapat. Semua itu memerlukan mental baja dan kesediaan untuk “menderita” dalam menjalankan tugas.
Pemimpin vs Penguasa
Tidak semua orang yang berkuasa adalah pemimpin. Banyak yang hanya mengejar jabatan untuk keuntungan pribadi, bukan untuk melayani. Inilah yang membedakan pemimpin (leader) dengan penguasa (ruler). Seorang penguasa mungkin bisa memerintah dengan tangan besi, tetapi seorang pemimpin sejati memerintah dengan hati, kebijaksanaan, dan kesediaan berkorban.
Filosofi “leiden is lijden” mengajarkan bahwa kepemimpinan bukan tentang bagaimana orang lain melayani kita, tetapi bagaimana kita melayani orang lain. Rasulullah SAW bersabda: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Ibnu Majah). Ini berarti, semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar tanggung jawabnya untuk berbuat baik kepada rakyat.
Relevansi dalam Kehidupan Sehari-hari
Prinsip “memimpin adalah menderita” tidak hanya berlaku di tingkat negara atau organisasi besar, tetapi juga dalam lingkup kecil seperti keluarga, komunitas, atau bahkan kepemimpinan diri sendiri. Seorang ayah yang memimpin keluarganya harus siap bekerja keras demi mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. Seorang ketua RT yang baik harus rela repot mengurus masalah warga, meski tidak dibayar. Bahkan, memimpin diri sendiri pun butuh perjuangan—disiplin bangun pagi, menahan hawa nafsu, atau memaksa diri belajar hal baru.
Kesimpulan: Kepemimpinan sebagai Pengabdian
“Leiden is lijden,” frasa singkat yang diwariskan Haji Agus Salim ini adalah pengingat abadi bahwa memimpin bukanlah jalan untuk mencari kemuliaan duniawi, melainkan medan pengabdian yang penuh tantangan. Seorang pemimpin sejati harus siap menderita: menderita karena kritik, menderita karena beban tanggung jawab, menderita karena harus mengorbankan kepentingan pribadi.
Namun, justru di dalam penderitaan itulah terletak keagungan seorang pemimpin. Seperti emas yang diuji dalam api, kepemimpinan sejati terlihat ketika seseorang mampu bertahan dalam kesulitan dan tetap konsisten pada nilai-nilai kebenaran.
Maka, bagi siapa pun yang ingin menjadi pemimpin, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah saya siap menderita demi yang saya pimpin?” Jika jawabannya “tidak”, maka bersiaplah menjadi penguasa yang egois. Tapi jika jawabannya “ya”, maka Anda sedang menapaki jalan para pemimpin sejati—jalan yang pernah ditempuh oleh Haji Agus Salim, Bung Karno, Nelson Mandela, dan banyak lagi tokoh besar dunia.
“Leiden is lijden,” memimpin adalah menderita, tetapi justru di situlah letak kehormatannya.